Finding Miss Right

Finding Miss Right
Dipecat


__ADS_3

Mengapa?!" Tanya Jagdish tidak terima, Ia mengetahui dengan baik Shezan sangat ingin bekerja menjadi designer. Ia sudah bertekad akan menghentikan Farras bertindak sesuka hatinya.


"hmm."


"Baik. Saya mengerti." Ujar Jagdish pada akhirnya tetap dirinya hanya bisa mematuhi Bosnya.


Sementara itu, salah seorang karyawan di gedung Myrtle melihat kejadian Farras berbicara dengan Shezan. Ia segera menyebarkan berita itu ke group chat karyawan. Hingga beritanya sampai di group chat tim designer.


"Apa orang itu Shezan?" Tanya salah satu karyawan di tim designer. Meskipun mereka tampak tidak peduli dengan acara perkenalan Shezan, tetapi mereka mengingat nama Shezan.


Mereka melihat ke sekeliling benar saja Shezan belum hadir di ruangan mereka.


Annindya menghela nafas, "Apa dia belum membaca peraturan tidak tertulis yang ku kirim?" gumannya.


"Sepertinya benar orang itu adalah Shezan." Ucap Hani dengan ekspresi antara kasian bagaimana begitu. Ia baru saja mendapat telepon dari manejer HR.


Shezan yang tidak tahu mengenai berita buruk yang akan menimpanya masuk ke ruangan mereka dengan tersenyum ramah, karena semua mata tertuju padanya.


"Pergilah ke HRD, temui Pak Budiman." Seru Hani kepada Shezan, Ia menekan pelipisnya.


"Baik Bu." Ujar Shezan.


***


Di sebuah ruangan, Shezan sudah duduk di hadapan Pak Budiman.


Tidak pernah terjadi gelombang panas disepanjang tahun ini, Suhu udara siang ini adalah normal. Ruangan Pak Budiman terpasang AC dengan kondisi bagus, Ia sudah mengatur suhunya 16 derajat celcius. Suhu udara yang cukup dingin bagi Shezan, tetapi tidak untuk Pak Budiman.


Ia terlihat akan meleleh, peluh mengalir di dahinya. Dirinya sedang dilanda kebingungan. Pemilik Myrtle menginginkan Shezan menjadi bagian dari tim design, sementara orang yang paling ditakuti di Myrtle menginginkan Shezan dipecat.


Budiman mengehela nafas panjang, "Ini pesangon Anda." Seru nya kemudian, sembari menyerahkan amplop coklat kepada Shezan.


"Pesangon?" Tanya Shezan bingung.


"Anda dipecat." Ujar Budiman lirih.


Bagai disambar gerobak bakso di siang bolong, Shezan kaget mendengar dirinya dipecat. Baru juga mulai kerja. Belum ada satu hari.


"Apa? Mengapa?" Tanya Shezan bingung. Antara mau nangis atau ketawa. Apa ada candid camera?


"Saya juga tidak ingin memecat Anda. Begini saja. saya akan mengatakan kepada Anda siapa yang meminta Anda untuk dipecat. Tetapi saya tidak akan mengatakan kepada Anda siapa yang meminta kepada Saya agar menerima Anda bekerja di sini." Tutur Budiman, Ia berusaha menengahi masalah ini dengan cara licik.


Shezan mengangguk mengerti, Ia mengambil amplop coklatnya di atas meja Pak Budiman dan memasukannya ke dalam saku nya. Sayang kalau tidak diambil. Lumayan buat jajan.


" Yang meminta Saya untuk memecat Anda adalah direktur Farras." Terang Budiman.


"Apa?" Desis Shezan.

__ADS_1


"Saya akan memberitahukan kepada Anda di mana ruangannya. Tetapi jangan pernah menyebut nama saya." Ucap Budiman mencoba bernegoisasi.


Shezan mengangguk mengerti. "Baik saya mengerti."


"Baiklah Anda bisa langsung menanyakan kepadanya mengapa Anda dipecat." Ujar Budiman, kemudian Ia memberi petunjuk kepada Shezan di mana ruangan Farras.


Selepas kepergian Shezan, Budiman tersenyum bernafas dengan lega. Seharusnya semuanya akan berjalan sesuai dengan yang direncanakannya. Ia tidak akan mendapat masalah dengan pemilik Myrtle.


Pemilik Myrtle akan berpikir Shezan dipecat secara langsung oleh Farras.


***


Shezan akhir berhasil sampai di depan pintu ruangan Farras dengan penuh emosi setelah tiga kali menyasar.


"Maaf, apakah Anda tersesat?" Tanya sekertaris Farras menghentikan Shezan yang mencoba masuk ke ruangan Farras.


"Ini benar ruangan Pak Farras?" Tanya Shezan.


Sekertaris berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ini bukan ruangannya direktur, tetapi tunggu sebentar."


Sekertaris itu mengarahkan ponselnya ke arah Shezan. Ia mengambil foto Shezan dan mengirimnya kepada Jagdish. Ia ingin memastikan dulu kepada Jagdish sebelum bertindak. Ia takut dirinya akan dipecat jika sampai melakukan kesalahan.


Di dalam ruangan Farras, Jagdish tersenyum menerima pesan dari sekertaris Farras, "Apa Anda ingin bertemu dengan Shezan?"


Farras yang sedari tadi membaca lembaran laporan di mejanya melihat ke arah lawan bicaranya dan menaikan sebelah alisnya.


"hmmm.. " Farras kembali membaca laporan nya.


Mengerti arti bahasa Farras, Jagdish segera membalas pesan sekertaris farras.


Setelah menerima balasan dari Jagdish, Sekertaris Farras mempersilahkan Shezan masuk. Dan menutup kembali pintunya setelah Shezan masuk ke dalam.


"Selamat siang mbak," Sapa Jagdish tersenyum menyambut kedatangan Shezan.


Biasanya Shezan akan balik tersenyum membalas sapaan Jagdish, tetapi sejak Ia mengetahui Jagdish bukan keponakannya Farras. Ia tidak pernah tersenyum membalas sapaan Jagdish.


Shezan memandang Jagdish dan Farras tidak lebih dari dua onggok manusia yang setiap perkataannya tidak bisa dipercaya.


Farras dan Jagdish menunggu apa yang akan disampaikan Shezan. Sudah beberapa detik sejak kedatangannya. Ia belum bersuara sama sekali.


Shezan mengernyitkan dahinya. Ia lupa apa yang harus dikatakannya. Tadinya Ia sudah menyusun kata kata umpatan yang baik dan benar, tidak terima dirinya dipecat. Tetapi karena kelelahan mencari ruangan Farras, setelah tiga kali kesasar. Ia jadi lupa.


"Kamu pasti mengetahui mengapa kamu bisa menjadi karyawan Myrtle." Ujar Farras, Jika menunggu Shezan buka suara tentu akan menjadi lama. Saat ini dia sangat sibuk.


Shezan mengangguk dan berpikir apa yang akan disampaikan Farras.


"Kamu tahu, Aku tidak suka melihat sesuatu yang tidak teratur. Jika hal itu sudah menjawab pertanyaanmu. Silahkan keluar." Tutur Farras datar dan tenang. Ia kembali melanjutkan membaca berkas laporan di mejanya.

__ADS_1


Setahu yang Farras tahu Myrtle sedang tidak merekrut karyawan baru. Artinya Shezan menjadi karyawan di Myrtle tidak sesuai aturan. Dan mungkin Shezan akan aman jika tidak dilihat Farras. Tetapi Shezan belum membaca peraturan tidak tertulis Myrtle.


"Hah! Apa kamu jadi direktur juga bukan karena koneksi?!" Seru Shezan.


"hmm..." Farras kembali melihat ke arah Shezan.


"Katakan padaku, mengapa kamu menjadi direktur Myrtle?"


"hmm..."


"Bukannya kamu seharusnya berkerja membuat bom? kamu bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk berkerja di perusahaan fashion!" Seru Shezan. Ia mengingat dengan jelas Farras adalah lulusan fisika.


"hmm..."


Mendengar ucapan Shezan, Jagdish membayangkan Farras berada di lembaga penelitian nuklir, Farras membuat bom dan meledakkan satu negara, kemudian Farras tertawa terbahak bahak melihat sebuah negara hancur berkeping-keping.


Jagdish segera menghapus khayalannya. "Untung saja psikopat seperti dia tidak menggunakan ilmunya untuk membuat bom benaran." Bisik Jagdish dalam hati lega.


Jagdish memberikan sebuah map file kepada Shezan yang masih dilanda emosi.


"Apa ini?!" Tanya Shezan.


"Dibuka saja mbak." Ujar Jagdish tersenyum ramah. Meskipun Ia selalu mendapat balasan datar dari Shezan, Ia masih tetap tersenyum ramah kepada Shezan. Mengingat dia sudah terbiasa menghadapi Farras yang lebih parah.


Shezan pun menuruti Jagdish, Ia membuka map tersebut. Matanya terbalak heran. Map tersebut adalah kumpulan beberapa ijasah Farras. Ia tidak peduli dengan ijasahnya. Oleh karena itu Jagdish menyimpannya di ruang kerja Farras.


"Orang ini juga kuliah bisnis?" Guman Shezan lirih. Ternyata buku-buku dirumahnya bukan cuman pajangan.


"Memangnya mengapa kalau kamu master of business administration?! Saya juga sarjana desain." Ujar Shezan masih tidak mau kalah. Ia berjalan mendekat ke arah Farras.


Farras sedikit memundurkan kursinya kebelakang, Ia takut akan merasakan hal yang aneh lagi, dan akhirnya luluh dengan Shezan.


Shezan tiba di depan meja Farras dan melihat Farras dengan dekat, "Apa kamu pikir saya tidak memiliki kemampuan?!" Tanya Shezan berang menatap tajam ke arah Farras.


"Baiklah, Aku memberimu satu kesempatan untuk menunjukkan kemampuanmu." Ujar Farras dengan sikap tenangnya. Mungkin dia mundurnya tidak begitu jauh sehingga Ia akhirnya terpengaruh dengan aura Shezan.


"Apa?" Ujar Shezan lirih, Ia mundur kebelakang sedikit memberi ruang kepada Farras.


"Satu minggu," Ucap Farras.


"Mengapa satu minggu? nggak tiga bulan?" Tanya Shezan mencoba melakukan tawar menawar.


"Jika tadi pagi Kamu sudah mulai bekerja, tentu kamu sudah mengikuti rapat internal tim design." Ujar Farras tersenyum licik, "Aku sudah pernah katakan kepadamu, kami tidak menerima pegawai magang."


"hmm.. " Shezan mencoba berpikir, mengingat hal hal apa yang dirapatkan tadi pagi. Ia sedikit lupa.


"Bekerjalah secara professional di hari pertamamu bekerja Shezan Afifah." Sindir Farras.

__ADS_1


__ADS_2