Finding Miss Right

Finding Miss Right
min2


__ADS_3

Farras tersenyum bahagia setelah mengetahui dirinya masih tetap seorang muslim, Ia tidak pernah mengikari kepercayaan yang dianut Ayahnya.


Yang perlu dilakukannya hanyalah bertobat, Meski Ia masih tidak peduli dengan surga dan neraka yang dikatakan Shezan. Masuk surga atau neraka asalkan masuknya barengan dengan Shezan. Entah sejak kapan penyakit cintanya sudah mulai kronis.


Omelan Jagdish menjadi bahan bakarnya untuk membunuh asistennya itu. Tetapi sekarang Ia menyukai setiap omelan Shezan.


Setelah melihat keseriusan Farras, Shezan akhirnya yakin untuk menerima Farras sebagai suaminya.


Ia memutuskan untuk berhenti bekerja di Myrtle, Ia memiliki ruang kerjanya sendiri untuk berkarya. Farras kembali menyulap kamar Shezan menjadi bengkel jahit.


****


Meskipun Ia sudah tidak bekerja lagi di Myrtle, Shezan tetap sesekali pergi ke gedung itu menemui Farras. Suaminya masih dalam masa training.


"Mama.? " Ucap Shezan sedikit terkejut bertemu dengan Ibu mertuanya saat hendak memasuki lift.


"Kebetulan sekali mama sedang mencarimu." Ujar Amelia berbohong, Sebenarnya Ia juga sama terkejutnya dengan Shezan. Karena bertemu dengan menantunya tiba-tiba.


"Mencariku?" Tanya Shezan bingung.


Pintu lift terbuka di lantai dasar, Amelia segera menggandeng tangan Shezan dan membawanya pergi. Ia ingin berbicara serius dengan menantunya.


"Kita mau ke mana Ma.?" Tanya Shezan bingung.


" Tentu saja ke rumah mama." Ujar Amelia tersenyum senang.


"Bentar Ma, Shezan Ijin dulu."


"Anggap saja mama menculik kamu."


"Baik." Ujar Shezan pasrah mengingat Ibu mertuanya lebih galak dari suaminya. Meskipun sekarang dia lebih galak dari suaminya.


***


"Mama sebenarnya tidak ingin bertanya, tetapi mama ingin bertanya. Bagaimana? Apa kamu sudah hamil?" Tanya Amelia begitu mereka tiba dirumahnya.


Shezan terdiam mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Ia sudah mengira semua Ibu mertua pasti sangat mengharapkan cucu.


Shezan menggeleng, "Belum."


"Begitu ya." Ujar Amelia. Ia tampak memikirkan sesuatu. Ia masih mencurigai kenormalan putranya.


"Kamu harus lebih berusaha ya." Celoteh Amelia menyemangati Shezan agar lebih maksimal menggoda putranya.

__ADS_1


"Iya Ma." Ujar Shezan bersikap sopan.


Amelia menatap Shezan intens, "Sepertinya dia anak yang baik." Pikirnya dalam hati.


"Sampai sekarang mama tidak mengerti mengapa Farras membawamu ke rumahnya, dan menikahimu. Mama tahu Kalian belum melakukan itu, Apa kamu baik baik saja?" Tanya Amelia khawatir menantunya akan menderita karena tidak mendapatkan nafkah batin dari putranya. Ia tidak tahu kalau putranya yang sering berpuasa, namun hal itu bukan godaan besar bagi Farras. Otak kirinya lebih mendominasi daripada organ reproduksinya.


"Saya baik baik saja Ma." Ujar Shezan yang memahami dia dalam kondisi sehat walafiat.


Bentar bentar..ini maksud mama belum melakukan apa? buat anak? apa perlu disampaikan kalau bahan bakunya udah dimasukkan, tinggal nunggu hasilnya?


"Mama menyukaimu, mama harap kamu bisa bertahan dengan putra mama. Farras itu sejak kecil tidak suka berbicara dengan orang lain. Dulu ada seseorang anak kecil yang menjadi temannya. Farras mau berbicara dengannya." Ujar Amelia mengingat tentang masa kecil putranya.


"Oh iya waktu itu Shezan melihatnya Ma, album di kamarnya Mas Farras."


"Sebentar, " Ujar Amelia. Ia beranjak pergi ke kamarnya, dan tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah album. "Foto ini diambil diam diam, Bahkan Farras tidak tahu dengan foto ini." Ujar Amelia antusias ingin menunjukkan album itu kepada Shezan.


Shezan melihat foto masa kecil Farras yang diambil secara diam-diam. "Mengapa mama tidak ada disini?"


"Itu karena mama dulu tidak tinggal dengan Farras. Waktu itu mama terlalu sibuk. Farras hanya tinggal dengan beberapa pembantu." Tutur Amelia sendu.


Shezan hanya mengangguk pelan mendengar penjelasan mertuanya. Ia tidak berani banyak bertanya.


"Kamu tidak bertanya mengapa Mama tidak tinggal dengan Farras?" Tanya Amelia, Sebenarnya Ia tidak ingin banyak cerita tentang putranya. Tetapi Ia ingin Shezan mau memahami putranya.


"Mama tidak ingin Ayahnya mengambil Farras, jadi Mama menyembunyikannya di sebuah rumah di Desa Sigara." Ujar Amelia, Ia menghela nafas berat.


"Ternyata dia memang mengira Aku adalah orang yang dia kenal." Pikir Shezan yang baru mengetahui ternyata Farras pernah tinggal di desa yang sama dengannya.


Amelia menggenggam tangan Shezan yang mendengar ceritanya dengan serius, "Shezan mama harap Kamu jangan seperti mama, tetaplah berada di samping Farras baik senang maupun duka."


"Iya, " Ujar Shezan, sebelum mertuanya, suaminya terlebih dahulu menetapkan hal itu.


Shezan kembali membalik halaman album tersebut. Ia melihat foto anak kecil bersama Farras.


"Nah ini dia temannya Farras. " Ujar Amelia memberi informasi.


Tunggu sebentar.., Apa anak kecil ini adalah Aku? tapi tidak mungkin.


Shezan mengambil ponselnya dan memfoto fota anak kecil tersebut. Ia harus memastikannya.


"Ma, Maaf tiba-tiba Shezan teringat ada urusan mendadak. Shezan harus pamit pergi."


"Oh begitu, biar kamu di antar saja sama supir mama."

__ADS_1


Shezan menolak tawaran ibu mertuanya, karena sesuai titah Farras, kemana pun Ia pergi harus diantar oleh Andrew.


Shezan mengunjungi rumah ibu tirinya, mungkin Ia bisa mendapatkan foto kecil nya. Meskipun Ia belum siap untuk menemui Ibu tirinya.


Shezan terasa canggung mengetuk pintu rumah Ibu tirinya, mengingat dulu Ia adalah anak yang kabur. Namun saat ini Ia harus siap bertemu dengan Ibu tirinya. Sekarang Ia sudah memiliki uang, Jika Ibu tirinya menuntut ganti rugi kepadanya.


Belum sempat Shezan mengetuk pintu rumah tersebut. Pintu tersebut tiba-tiba dibuka oleh seorang wanita paruh baya dari dalam. Shezan sedikit mundur menjauh, Ia tahu wanita itu adalah Ibu tirinya. Ia belum siap bertemu dengan Ibu tirinya.


Apa pura pura salah alamat saja.


"Maaf, Saya salah alamat." Ujar Shezan berbalik dan hendak kabur.


"Shezan?" Wanita itu menyebut namanya, suaranya menghentikan langkah Shezan.


Shezan berbalik lagi, "Ibu."


"Kamu benar Shezan," Wanita itu berjalan mendekati Shezan.


"Iya, Shezan datang ke sini karena ingin minta maaf."


"Kamu membuat saya harus menjual rumah ayah kamu."


"Shezan akan menebusnya." Ujar Shezan sungguh-sungguh.


"Apa kamu sudah memiliki uang banyak sekarang?"


"Sudah." Jawab Shezan yakin.


Wanita paruh baya itu sedikit tertawa, "Kalau begitu mari kita lupakan apa yang terjadi di masa lalu. Kamu pasti lelah. Masuklah."


Dengan semangat Shezan mengikuti Ibu tirinya masuk ke rumahnya. Shezan mengamati isi di dalam rumah Ibu tirinya. "Di mana Lila dan lisa?" Tanya Shezan menanyakan saudara tirinya. Ia tidak melihat keberadaan mereka.


"Mereka sudah menikah, dan tinggal dengan suaminya."


"Apa menikah dengan duda anak empat?!" Tanya Shezan histeris.


"Kamu pikir Saya akan menyerahkan putriku untuk menggantikanmu?"


Shezan menggeleng, Ia mengeluarkan amplop yang berisi uang dari dalam tas nya, dan menyerahkannya kepada Ibu tirinya. "Ini, Permintaan maaf Shezan." Ujarnya terdengar tulus.


Wanita itu mengambil amplop tersebut, namun Shezan menahan amplop itu, "Ada yang ingin Shezan tanya."


"Apa?" Tanya wanita itu tidak sabar ingin menerima uang tersebut.

__ADS_1


"Apa dulu waktu kecil Shezan pernah difoto?"


"Ibu tidak begitu ingat." Jawab wanita itu.


__ADS_2