
Sebuah tempat yang setelah dilihat dengan baik, baru dapat dipastikan kalau itu adalah tempat untuk makan dan minum. Sebuah rumah kecil berdinding kaca, di depannya terpasang tulisan Bows Arrows Cafe & Resto. Rumah itu memiliki halaman yang cukup luas, dibatasi pagar setinggi satu meter yang dilingkupi tanaman merambat. Sore itu, bunga tanaman itu bermekaran. Terdapat beberapa meja dan kursi diletakkan di halaman rumah tersebut.
Shezan dan Aditya duduk di salah satu meja di halaman rumah tersebut.
"Gado-gado sama teh pahit panas Bang," Ujar Shezan tanpa melihat buku yang bertuliskan menu.
Pelayan cafe itu tersenyum meski Shezan tidak melihat ke arahnya, "Gado-gado, tidak ada kak. nggak coba menu Mushroom kita kak?" Pelayan itu menunjukkan menu Mashroom kepada konsumennya.
"Oh iya, yang ini saja." Ujar Shezan menunjuk asal.
"Kamu habis dimarahi Bos?" Tanya Aditya, setelah pelayan itu pergi membawa catatan pesanan mereka dan buku menu nya.
"Kelihatan ya?" Tanya Shezan,
Aditya sedikit tertawa, "Nggak, Aku cuman nebak aja. emang beneran?"
Shezan meletakkan keningnya di meja, "Nggak," Ujarnya putus asa.
Aditya tersenyum membiarkan gadis di depannya melampiaskan kefrustasiannya dengan caranya sendiri. Ia masih sama seperti dulu. Bisik Aditya dalam hati.
Ia tidak heran Shezan selalu mengabaikan pesan darinya. Namun sekarang Shezan terlihat sedikit banyak berubah.
Ia teringat bagaimana sosok Shezan delapan tahun lalu.
...~Sekitar 8 tahun sebelumnya~...
Beberapa mahasiswa sedang duduk di dalam kelas. Mereka tampak asyik bercerita dengan kelompoknya masing-masing. Di antara mereka tampak Aditya sedang asyik bercerita dengan temannya. Ini bukan kelasnya, Ia hanya melalak menemui temannya di fakultas tetangga.
Tak lama kemudian, dosen yang akan mengajar di kelas itu masuk, membuat seluruh mahasiswa menghentikan cerita mereka dan duduk dengan rapi di bangku masing-masing. Tak terkecuali Aditya. Ia ikutan duduk rapi dan mengikuti perkuliahan hingga selesai.
Begitu perkuliahan selesai, semua mahasiswa satu persatu meninggalkan kelas. Aditya dan temannya menjadi yang terakhir meninggalkan kelas. Tidak, Masih ada satu mahasiswi yang masih duduk tidak beranjak dari kelas itu.
Awalnya, Aditya berpikir Ia melihat penampakan hantu wanita penunggu kampus. Kerena Ia seperti tidak terlihat oleh mahasiswa lain. Sosok itu menarik perhatian Aditya. Pakaiannya berbeda dengan mahasiswi- mahasiswi lain saat itu, Ia berpakaian seperti mahasiswi lima tahun lalu dari waktu itu.
Aditya berpikir, gadis yang dilihatnya adalah penampakan dari sosok mahasiswi yang pernah hidup dan kuliah di kampus lima tahun lalu. Ia semakin sering main ke fakultas tetangga untuk mendapati sosok penampakan, dan mengikutinya. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan hantu wanita penghuni kampus.
Aditya melihat dari jauh, gadis itu duduk di bangku taman kampus memakan bekalnya sembari melihat kolam, gadis itu duduk membaca buku di perpustakaan, gadis itu berjalan di koridor halaman perpustakaan hingga kepalanya terantuk tiang koridor. Aduh!
Barulah Aditya sadar sosok yang dilihatnya bukan hantu. Hantu bisa nabrak tiang?
Gadis itu mengangkat kepalanya dan membereskan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu adalah Shezan yang masih terlihat sedikit kusam dan dekil.
"Manis," Guman Aditya yang akhirnya melihat wajah dari sosok yang selama ini Ia kira hantu.
Entah mengapa mengikuti Shezan sudah menjadi rutinitasnya di saat Ia sedang tidak ada jam kuliah.
...~kilas balik Break sebentar~...
"Oh Aku pigi sholat dulu," Seru Shezan mengangkat kepalanya dari meja. Ia membuyarkan lamunan Aditya.
__ADS_1
Tak ada suara, mereka tidak banyak bercerita. Hanya menikmati makanan mereka masing-masing.
"Habis ini kamu mau aku antar kemana?" Tanya Aditya memulai kembali pembicaraan.
"Kamu mau langsung pulang?" Shezan balik bertanya.
"Hmm kalau kita ke pasar malam gimana?"
Shezan berpikir sebentar, "Pasar malam? kamu mau beli sayur?"
"Kamu belum pernah ke pasar malam?"
Shezan menggeleng, "Ke pasar sore."
Aditya tersenyum senang, Ia bisa lebih lama lagi menghabiskan waktu bersama Shezan.
***
"Ini pasar malam?" Tanya Shezan begitu mereka sampai di sebuah halaman terbuka, ada banyak penjual makanan dan minuman ringan, benda aksesoris, beberapa wahana permaianan.
"Iya, kamu mau coba?" Tanya Aditya menunjuk salah satu wahana permainan. Bianglala. Biar bisa berduaan dengan Shezan.
Shezan menggeleng ngeri, "Belum siap mati saya."
Aditya sedikit tertawa, "Kamu takut?"
"nggak, cuman belum siap mati aja. Gimana nanti kalau tiang besi nya lepas? trus jatuh, kan cari mati itu." Ujar Shezan memberi alasan.
Aditya menoleh ke arah telunjuk Shezan, "Rumah hantu?"
Shezan mengangguk, "Iya, lebih aman."
"He.. he..yang lain aja deh." Aditya menggaruk kepalanya.
Akhirnya mereka menaiki komedi putar.
"Aa..aku harus pulang, tapi nggak mau pulang." Ujar Shezan kembali putus asa.
"Kenapa?" Tanya Aditya, Ia berharap gadis di depannya mau bercerita tentang dirinya.
Shezan menghela nafas, dan menundukkan kepalanya frustasi, "Aku malu..."
"Mengapa?"
Shezan mengangkat kepalanya dan melihat sipenanya. Mengapa Aku harus cerita kepadanya?
"Nggak apa-apa, pulang ajalah lagi abang ojol." Shezan beranjak pergi meninggalkan pasar malam.
Aditya hanya bisa tertawa, Shezan memanggilnya abang ojek online.
__ADS_1
"Cerita aja biar kamu gak bermuram durja, Aku bisa menyimpan rahasia dengan baik. Janji."
Shezan kembali melihat ke arah Aditya, dengan tatapan menyelidik, "Kamu pernah ngata-ngatain atasan?"
"Hah? kamu benaran habis dimarahin bos?"
"nggak dimarahin, Aku cuman merasa hidupku nggak berguna." Ujar Shezan putus asa. Menyesal Ia sudah omong besar dengan Farras, kenyataannya dia memang tidak memiliki kemampuan untuk menjadi seorang designer.
"Yok, kita naik bianglala aja, mana tahu lepas besi nya." Seru Shezan kembali bersemangat.
"Kamu mau ajak saya mati bunuh diri bersama?" Tanya Aditya datar.
"Aa... Iya..Ya sudah kamu pulang saja, saya mau naik Bianglala, trus berdoa besi nya lepas." Ujar Shezan putus asa.
"Kamu bercanda kan?" Tanya Aditya hati-hati.
Shezan terdiam sebentar, dan merubah pikiranya. "Ya sudah, Ayok pulang." Ujar Shezan kemudian melangkah beranjak pergi meninggalkan pasar malam.
Aditya berjalan mengikuti Shezan, "Semua orang hidupnya berguna kok, tidak berguna di satu tempat bukan berarti kamu tidak berguna di tempat lain." Ujar Aditya mengiringi langkah Shezan.
Shezan menghentikan langkahnya mendengar perkataan Aditya, "Maksudnya Aku harus ganti profesi?"
"nggak juga, mungkin tempat nya aja yang ganti." Ujar Aditya.
Sesamlainya Mereka di pakiran motor, Aditya memberikan helm kepada Shezan.
Shezan memakai helm itu tanpa memasang talinya. Aditya yang melihat nya langsung mendekati Shezan dan berinisiatif sendiri membantu Shezan memasangkannya. Terkejut dengan Aditya yang menyentuh tangannya tiba-tiba, Shezan mundur menghindari tangan Aditya.
"Maaf."
"Aku bisa pasang sendiri."
"Maaf."
Aditya mengantar Shezan pulang dengan selamat. Shezan tidak turun di depan rumah Farras.
"Kamu tinggal di dini?" Tanya Aditya sedikit heran melihat perumahan mewah di depannya.
"Nggak, cuman numpang. Aku kerja di sini, jadi tukang masak. he.. he.." Ujar Shezan.
"Syukur lah kamu udah nggak sedih lagi. Semangat!" Ujar Aditya tersenyum, melihat Shezan sudah bisa sedikit tertawa.
"Terima Kasih. Kamu hati-hati. "
"Oke sampai besok." Ujar Aditya dan berlalu meninggalkan Shezan.
Shezan menatap kepergian Aditya, Ia kembali bermuram durja berjalan menuju rumah Farras. Ia tidak tahu harus bagaimana. Seharusnya Ia tidak banyak bicara, terima saja kenyataan dari awal dipecat. Kenyataannya Ia memang tidak berkompeten.
Ia berhenti dan berdiam diri sebelum memutuskan untuk membuka pintu rumah tersebut. Andai saja punya ilmu menghilang.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, Farras yang sedang membaca buku di ruang baca nya, melihat Shezan yang berdiri di depan rumah dari layar laptopnya.
***