
Keesokan paginya Farras terdiam melihat susunan pakaian di closet nya. Pakaiannya yang hanya terdiri dari tiga warna, hitam, abu-abu, dan biru sudah tersusun rapi berdasarkan warnanya. Mulai dari tua ke muda.
Ia teringat susunannya pernah tidak teratur, dan sekarang kembali teratur. Sekilas Ia mengukir senyum di wajahnya, mengingat Shezan yang sembarangan melakukan tugasnya. Apa masalahnya? kan warnanya sama-sama hitam. Ujar Shezan yang protes dirinya diprotes karena menyusun baju Farras tidak berurutan berdasarkan tingkat saturasinya.
Selepas kepergian Shezan, Ia kembali ke kehidupannya semula yang serba teratur. Ia pergi bekerja dengan teratur. Jagdish masih tetap setia menjadi asistennya.
***
Di gedung Myrtle Jagdish sebenarnya memiliki ruangan sendiri, namun Ia sering bermain di ruangan Farras.
Di ruangannya itu, Jagdish mendapatkan kabar dari salah satu penjaga apartemen bahwa Shezan sudah dua malam tidak kembali ke apartemen. Meskipun Farras tidak memberikannya perintah untuk mengawasi Shezan. Jagdish melakukannya atas inisiatif sendiri.
Ia tidak bisa mengharapkan Bos nya akan peduli dengan perasaan istrinya, karena Ia tahu bos nya juga tidak punya perasaan.
Jagdish mencoba menghubungi nomor Shezan, namun tidak aktif. Ia tersenyum, "Aku benar-benar tidak ingin Kau menyesal di kemudian hari," Gumannya kemudian.
Sepertinya Ia tahu kemana gadis itu pergi, Shezan tidak memiliki teman lain selain Nina.
Sementara di ruangan lain, terlihat Shezan sedang mengerjakan desain baru. Namun di kepalanya, otaknya sedang berpikir. Apa pergi ke ruangan orang itu, untuk menanyakan mengapa disuruh jaga apartemen? Pikir Shezan.
Namun pemikiran lain menentangnya. Bagaimana jika benar kamu adalah ratu yang digulingkan? Shezan membayangkan dirinya di seret pergi oleh dua orang berjas hitam dan memakai kacamata hitam ketika mencoba masuk ke ruangan direktur.
Shezan menggelengkan kepalanya, tidak ingin hal itu terjadi. Ia memutuskan tidak jadi pergi mendatangi Farras di ruangannya.
Sementara itu di rumah Farras, Asisten rumahnya Farras menatap heran susunan pakaian Farras yang kembali tidak teratur, "Apa Shezan sudah balik kerja di sini?" Gumannya tidak mengerti.
***
Dari pagi sampai sore, tidak ada hal istimewa yang dilakukan Farras. Karena hidupnya memang monoton begitu- begitu saja.
Setelah Jagdish mengantar Farras pulang ke rumahnya. Ia pergi menemui Nina di tempat kerja part time nya.
Di sebuah ruangan, Nina menatap Jagdish yang duduk di depannya. Ia mengenal Jagdish adalah asisten dari suami abstrak nya Shezan. Tetapi Ia tidak mengenal kalau Jagdish adalah bos nya di tempat kerja part time nya saat ini.
"Ada apa ya Pak?" Tanya Nina.
"Apakah Kamu mengenal Nona Shezan?." Tutur Jagdish. Yang berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Iya Pak," Jawab Nina
Apa dia mencari Shezan? Bukannya Shezan masih bekerja di Myrtle? Pikir Nina.
"Bisa Kamu memberikan nomornya?" Tanya Jagdish, Ia tidak bisa langsung menemui Shezan di ruangannya.
"Maafkan saya Pak, Saya harus bertanya dulu dengannya."
Jagdish menyetujuinya, dan nina langsung bertanya kepada Shezan. Namun karena Shezan masih sibuk berpikir, Ia tidak mengetahui ponselnya ada pesan masuk.
"Maaf Pak, sepertinya teman saya tidak menyetujuinya."
Jagdish tersenyum, "Baiklah, Kalau begitu saya ingin kamu bekerja kepada saya."
"Saya udah kerja jadi pegawai bapak." Tutur Nina mengingatkan, mana tahu bos nya lupa.
"Bukan, maksud Saya, Saya ingin kamu melaporkan kepada Saya, apa saja yang direncanakan, dilakukan Nona Shezan." Ucap Jagdish, Karena sepertinya Ia mencurigai sesuatu. Mengingat Shezan yang meninggalkan apartemen, mengganti nomornya, dan tidak ingin memberikan nomornya.
"Bapak ingin saya menjual teman Saya!" Tuduh Nina.
Jagdish tersenyum, "Sepertinya kamu sudah mengatahui mengapa saya meminta hal ini kepada kamu."
"Baiklah, saya tidak tahu apa yang kalian pikirkan tentang Pak Farras. Saya juga tidak bisa menjelaskan. Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan saya." Ucap Jagdish yakin karyawannya mau diajak kerja sama.
"Jika saya tidak mau, apa bapak akan memecat saya?"
"Saya tidak akan memecat kamu. Tetapi jika kamu mau bekerja sama, Saya akan membayar untuk sebuah informasi,"
"Kalau begitu, Maaf Pak, Saya tidak mau!" Seru Nina.
"Kalau Saya mengancam akan memecat kamu?"
"Saya tunggu surat pemecatan dan pesangon dari bapak." Ujar Nina, Ia berdiri dari duduknya. "Maaf Pak, saya harus kembali berkerja. Permisi." Ucapnya kemudian dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Jagdish tersenyum menatap kepergian Nina, "Apa seharusnya Aku menggodanya saja terlebih dahulu?" Gumannya. Mengingat dirinya adalah Casanova sejati, tidak ada yang bisa menolak pesonanya.
Sementara itu Nina yang baru keluar dari ruangan introgasi itu langsung disambut oleh manajer Coffee shop dan beberapa karyawan lain.
__ADS_1
"Mengapa Pak Jagdish memanggilmu?" Tanya menejer tersebut. Mengingat bos mereka jarang dan hampir tidak pernah datang ke coffee shop, Tiba-tiba datang langsung menemui Nina.
Nina menyengir, "Pak Jagdish ngajak saya nikah, Ya Saya tolak " Jawab Nina bercanda.
Manejer tersebut ikut tertawa menanggapi candaan Nina, "Kenapa? hehe."
"Na.. Na.." Ujar Nina mengerakkan kepalanya, "Nahi, Saya bukan fans Bollywood." Ujarnya kemudian. Dan kemudian bersenandung ria, "I wanna dance, The music's got me going, Ain't nothing that can stop how we move, yeah, Let's break our plans, And live just like we're golden."
"Noona sarange!" Seru salah satu karyawan kepada Nina. Dan lagu BTS pun di putar di coffee shop mereka.
Di sudut lain, Jagdish yang mendengar obrolan mereka sejak tadi hanya bisa menghela nafas melihat perilaku para bawahannya. "Lollywood, not Bollywood," Gumannya dalam hati tidak terima.
***
Keesokan sorenya sepulang kerja, Shezan mengajak Aditya untuk bertemu. Mereka bertemu di sebuah Cafe. Tentu saja Aditya sangat bersemangat, Shezan pada akhirnya mengajaknya untuk bertemu.
"Apa kabar? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Aditya kepada Shezan yang duduk di depannya
"Baik, Aku mengajak bertemu karena ingin menyampaikan permintaan maaf" Ujar Shezan. Ia menundukkan kepalanya. Tidak berani menatap lawan bicaranya.
Permintaan maaf Shezan membuat Aditya bingung, "Mengapa? bukankah seharusnya Aku yang minta maaf sama kamu."
"Maaf, Sebenarnya Aku sudah menikah. Maaf tidak memberitahukanmu sebelumnya." Ujar Shezan membuat Aditya terdiam untuk beberapa saat.
"Farras Cakrawangsa?" Tanya Aditya.
Shezan mendongak melihat Aditya, "Kau tahu?" Tanya Shezan kaget.
Aditya tersenyum, "Tidak, hanya menebak saja, ternyata benar."
Shezan melihat Aditya dengan tatapan bingung, Mengapa Aditya menebak dengan benar.
"Aku tahu Kamu tinggal di rumahnya," Aditya menjawab kebingungan Shezan. Meskipun Shezan tidak turun di depan rumah Farras, tetapi Aditya mengikuti tanpa sepengetahuan Shezan.
Shezan kembali menunduk, Ia sekarang adalah seorang terdakwa pelaku kejahatan, "Maaf, Aku sudah berbohong mengenai berkerja di rumah majikan," Ujarnya lirih.
Aditya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, berharap Ia dapat duduk lebih santai, "Mengapa Kamu memberitahukan hal ini kepadaku sekarang?Apa Kamu berpikir Aku menyukaimu dan mendekatimu saat ini?" Tanya Aditya, Ia tersenyum menunggu jawaban Shezan.
__ADS_1
Shezan mengangguk kecil, "Iya, Jadi bukan?"
Aditya tertawa mendengar jawaban Shezan, "Hahaha, tentu saja iya." Ujarnya, Ia menatap gadis di depannya lekat, "Aku menyukaimu." Ucapnya tanpa ragu.