Finding Miss Right

Finding Miss Right
Niat Terselubung


__ADS_3

Keesokan harinya, Jagdish masih memikirkan kesalahannya yang telah membuat Shezan semakin marah di ruangannya. Jagdish masih melihat kedua kartu yang sudah tidak bernyawa. Ia meletakkannya di atas mejanya. Ia merasa sangat bersalah kepada Shezan.


Apa yang membuatnya sangat marah? mengapa Ia sangat ingin bercerai?


Pemikiran Jagdish terpotong karena seseorang membuka pintu ruangannya tiba-tiba tanpa permisih.


"Aku bosan!" Seru Farras begitu Ia masuk ke ruangan Jagdish.


"Saya tidak ingin bermain apa pun dengan Anda!" Seru Jagdish.


Farras tertawa menyeringai, "Kau masih marah?" Tanyanya tanpa rasa bersalah telah menghajar Jagdish dan mengikatnya.


"Baiklah, Aku akan pergi bermain keluar." Ujar Farras kembali balik kanan hendak beranjak pergi.


Jagdish yang tahu apa arti perkataan Farras. Akhirnya berubah pikiran, karena tidak ingin Farras pergi membantai orang. "Taekwondo, Anda tidak boleh menggunakan kedua kaki Anda!" Seru Jagdish yang memiliki niat terselubung. Ia harus menghajar boss nya habis-habisan untuk menumpaskan dendamnya yang membara.


Untuk bekerja dengan seorang psikopat Ia tentu membekali dirinya dengan ilmu bela diri.


Farras menghentikan langkahnya, Ia tersenyum dan berbalik menghadap Jagdish, "Oke!"


Mata Farras menangkap sesuatu yang tergeletak di atas meja Jagdish. Mengapa bisa ada di sini?


"Shezan ingin bercerai dengan Anda." Ujar Jagdish tersenyum menjawab tatapan Farras.


Farras mengukir senyum di wajahnya, "Sepertinya dia sangat sangat menyukaiku," Ujar Farras tersenyum senang.


Jagdish berdecak, "Anda belajar dengan cepat."


Farras sudah tidak bertanya bingung kepadanya mengenai perilaku hidup bermasyarakat.


"Apa Anda sudah menemui dokter Anda?" Tanya Jagdish ingin tahu apakah boss nya sudah meminum obatnya atau belum.


Farras tersenyum, "Mengapa Aku harus?"


"Mengapa Anda tidak lagi mengunjungi dokter Anda?" Jagdish balik bertanya. Mengingat Farras adalah psikopat yang mencoba insaf.


"Pria tua itu tidak memberikanku secangkir teh terakhir kali Aku menemuinya." Ujar Farras datar sembari pergi meninggalkan ruangan Jagdish. "Aku tidak mau main lagi dengan mu!" Seru Farras. Ia ingin bermain dengan Shezan.

__ADS_1


"Apa?! Dia benar-benar menjadikan hal yang sepele menjadi masalah besar." Guman Jagdish yang harus percaya dengan prilaku boss nya.


Farras kembali masuk ke ruangan Jagdish, "Dia menganti nomor nya?"


"Anda pikir saya akan membiarkan Anda menemuinya setelah apa yang telah Anda lakukan kepada saya?" Tanya Jagdish sedikit tertawa licik.


"Jangan khawatir, Aku sudah tidak berniat membunuhnya." Ujar Farras dengan sikap tenangnya.


"Apa yang membuat Anda cepat berubah pikiran?"


"Karena Aku ingin cepat berubah pikiran," Jawab Farras dengan santai tanpa beban.


"Saya tahu Anda tidak akan membunuh saya, karena saya masih berguna untuk Anda." Ujar Jagdish datar dengan ekspresi tidak senang.


Farras menanggapi kebenaran yang disampaikan Jagdish dengan mengukir senyum di wajahnya. "Tetaplah berguna."


"Bagaimana jika saya memberitahukan Shezan mengenai siapa Anda sebenarnya?" Tanya Jagdish tersenyum licik.


Farras menghilangkan senyumnya begitu mendengar ancaman Jagdish. "Lakukan sesukamu, Aku tidak peduli." Ujar Farras dan pergi meninggalkan ruangan Jagdish kembali ke ruangannya dan tidak balik balik lagi. Dia berubah pikiran. Sekarang Ia teringat ingin melanjutkan pekerjaannya, maka Ia melanjutkan bermain dengan laptopnya. Dia memang psikopat yang plin plan dan konsisten terhadap ketidakkonsistenannya.


~~ Beberapa tahun sebelumnya ~~~


Di sebuah rumah sakit, terlihat Jagdish muda sedang mendampingi seseorang yang terluka parah di instalasi gawat darurat, dan sepertinya harus dioperasi. Ia adalah korban kecelakaan. Hari ini Jagdish pergi jalan jalan dengan adiknya namun namun naas, takdir mempertemukan Jagdish dengan Farras.


Adiknya melihat perkelahian beberapa orang pemuda di sebuah lorong jalan, terlihat sosok Farras yang masih muda diantara mereka. Karena takut, adiknya Jagdish langsung lari, padahal tidak ada yang mengejarnya. Dan terjadilah kecelakaan tabrak lari.


Farras membawa para pemuda yang cidera ke rumah sakit yang sama dengan Adiknya Jagdish. Pemuda yang saling baku hantam karenanya. Ia memanipulasi mereka tanpa harus mengotori tangannya. Ia berstatus mahasiswa di negara orang jadi harus berperilaku baik.


"Kau takut kepadaku?" Tanya Farras tiba-tiba berdiri di sebelah Jagdish. Ia sempat melihat Jagdish dan adiknya menyaksikan pembantaian yang Ia lakukan.


Jagdish terkejut seseorang berbicara bahasa Indonesia dengannya. "Tidak!" Ia tidak takut dengan Farras, justru seharusnya Farras yang takut terhadap mereka karena mereka adalah saksi kejahatannya.


Namun jawaban Jagdish membuat Farras penasaran dengannya. Ia terus mengikuti Jagdish, hingga di bagian administrasi Ia melihat tangan Jagdish yang gemetar. Ia tersenyum.


Jagdish penasaran dengan Farras yang membayar seluruh biaya pengobatan operasi adiknya dan langsung pergi begitu saja tanpa bicara apapun. Farras tidak takut dirinya akan dilaporkan.


Awalnya Jagdish mengikuti Farras karena ingin mendapatkan bukti untuk melaporkan tindakan kriminalnya, tetapi sekarang Ia malah jadi pengacara dan merangkap asistennya. Ironis memang.

__ADS_1


...~~~~...


***


Di lantai 5 gedung Myrtle, Shezan tengah melakukan pekerjaannya dengan baik dan benar. Ia harus berkerja dengan baik. Sebuah pemberitahuan masuk ke ponselnya, Ia telah ditambahkan ke dalam group chat karyawan Myrtle. Para karyawan bebas menggosip apapun di group tersebut. Tetapi tidak ada yang tahu jika admin group tersebut adalah Jagdish.


"Shezan, Apa kamu sudah putus dengan Aditya." Tanya Anindya tiba-tiba di tengah-tengah pekerjaan mereka, Ia penasaran tentang hubungan Aditya dan Shezan.


Shezan menghentikan tangannya memotong kain dan memikirkan maksud pertanyaan Anindya. "Kami tidak pacaran." Jawab Shezan setelah mengerti maksud pertanyaan Anindya.


"Oh, Aku kira kalian punya hubungan karena sering pergi pulang sama."


"Oh, dulu dia bukan teman, terus berteman karena tempat tinggal kami searah." Ujar Shezan menjelaskan. Mengingat dulu mereka bukan teman kuliah, hanya kebetulan fakultasnya bersebelahan.


"Dia mantan pacar kamu?" Tanya Anindya semakin penasaran.


"Kenapa dia jadi mantan pacar?, kenal saja tidak." Ujar Shezan bingung.


"Oh begitu." Ujar Anindya tersenyum penuh arti. Mengapa dijelaskan dulu bukan teman?


"Iya," Ujar Shezan melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu sudah punya pacar? Kalau belum mau Aku kenalin dengan seseorang." Anindya kembali bertanya mengganggu juniornya yang tengah bekerja.


Shezan kembali menghentikan tangannya dan melihat ke arah Anindya, "Belum." Ujar Shezan. Dia tidak pernah punya pacar, yang dipunya hanyalah suami.


"Baiklah, Aku akan memberikan nomormu kepadanya." Ujar Anindya bersemangat, tanpa meminta ijin dulu kepada Shezan.


Shezan yang tidak ambil pusing, karena Anindya tidak mengetahui nomornya yang baru. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tunggu sebentar, bukannya harus berselingkuh dulu baru bisa bercerai?


Akhirnya Shezan memberikan nomornya yang baru kepada Anindya, demi mensukseskan proses perceraiannya.


Dan Anindya dengan senang hati memberikan nomor Shezan kepada kenalan dari kenalan temannya, demi mensukseskan proses pendekatannya dengan Aditya.


***

__ADS_1


__ADS_2