
Shezan bergegas pergi mengajak Farras menuju pintu keluar. Ia menarik tangan Farras.
Tetapi Farras menahannya dan kemudian balik menarik Shezan. Ia menjatuhkan Shezan ke atas tempat tidur yang super empuk itu. Meski tidak sakit, tetapi berhasil membuat Shezan kaget.
Farras segera mengurung Shezan dengan kedua tangannya. Pupil matanya membesar menatap Shezan yang terperangkap di bawahnya.
Shezan bingung dengan apa yang dilakukan Farras, Apa dia marah nggak jadi tidur disini?
"Kamu marah?" Tanya Shezan ragu-ragu.
Farras bergeming, Ia tidak menjawab pertanyaan Shezan.
"Kau membuatku tidak bisa tidur." Bisik Faras, Ia mengingat saat pertama kali Shezan menggodanya, dan berakhir dengan ia menjadi tersangka pembunuhan.
"Aku merasa senang Kau menyentuhku." Bisik Farras, Ia mengingat saat Shezan menyentuh pipinya dipesawat.
Farras tersenyum,"Aku lebih mengkhawatirkanmu" Bisik Farras, Ia mengingat saat peluru melukainya.
"Kau membuat otakku tidak bekerja dengan baik," Bisik Farras.
Shezan hanya bisa diam mendengar Farras berbisik kepadanya. Ia tidak mengerti apa yang coba dikatakan suaminya. Ia menatap Farras mencoba mencari jawaban di wajahnya Farras.
Ekspresi bingung Shezan membuat Farras tidak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh istrinya pada area yang lebih luas lagi. Ia menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Shezan, bibirnya hampir menyentuh telinga Shezan membuat darahnya berdesir. "Canduku adalah menyentuhmu."
Mata Shezan membulat selebar-lebarnya mendengar bisikan Farras yang terakhir.
Farras kembali melihat wajah Shezan, membuat Shezan sadar akan sesuatu dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Ia menutup matanya, mengerutkan wajahnya, dan memalingkan wajahnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia tidak berani melihat Farras.
"Ayo pergi!" Seru Farras tiba-tiba, Ia sudah berdiri di tengah kamar menuju pintu keluar. Yang ternyata tidak melakukan apa-apa kepada Shezan.
Shezan membuka matanya, Ia melihat Farras sudah tidak lagi mengurungnya. "Ah.Iya!" Seru Shezan bernafas lega menyusul Farras.
Selama perjalanan menuju gedung Myrtle, keduanya tidak banyak bicara. Mereka larut dengan pemikiran masing-masing.
Bagitu tiba di Gedung Myrtle, Shezan bergegas keluar dari mobil Farras. Ia merasa sangat tidak enak dengan seniornya. "Aku masuk duluan ya." Ujar Shezan pamit kepada Farras.
Farras masih duduk di dalam mobilnya, Ia masih belum ingin beranjak keluar. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Jagdish.
"Aku ingin Kau mencari sebuah apartemen." Ujar Farras begitu Jagdish menjawab panggilannya.
Terdengar suara tawa Jagdish, "Untuk apa?Apa Anda ingin tinggal di sana?."
"Aku tidak bisa membiarkannya hidup di jalan." Ujar Farras datar.
"Apa? Maksud Anda Shezan?" Tanya Jagdish bernada kaget. "Mengapa?"
Farras langsung menutup teleponnya. Ia kemudian kembali menjalankan mobilnya.
***
__ADS_1
Malam harinya Farras memutuskan tidak pulang ke rumahnya, Ia tidak ingin melihat Shezan.
Shezan yang berpikir Farras adalah orang sibuk, mengingat tadi habis membicarakan hal penting dengan orang asing. Ia tidak berpikir suaminya tidak pulang karena tidak mau bertemu istrinya.
Keesokan harinya, pukul tiga sore, Aditya tetap setia menjemput Shezan, Ia seperti tidak ada kerjaan yang lain.
"Terima Kasih," Ujar Shezan melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Aditya begitu Ia sampai di perumahan tempat tinggal Farras.
Aditya menerima helmnya, "Besok libur Kamu mau ke mana?"
"ya? "
"Aku ada dua tiket nonton, Kalau kamu nggak kemana-mana.. "
"Sore mbak Shezan, " Suara Jagdish memotong perkataan Aditya. Ia tersenyum.
Keduanya menoleh ke asal suara.
"Ya? " Ujar Shezan,
Aditya melihat Jagdish dengan tatapan bertanya. Siapa orang ini?
"Oh ini keponakannya majikan Aku." Ujar Shezan memperkenalkan Jagdish kepada Aditya.
Jagdish tidak minta diperkenalkan mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Shezan.
"Oh, " Aditya tersenyum mengangguk ke arah Jagdish. "Ok Aku pulang dulu, nanti Aku hubungi balik ya, " Ujar Aditya.
"Saya keponakannya majikan mbak? hm.. " Sindir Jagdish.
Apa mereka benar-benar bertengkar lagi?
Ia menyusul Shezan. "Saya ke sini untuk memberikan ini."
Shezan menatap selembar surat yang diberikan Jagdish. "Apa ini?"
Shezan mengambil surat itu dan mencoba membaca judul surat itu.
"Itu surat keputusan, tugas mbak yang baru." Ujar Jagdish.
"Tugas yang baru?" Tanya Shezan heran.
"Tugas mbak saat ini adalah menjaga sebuah apartment,"
Shezan membaca isi surat keputusan tugasnya yang baru dengan serius, "Begitu,"
Shezan Kembali dibuat bingung, Mengapa sekarang Ia disuruh jaga apartment? . Karena malas berpikir, Ia memutuskan akan bertanya nanti kepada Farras.
Tugas barunya dimulai hari ini, artinya Ia sudah tidak perlu lagi memasak makan malam di rumah Farras. Tidak banyak barang yang Ia bawa, hanya sebuah koper dan mesin jahit.
__ADS_1
Ia menyentuh dan mengelus mesin jahitnya seperti mengelus kucing liar di jalan, "Apakah Aku menjadi orang yang serakah? berharap Ia menyukaiku, sementara Aku tidak menyukainya." Gumannya lirih.
Jagdish mengantar Shezan menuju tempat tinggalnya yang baru.
" Apa Pak Farras juga akan pindah ke apartmen?"
"Tidak, Farras tidak akan tinggal di sebuah apartment." Ujar Jagdish. Ia sedikit tertawa, mengingat Farras tidak bisa dilepas disembarangan tempat.
"Begitu, " Shezan memilih menatap jendela kaca Mobil, melihat pemandangan di luar, daripada harus berpikir.
Jagdish mengantar Shezan dan membantu membawa mesin jahitnya hingga ke dalam tempat tinggalnya yang baru. "Ini kartu akses nya, jangan sampai lupa dan hilang ya mbak." Ujar Jagdish memberikan kartu akses apartment kepada Shezan.
"Oh iya, tinggal ditempel saja kan? seperti ini."
Jagdish kembali tersenyum, Entah mengapa Ia khawatir meninggalkan Shezan sendirian, mengingat Shezan orang yang pelupa. Mereka bahkan mengganti kode kunci pintu rumah Farras dengan hari ulang tahun Shezan.
Dasar suami nggak punya akhlak. Jagdish mengumpat Bos nya yang tega mengusir istrinya.
Sepeninggalan Jagdish, Shezan mengendus endus menyium aroma apartment Farras, "Apa ini semuanya baru?" gumannya.
Ia menyeret kopernya masuk ke dalam, dan menatap kagum jendela kaca besar transparan di hadapannya menampilkan pemandangan gedung bertingkat, seolah jendela itu menyambut kedatangannya dengan tangan yang terbuka lebar, "Terbuka sekali, bisa dilihat orang nanti, harus ditutup."
Shezan melihat-lihat isi apartment yang harus dijaganya dengan baik dan benar.
***
"Jika mertua Shezan mengetahui menantunya terusir dari rumah, Dia pasti akan sangat murka." Ujar Jagdish yang tengah duduk di kursi pijat di ruangan Farras. Ia baru saja menjalankan tugas mengantar Shezan.
Farras acuh tak acuh mendengar komentar Jagdish, Ia sibuk dengan laptopnya.
"Apa yang terjadi?Anda menyukainya, dia juga sepertinya sudah menyukai Anda, bukan kah itu hal yang bagus?" Jagdish masih berkomentar meski entah Farras mendengarnya atau tidak.
Jagdish menghela nafas, "Shezan yang malang, bahkan dia tidak tahu telah dicampakkan oleh suaminya."
Kejam. ... kejam. ...
mengapa hatimu
sekeras batu...
Terdengar lantunan lagi Elvi Sukaesih menggema di ruangan Farras.
"Ya Hallo, mbak." Ujar Jagdish setelah mematikan lantunan lagu kejam tersebut.
"Saya lupa tanya, Saya tidurnya di mana?" Terdengar suara Shezan.
"Terserah mbak mau dimana, bebas mbak."
"Ini makanan di kulkas pajangan atau bisa dimakan?"
__ADS_1
"Bisa dimakan, mbak bebas mau ngapain aja kok, tugasnya mbak kan cuman jagain apartmentnya supaya nggak diambil orang. Sekarang banyak yang suka mengincar milik orang lain. Jadi mbak hati-hati aja." Tutur Jagdish panjang lebar.
"Oh iya, Oke." Shezan menutup teleponnya.