
Begini nasib jadi bujangan...
kemana mana asalkan suka.
tiada orang yang melarang..
Terdengar lagu koes plus menggema di ruangan kantor Farras. Jagdish mengambil benda asal suara tersebut dari saku celananya dan mematikan suaranya.
"Hallo..... baik terima kasih." Ujar Jagdish berbicara pada benda tersebut. Kemudian ia menyimpan kembali benda itu ke saku celananya.
"Sepertinya orang yang membenci Anda masih belum menyerah." Ujar Jagdish kepada Farras sembari melempar anak panah ke arah papan darts (panah) yang menempel di salah satu dinding ruangan Farras. Mereka sedang bermain darts di ruangan kantor Farras
Setelah mengetahui di mana anak panah mendarat, Jagdish pergi mencoret angka 23 dan merubahnya menjadi 24.
"Hmm, " Farras berdiri menggantikan posisi Jagdish, dan melempar anak panah ke papan darts. Anak panah yang dilempar Farras mendarat di triple ring.
"Seseorang mengirim Anda morfin." Ujar Jagdish menyampaikan informasi yang baru saja Ia terima kepada Farras sembari mencoret angka 208 dan menggantinya menjadi 268.
(morfin adalah sejenis narkotika golongan dua, penggunanya dapat dipenjara selama 2tahun)
"hmm.."
"Polisi akan menyelidiki pengirimnya. Sepertinya orang tersebut tidak mengenal Anda dengan baik." Ujar Jagdish mengambil giliran melempar anak panahnya.
Farras tidak saja membatasi interaksi dengan orang lain, Ia juga membatasi apa saja yang bisa masuk ke dalam rumahnya. Setiap ada paket yang dikirim untuk Farras, Jagdish membawa polisi untuk menyelidiki paket tersebut terlebih dahulu.
Dan baru kali ini, Isi nya benar-benar benda berbahaya. Sebelumnya, isinya adalah barang yang dibeli Farras secara online. Namun Ia lupa telah membelinya.
***
Di sisi lain, jauh dari gedung Myrtle. Polisi yang pernah bersikeras ingin memasukan Farras ke sel tahanan, terlihat berbicara dengan seseorang melalui ponsel nya.
"Sebelum kami datang, benda tersebut sudah berada di kantor polisi." Ujar polisi tersebut memberi keterangan.
Tanpa polisi itu sadari, ada seseorang yang mengamati gerak geriknya.
***
Shezan menyerumput jus jeruk sambil menikmati pemandangan trotoar di luar dari balik jendela Coffee Shop tempat Nina bekerja.
"Shezan?" Terdengar suara seorang pria menyapanya.
Shezan menoleh ke arah sumber suara, "Ya?"
"Kamu benar Shezan?" Tanya pria tersebut sekali lagi. Tanpa permisi Ia langsung duduk di hadapan Shezan, dan menatapnya kagum. Karena Shezan yang Ia lihat kini jauh berbeda dengan Shezan yang Ia kenal dulu.
"Iya." Jawab Shezan singkat. Ia tidak ingin berbasa basi dengan orang tidak dikenal.
"Kamu masih ingat aku?"
"Nggak," Jawab Shezan datar
"Aku Aditya, kita satu kampus, fakultas kita bersebelahan."
"Oh.Iya." Ujar Shezan, Ia sama sekali tidak ingat.
"Bisa minta nomor kamu?" Tanya pria tersebut sembari mengeluarkan ponselnya.
".ng.." Shezan berpikir sebelum memberikan nomornya. Ia tidak ingin menambah teman pria. Terlebih Ia adalah seorang wanita yang telah bersuami.
__ADS_1
"Kamu lulusan Design kan? Siapa tahu kami memerlukan designer,"
"08531213580," Ucap Shezan tersenyum simpul. Sikapnya berubah menjadi 180°.
"Oke Aku save ya."
"Iya."
"Oh iya kamu sekarang kesibukannya apa?"
"Ya biasa aja, menjahit, memasak, beres beres rumah, kalau kamu?"
"Kamu sudah menikah?!" Aditya balik bertanya sembari mengamati jemari Shezan, mengingat hal hal yang disebutkan Shezan adalah kesibukan ibu rumah tangga.
Shezan bingung harus menjawab apa, status pernikahannya yang tidak jelas adalah sebuah rahasia.
"Kamu belum menikah." Ujar Aditya yakin karena tidak melihat cincin di jemari Shezan.
Shezan menjawabnya dengan senyum.
"Kamu tahu brand Ìv?" Tanya Aditya
"Saya tahu, " Ujar Nina ikut nimbrung duduk di sebelah Shezan. Jam kerjanya telah selesai.
"Lanjutkan pembicaraan kalian, anggap saja saya tidak ada." Ujar Nina tidak ingin memperlama cerita dengan tambahan basa basi perkenalan.
"Mungkin kamu berminat, jadi Ìv akan mengeluarkan produk baru, dan kami akan memerlukan beberapa.. "
"Designer? " Potong Shezan.
"Bukan."
"Tukang jahit?" potong Nina.
" Uhuk.." Shezan yang sedang menyerumput jus jeruk kaget dan menelan jus jeruk yang ada di mulutnya.
"Kamu nggak salah nawarin saya jadi model?" Tanya Shezan heran, mengingat tingginya yang tidak sampai 160cm.
"Ikut aja Zan," Ujar Nina mendukung.
"Iya, Ìv adalah brand Fashion yang berkonsep siapa saja bisa memakai pakaian yang berkualitas. Jadi kami mencari beberapa model yang cocok dengan konsep tersebut."
"Tapi saya tidak suka berfoto-foto," Tutur Shezan, Ia tidak tertarik menjadi seorang model.
Nina mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Instag**m. Ia menunjukkan kepada Shezan halaman beranda Instag**m Shezan yang dipenuhi dengan foto foto Shezan yang diambil dari belakang.
Aditya juga ikut melihat apa yang diperlihatkan Nina kepada Shezan.
"he..he.." Shezan hanya bisa menyengir
"Ikut saja Audisinya, " Saran Aditya.
"Audisi?" Tanya Shezan, artinya ia belum tentu menjadi model.
"Iya"
"Oke siap, kapan?" Tanya Shezan bersemangat. Ia sangat bersemangat, siapa tahu aja akan ada studi tur keliling seperti apa perusahaan fashion.
"Nah gitu dong." Ujar Nina.
__ADS_1
"Mbak juga kalau mau ikutan bisa." Ujar Aditya kepada Nina.
"Saya?"
"Iya,"
"Kenapa tidak mengambil model dari sekolah model saja? daripada repot mengadakan audisi." Tanya Nina.
"Seperti yang sudah saya katakan, konsep brand Ìv adalah siapa saja, jadi modelnya juga siapa saja." Terang Aditya.
"Oh.. "
***
Sementara itu Farras dan Jagdish terlibat dalam pertengkaran adu mulut.
"Mengapa Aku harus menghadiri acara itu? Jadwalku besok penuh." Ujar Farras kepada Jagdish di ruangannya.
Jagdish menanggapi perkataan Farras dengan menghubungi sekertaris pribadi Farras. "Bisakah Kamu ke mari" Seru Jagdish lembut kepada Sekertasi Farras.
Tidak butuh waktu lama, Sekertaris cantik itu muncul di hadapan mereka.
"Apa Jadwal Bapak besok?" Tanya Jagdish kepada sekertaris tersebut.
"Besok tidak ada Pak, "
"Majukan rencana minggu depan menjadi besok!" Perintah Farras.
"Baik Pak." Jawab sekertaris Farras
"Baiklah Jika Anda tidak ingin menghadiri acara itu. Saya akan mengatakannya kepada Nyonya." Ancam Jagdish.
"Kau ingin mati?" Farras balik mengancam.
Sekertaris Farras hanya bisa melihat bosan kedua pria kekanak kanakan di hadapannya.
***
Dihari yang telah ditentukan, Nina dan Shezan pergi mengikuti audisi model tersebut. Audisi tersebut dilaksanakan di sebuah Studio foto.
Shezan dan Nina tidak begitu berniat untuk menjadi model, mereka hanya ingin melihat lihat seperti apa kantor Ìv. Namun mereka salah mengira. Ternyata audisi tersebut diadakan di sebuah Studio foto umum yang disewa.
Di ruang ganti, Shezan dan Nina tengah sibuk memilih pakaian yang akan mereka kenakan. Pakaian pakaian tersebut tersedia dari berbagai ukuran dan bentuk.
Setelah menemukan pakaian yang cocok dengan ukuran badan mereka, mereka bedua pun mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian, para peserta kemudian di makeup sesuai dengan pakaian yang mereka kenakan.
Para peserta pun mulai di foto satu persatu. Tampak dua designer juga hadir dalam sesi foto tersebut.
Di bagian sudut ruangan studio, terlihat Farras duduk terisolir seorang diri. Ia tidak memperhatikan jalannya audisi. Seperti biasa, Ia sibuk dengan tablet di tangannya. Ibunya Farras berharap putra nya tertarik dengan salah satu peserta audisi model Ìv.
"Mengapa orang itu bisa ada disini?" Tanya Shezan dalam hati ketika menyadari kehadiran Farras.
Shezan pun berjalan menghampiri orang tersebut untuk memastikan, orang tersebut adalah Farras.
"Menyingkirlah dari hadapanku sebelum aku melihatmu!" Ujar Farras dingin dan tajam tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar tabletnya begitu merasakan ada seseorang yang berdiri dekat dengannya.
" Ya..? "
Mendengar suara Shezan, Farras terkejut dan menghentikan aktivitasnya menyentuh layar tab nya.
__ADS_1
Sementara Shezan merasa kehilangan separuh nyawanya melihat sisi lain Farras.
***