
Shezan bangun lebih dahulu dari Farras, Ia mendapati dirinya masih berada dalam dekapan Farras. Shezan melepas diri dari Farras dan menatap orang yang semalaman berada di sebelahnya.
"Ya Kamu memang suami yang sangat tampan dan kaya, tapi Kamu adalah siluman berwujud manusia, Kompeni belanda, preman pasar, mantan narapidana, sampai di sini cukup itu dulu. Kalau ada tambahan nanti Aku tambah lagi." Ujar Shezan puas mengumpat suaminya yang masih berada di alam mimpi.
Shezan bergegas kembali ke kamarnya, Ia yakin kalau subuh begini, kamarnya sudah tidak menyeramkan lagi. Tidak lupa Ia membawa ponselnya.
Begitu mendengar suara pintu kamar ditutup, Farras melepaskan tawanya yang sejak tadi Ia tahan. "Mengapa Kamu bisa membenciku sebanyak itu?, bagaimana cara memperbaikinya?" Gumannya.
Dia bahkan berencana mau menambahnya lagi.
***
Begitu keluar dari kamarnya, Farras mendengar Shezan sedang berbicara dengan seseorang di dapur. Farras mendatangi sumber suara.
Shezan sedang berbicara dengan ponselnya sembari memasak sarapan.
"Kedengarannya bagus, Aku belum ada rencana ke mana mana." Ujar Shezan. Ia tidak menyadari Farras sudah berdiri di belakangnya.
"Boleh juga daripada seharian berpikir di kamar.. "
Farras mengambil ponsel Shezan dari telinganya. Ia ingin melihat siapa yang menghubungi Shezan pagi-pagi.
Membaca nama Aditya di layar ponselnya Shezan, membuatnya kesal. Orang yang tidak bisa Ia bunuh.
"Apa kamu belum menemukan otakmu?!$£%$&!" Ujar Farras marah marah menggunakan bahasa yang tidak jelas.
"Apa Anda Pak Farras?" Terdengar suara Aditya bertanya. Nadanya seperti meremehkan. Ia masih tidak percaya Shezan telah menikah.
Farras terkejut selingkuhan istrinya menyebut namanya, Ia menatap Shezan heran dan mengakhiri sambungan telepon Shezan.
"Mengapa dia menyebut namaku?" Tanya Farras mengintrogasi Shezan yang sedang bengong menatapnya.
"Aku sudah memberitahunya kalau Aku sudah menikah denganmu."
"Apa?!" Tanya Farras kaget. Ini pertama kalinya Ia kaget dan sangat marah. Ia ingin menghajar orang saat ini juga, tetapi tidak bisa, mengingat Ia harus mengontrol diri di depan shezan. Dan hal ini semakin membuatnya kesal.
"Kamu marah karena Aku memberitahunya?" Tanya Shezan takut takut.
"Bukan. Dia sudah tahu kamu adalah istriku, tetapi masih mengganggumu."
"Dia tidak mengangguku, Aku sama sekali tidak terganggu." Ucap Shezan. Ia tersenyum senang melihat Farras marah karena ada yang mengganggunya.
__ADS_1
Apa aku punya super hero sakarang?
Ekspresi kesal Farras tiba-tiba berubah, Ia tersenyum menerawang. "Sepertinya Aku harus menunjukkan kepadanya kalau Dia bukanlah orang yang bisa mengusikku." Gumannya dalam hati.
Farras menoleh ke arah Shezan yang menatapnya dengan senyum bahagia, Ia terlihat sangat manis, Mengapa melihatnya seperti ini membuatku ingin membawanya ke ranjang?
"Shezan Afifah, Apa kamu lupa kesepakatan kita? Kamu tidak boleh memiliki hubungan dengan pria lain."
Shezan menghela nafas, "Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Aku sudah menolaknya. Kami hanya berteman."
"Teman juga termasuk hubungan"
"Lalu Kamu ingin Aku memblokir nomornya? oke." Shezan langsung memblokir nomor Aditya tanpa menunggu jawaban Farras.
Farras melukis senyum di wajahnya, "Sudah terlambat."
"Apanya yang terlambat?" Tanya Shezan bingung. "Kamu tidak percaya?Aku tidak berbohong," Ujar Shezan meyakinkan Farras. Ia takut jika Farras mengira dirinya melanggar kesepakatan, maka Farras akan memperkosanya.
"Aku percaya kepadamu." Ujar Farras, Ia tersenyum dan mengecup ubun ubun Shezan.
"Apa Kamu baru saja mencium kepalaku?" Tanya Shezan tidak senang.
"Iya, Apa Kamu lebih suka Aku mencium bagian yang lain?" Tanya Farras.
Setelah selesai memasak udang saus pedas, tumis tomat telur, dan sayur bening. Shezan menghidangkannya di atas meja makan. Ia membuat jus strawberry.
"Apa kita sedang menjalin hubungan baik?" Tanya Shezan tidak mengerti. Mengapa sekarang dia menjadi istri yang baik lagi.
"Aku lebih suka kita menjalin hubungan suami istri." Jawab Farras yang mulai bosan menunggu Shezan berpikir dewasa.
"Mengingat Kamu adalah kompeni, Aku tidak ingin menjalin hubungan baik lagi." Ujar Shezan.
"Aku ingin Kamu bersamaku selamanya." Ujar Farras menimpali.
Mendengar perkataan Farras, membuat Shezan terdiam, begitu juga dengan Farras.
Ah mengapa sedari tadi Aku makan sambil bicara?. Dipikir pikir semakin lama Dia semakin membuatku kehilangan jati diriku.
"Apa maksudmu dengan selamanya?, meskipun suatu saat kamu menemukan dan menikahi wanita lain, atau meskipun suatu saat kamu mencampakkanku. Aku harus tetap bersamamu selamanya? Apa itu perjanjian kematian?" Tanya Shezan, Ia ingin memastikan apa maksudnya dengan kata selamanya.
Farras berhenti menyendok nasinya. Ia tidak mengerti pemikiran Shezan, tetapi Ia harus memahaminya.
__ADS_1
"Shezan Afifah, Meskipun Kamu suka dengan ketidakteraturan, Meskipun suatu saat Kamu kehilangan kedua kaki dan tanganmu, Meskipun Kamu berniat ingin meracuniku dan membunuhku, Meskipun Kamu berniat ingin berselingkuh, Meskipun Kamu bukan seorang wanita, Aku tidak akan pernah melihat wanita lain dan meninggalkanmu, dan Kamu akan selamanya hidup bersamaku." Ujar Farras memberi penjelasan.
"Tunggu sebentar.. Meskipun Aku bukan seorang wanita? Apa Kamu benaran gay? Aku adalah seorang wanita, Apa kamu akan mencari dan berkencan dengan pria lain? dan Aku harus tetap selamanya menjadi istrimu?" Tanya Shezan histeris.
Farras memilih mengabaikan Shezan. Ia lebih baik melanjutkan makannya. Semakin Ia mencoba memahami dan menjelaskan, sepertinya permasalahan mereka semakin bertambah. Memang tidak baik makan sambil bicara.
"Kamu benaran gay?" Tanya Shezan sekali lagi.
"Habiskan sarapanmu!." Farras memberi titah
"Baik, tuan."
***
Setelah menyelesaikan sarapannya, Farras tetap bekerja meskipun di hari libur. Namun percakapan Shezan tadi pagi menganggu Farras.
Apa dia berencana pergi jalan-jalan dengan selingkuhannya?
Farras memutuskan menghentikan perkerjaannya. Selama ini Ia tidak terpikir setiap hari libur Shezan akan menghabiskan waktunya dengan selingkuhannya. Ia hanya berpikir Shezan menghabiskan waktunya dengan temannya yang hanya seorang itu.
Ia segera keluar dari kamarnya dan menemui Shezan. Ia mencari Shezan di kamarnya, namun Ia tidak menemukan sosok istrinya di sana. Ia mengambil ponselnya, karena mengira istrinya telah pergi tanpa memberitahunya.
Farras menghubungi Shezan. Ia mendengar suara dering ponsel Shezan dan menuju ke arah suara tersebut. Ternyata istri belum pergi. Shezan duduk di ruang tengah. Ia menatap jendela besar di depannya.
Farras tidak melihat sosok Shezan ketika Ia melewati ruang tengah karena Shezan duduk dilantai tertutupi meja.
"Mengapa Kamu duduk disini?"
"Aku sedang bepikir," Jawab Shezan tidak bersemangat.
Farras berdiri di sebelah Shezan melihat apa yang dilihat Shezan. Sebuah pemandangan bangunan bangunan bertingkat yang tampak kecil, diantaranya ada gedung pusat perbelanjaan.
"Kamu ingin pergi berbelanja?" Tanya Farras, mengingat Shezan menyukai belanja.
Shezan menghela nafas, "Apa Kamu tahu kalau perkataan itu adalah doa? waktu pertama kali Aku membuatkan mu steak dan kamu tertawa, Kamu sangat tampan, waktu itu Aku mengatakan pada diriku sendiri kalau Aku tidak boleh jatuh cinta kepadamu. Dan ternyata Aku memang tidak boleh jatuh cinta kepadamu, Kamu adalah gay!" Shezan mendongak melihat Farras yang berdiri di sebelahnya. Ia terlihat frustasi.
Farras tidak bisa berkata apa-apa mendengar penuturan Shezan. Selama ini Ia sudah cukup agresif dengan Shezan. Tetapi wanita itu bisa bisanya berpikir dirinya adalah gay.
Mereka hanya saling tatap dengan pemikiran masing-masing.
Apa aku perkosa saja dia? daripada harus memberi penjelasan lebih lanjut.
__ADS_1
Farras mengurungkan niatnya, Ia bukan seorang pelaku kekerasan seksual. Ia tidak akan melakukan perbuatan nista dan tercela seperti itu.