
Shezan meletakkan barang-barangnya dengan malas di bagasi mobil Farras, setelahnya dengan malas berjalan ke pintu penumpang bagian depan mobil Farras dan membuka pintunya dengan malas, duduk di dalamnya juga dengan malas. Namun menutup pintunya dengan semangat.
Blam!
Farras tampak tidak peduli jika Shezan berniat menghancurkan mobilnya, berarti mereka memiliki hobi yang sama.
"Apa yang kamu suka?" Tanya Farras memulai pembicaraan, dan mulai menjalankan mobilnya.
"Tidak ada." Jawab Shezan datar, Ia menatap trotoar jalan.
"Pilih satu, Berlibur ke Afrika, Asia, Eropa?" Tanya Farras mencoba memberi tawaran perdamaian, gencatan senjata.
Shezan memasang telinganya dengan baik, telinganya mencoba meneruskan informasi tersebut ke otaknya, membujuk dan mempengaruhi otaknya. Keliling dunia? Pikiran Shezan mulai goyah. Eropa, Eropa saja. Athena!
Tunggu sebentar... jangan terpengaruh.!
Shezan melirik Farras sekilas dan kembali berpaling, "Hem!." Ujarnya mencoba angkuh. Ia menunjukkan kepada Farras bahwa Ia sama sekali tidak tertarik dengan tawaran perdamaian dari Farras. Mengingat Farras lama lama sudah seperti kompeni belanda. Bolak balik ajak damai, terus menyerang lagi tiba-tiba.
Pasti nanti Aku bakal ditinggal di negeri orang, jadi gelandangan di sana.
Farras tersenyum melirik Shezan sekilas, "Antartika?"
"Liburan ke Antartika?" Ujar Shezan bersemangat tanpa pakai acara mikir, melihat ke arah Farras yang tengah mengemudi.
Ditinggal di Antartika tidak apa-apa, biar berkawan dengan pinguin.
"Kamu ingin berlibur ke sana?"
"Iya, kita akan ke sana?" Tanya Shezan dengan mata berbinar-binar. Seakan Ia lupa dengan kegalauan dan kegundahan hatinya.
"Tidak. Mengapa kita harus ke sana?"
"Mengapa Kau menyebut Antartika?" Tanya Shezan datar, dengan raut muka tidak senang.
"Aku hanya menyebut Antartika, tidak ingin pergi ke sana."
".... "
Sudahlah tidak perlu bicara lagi dengan orang ini.
"Shezan Afifah, Aku tidak bisa selalu ada bersamamu, tetapi kamu harus selalu ada bersamaku." Ujar Farras tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depannya.
"Apa maksudnya itu?" Guman Shezan dalam hati.
Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di rumahnya Farras.
Lagi-lagi Farras meninggalkan Shezan membawa barang-barangnya sendiri. Sementara Shezan terlalu gengsi meminta bantuan Farras. Dari awal Ia memang tidak pernah meminta sesuatu kepada suaminya.
Dengan malas Ia membawa barang-barangnya menuju kamarnya. Namun begitu Ia masuk ke kamarnya, pemandangan yang dilihatnya sudah berubah. Ia mencari cari tempat tidurnya, tetapi Ia tidak menemukannya.
"Bagaimana? Apa kamu menyukai ruang ini?" Tanya Farras dari depan pintu kamar Shezan. Ia bersedekap melihat kembali interior ruang kerja untuk Shezan dengan bangga. Mengira Shezan sedang terkesan.
"Apa tuan menyuruh Saya tidur di lantai?" Tanya Shezan sopan.
"Kamu tidur di tempat tidurku." Ujar Farras dengan tenang.
"Apa?! Tidak Mau!" Seru Shezan dan bergegas mau kabur. Ini pembohongan publik.
__ADS_1
Shezan kembali menyeret kopernya keluar dari kamarnya, Ia harus segera kabur dari rumah Farras.
"Aku menyukaimu. Bukankah Kamu mengatakan jika Aku menyukaimu, maka kita bisa tidur bersama." Ujar Farras menghentikan langkah Shezan.
Shezan berbalik menghadap Farras, "Kau menyukaiku?" tanya Shezan.
"Iya."
"Dia langsung mengatakannya begitu saja dengan tenang. Kok Aku nggak percaya ya." Pikir Shezan.
"Aku sudah menyediakan space untuk pakaianmu, Kamu bisa menyusunnya di atas." Ujar Farras tersenyum. Ia harus belajar berbagi ruangan.
"hah?"
"Kamu susun nanti saja, Kamu masak dulu. Aku lapar." Ujar Farras tanpa menunggu persetujuan Shezan. Ia berjalan pergi ke tangga, menuju ruang kerja merangkap perpustakaannya.
"hah?"
Beruntung kamar mandirnya masih ada di kamarnya, belum dihilangkan Farras. Ia masih bisa mandi dan berganti pakaian disana.
***
Shezan memasak bahan yang ada di kulkas Farras. Kulkas yang terisi penuh bahan makanan. Sebenarnya tanpa kehadiran Shezan, urusan rumah tangga Farras sudah ada pekerja profesional yang tak terlihat oleh Farras bekerja di rumahnya.
Sejak Ia memberhentikan Aynan, Farras menjadi terbiasa dengan masakan Shezan.
"Baiklah setelah selesai memasak Aku akan langsung kabur." Guman Shezan sembari memotong wortel. Hari ini Ia terlalu malas untuk memasak. Jadi lebih mudah membuat nasi goreng.
Mengapa tidak kabur sekarang saja?
"Benar juga. Kabur sekarang saja." Guman Shezan, Ia meletakkan pisaunya di atas telenan. Dan mencoba membuka celemeknya.
Pikiran baik Shezan datang mempengaruhinya, Ia pun kembali meneruskan memasak makan malam. Nasi goreng, wortel, kacang polong, kismis, irisan daging, telur. Serat, protein, karbohidrat jadi satu.
Selesai menghidangkannya di atas meja, Ia segera menyeret kopernya dan melarikan diri.
"Kamu ingin pergi ke mana?" Tanya Farras yang sudah berdiri di pertengahan tangga rumahnya.
"Kembali ke kosan temanku." Ujar Shezan, mencoba mengungkapkan kemauannya.
"Makanlah. Aku akan mengantarmu setelah selesai makan." Ujar Farras bernada lembut, mencoba membujuk istrinya.
"Oke,"
Diam tanpa suara. Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara. Farras terlihat tenang tanpa beban pikiran, sementara Shezan dipenuhi dengan banyak pikiran.
Selesai makan, Shezan masih tetap membersihkan meja makan dan dapur, mencuci piring. Susah untuk menghilangkan kebiasaan
"Sudah selesai?" Tanya Farras yang sedari tadi menunggui nya.
Shezan menjawab pertanyaan Farras dengan anggukan. Ia mengambil kopernya. Apakah orang ini bersedia mengantarku semudah ini?
"Ayo!" Farras menggenggam tangan Shezan dan membawanya pergi naik ke tangga rumahnya.
"Loh bukannya kau mau mengantarku?"
"Iya, Aku akan mengantarmu ke kamarku." Ujar Farras tersenyum senang.
__ADS_1
Shezan menatap Farras dengan tatapan tidak senang. Ia lupa orang seperti apa Farras, yang setiap inci omongannya tidak bisa dipercaya.
"Lepaskan tanganku! Aku tidak mau."
Farras melepaskan tangannya Shezan. "Mengapa?"
"Aku tidak mencintaimu!, Jadi kita tidak bisa tidur bersama." Ujar Shezan jujur. Ia tidak mau karena sudah mengetahui tidur bersama suami istri adalah kegiatan bercocok tanam.
Ia tidak berani melihat Farras. Dulu mungkin Ia akan sukarela menyerahkan dirinya karena tidak berpikir apa-apa. Namun sekarang Ia berpikir Farras tiba-tiba datang membawanya pulang karena ingin mengambil sesuatu darinya dan lalu akan membuangnya seperti sampah.
Farras terdiam sesaat mendengar pengakuan Shezan, "Jadi waktu Kau mengatakan mencintaiku, Kau berbohong?" Tanya Farras dingin dan sorot mata tajam.
"Aku hanya asal bicara." Ujar Shezan berjalan mundur menjauh dari Farras, Ia menunduk dan memalingkan wajahnya. Ia takut Farras akan sangat marah dan melakukan sesuatu kepadanya.
Kau berani membohongiku
Farras berjalan mendekati Shezan yang tampak gemetar ketakutan. Ia membungkuk dan mensejajarkan matanya dengan wajahnya Shezan. Ia ingin melihat wajah Shezan yang ketakutan lebih jelas. Farras tersenyum menyeringai, "Gadis kecil sepertimu ingin bermain denganku ya." Ujarnya dengan tenang.
Shezan mengangkat wajahnya, melihat lawan bicaranya. Ada kemarahan yang tertahan di sorot mata Farras. Jika biasanya Farras yang cerewet mengkritik pekerjaannya, Ia masih bisa menjawab. Tapi sekarang, jangankan bersuara, menjawab dalam hati saja Shezan tidak punya nyali.
Farras mencengkram rahang Shezan dan tersenyum melihat wajah Shezan yang memerah. Cengkraman telapak tangan Farras sangat kuat menghambat sirkulasi darah di wajah Shezan. Tangan itu siap meremukkan rahangnya, membuat bulir air mata lolos keluar dari sudut mata Shezan. Ia tidak memberontak, tubuhnya diam membeku. Hanya air matanya yang dapat bergerak jatuh bebas dipipinya yang memerah dan mendarat di tangan Farras.
deg...
Farras tiba-tiba merasakan sakit di dadanya, Ia melepaskan cengkraman tangannya dari Shezan. Dan mundur beberapa langkah menjauhi Shezan.
Shezan langsung terduduk lemas di lantai, kakinya tak mampu lagi berdiri. Apa seperti ini takutnya korban pemerkosaan sebelum dibunuh?
"Apakah ini hal kejam yang akan Kamu lakukan, jika Aku tidak menurut?" Tanya Shezan bergetar.
"Jangan bicara! Atau Aku akan mencabut lidahmu agar tidak bisa lagi berbohong kepadaku!." Seru Farras tajam.
deg..
"Dia marah karena Aku berbohong kepadanya." Pikir Shezan.
"Aku membuatnya semakin takut." Guman Farras dalam hati frustasi. Ia kelepasan lagi.
Farras menekan pangkal hidungnya meredakan sakit kepalanya menahan diri. Ia harus bersikap tenang dan lembut dengan Shezan. Ia tidak bisa menyakiti Shezan. Hal ini membuatnya menjadi emosional.
Farras kembali berjalan mendekati Shezan setelah Ia yakin sudah mengendalikan dirinya sendiri.
"Baiklah, Aku akan mengembalikan kamarmu seperti semula." Ujar Farras.
Ia berjongkok di depan Shezan yang masih terduduk di lantai. Di raihnya tangan Shezan. Ia memasangkan sesuatu di jari manis Shezan.
"Tangannya dingin." Guman Farras dalam hati
"Jangan pernah meninggalkan cincinmu." Ujar Farras dengan tenang.
"...." Shezan tidak berani bersuara.
"Malam ini Kamu tetap tidur di kamarku." Ujar Farras menegaskan kembali keputusannya.
"... " Shezan masih tidak berani bersuara, Ia lebih memilih mati dicekik daripada dicabut lidahnya.
Farras menarik lengan Shezan, menyeret secara paksa hingga ke kamarnya dan melepaskan Shezan di atas tempat tidurnya. "Tidurlah ditempat tidur." Ujarnya datar. Ia tidak bisa membiarkan gadis kecilnya tidur di lantai.
__ADS_1
"Jangan Khawatir, Aku tidak akan mengganggumu." Ujar Farras tenang dan pergi meninggalkan kamarnya.
***