Finding Miss Right

Finding Miss Right
Menantu


__ADS_3

"hmm.. " Farras segera kembali berpura-pura masih sakit, berbaring membelakangi Shezan dan Ibunya. Ia tersenyum senang, entah mengapa Ia sangat menyukai apa yang baru saja dilakukannya kepada Shezan.


Pandangan Amelia beralih ke Shezan, Ia menatap bingung melihat seorang gadis muda ada di kamar rawat putranya. Yang ditatap juga sama bingungnya.


"Sepertinya kalian sudah lama saling mengenal," Ujar Amelia, Ia tersenyum hangat kepada Shezan. "Mengapa Saya tidak mengetahui tentangmu?" lanjutnya membesarkan volume suaranya. Namun tetap diupayakan seramah mungkin.


Jagdish yang mengerti maksud pertanyaan Amelia, menghela nafas. Ia siap menerima resiko karena tidak melaporkan tentang Shezan kepada Amelia. "Maafkan Saya nyonya,"


"Maafkan Saya, nama saya Shezan Bu." Shezan memberanikan diri untuk buka suara. Ia khawatir Jagdish akan mendapatkan masalah karena dirinya. Ia berjalan mendekati Amelia dan menyium tangannya dengan sopan.


"Saya.. Saya... "


Amelia, Farras, dan juga Jagdish memasang telinga baik-baik menunggu apa yang akan disampaikan Shezan.


"Saya adalah kepala rumah tangga di rumahnya Pak Farras." Ujar Shezan gugup.


"Apa?!"


"Eh bukan, maksudnya.. Asis. "


"Dia adalah menantu mama," Farras memotong ucapan Shezan. Ia kembali bangun, dan berdiri merangkul Shezan.


Shezan yang dirangkul merasa canggung. Amelia melihat keanehan kedua pasangan di depannya.


"Maaf tidak memberitahukan tentang pernikahanku." Ujar Farras datar dan tenang.


"Apa putraku memaksamu untuk menikah dengannya?" Tanya Amelia kepada Shezan, Ia telah bersiap untuk memukulkan tas nya ke Farras sekali lagi.


Shezan menggeleng cepat, "Tidak, Saya yang memaksanya untuk menikahi Saya," Ia khawatir Farras akan mendapat pukulan lagi dari Ibunya. Jawaban Shezan membuat semua penghuni kamar rawat inap Farras menatap ke arahnya heran.


"Apa kamu hamil?!" Tanya Amelia kaget.


"Tidak- tidak," Shezan meralat tuduhan ibu mertuanya.


"Aku hanya menikah dengannya," Ujar Farras datar.


Amelia memang menginginkan Putranya segera menikah, namun Ia lebih menginginkan putranya dapat menyukai seorang gadis.

__ADS_1


"Apa sudah bisa meninggalkan rumah sakit?" Tanya Farras kemudian kepada Jagdish


"Ya"


"Ayo pulang," Ujar Farras lembut kepada Shezan, Ia merangkul pundak Shezan, Ia adalah pasien yang masih dalam tahap penyembuhan, Jadi berjalan harus dipapah.


"Kau bisa berjalan sendiri, kakimu baik baik saja," Amelia menarik rambut Farras.


"Iya, Ok!" Farras melepas rangkulannya.


Amelia segera mengambil alih merangkul lengan Shezan dan membawanya pergi, Ia berpikir putranya akan menyiksa Shezan. Gadis bertubuh mungil yang terlihat polos tidak berdaya. "Ayo kita pulang menantuku sayang,"


"Apa Anda ingin Saya bantu berjalan?" Sindir Jagdish menyerahkan Pakaian ganti Farras.


"hmm, " Farras tidak menggubris sindiran Jagdish, Ia bergegas pergi mengganti pakaian rumah sakitnya.


***


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Mobil itu mengangkut Amelia, Shezan, Farras, dan seorang supir yang mengemudikannya.


"Mama akan secepatnya mengadakan pesta pernikahan yang meriah," Ujar Amelia dengan mata berbinar, digenggamnya tangan Shezan. "Kamu akan menjadi pengantin yang cantik Shezan," Amelia meyakinkan Shezan.


Mertuanya yang bersikap jauh dari bayangannya, mengapa Ibunya Farras menyambutnya dengan baik. Semuanya tampak membingungkan bagi Shezan.


"Jika mama mengadakan pesta, Aku akan bercerai," Ujar Farras datar, sedikit bernilai ancaman. Ia duduk dikursi penumpang bagian depan.


Amelia sedikit meradang mendengar ancaman putranya, namun Ia berusaha menutupi hal itu demi citranya di depan menantunya. "Mengapa putra mama tersayang ada di sini?"


Amelia ingin membawa Shezan pulang ke rumahnya, Ia tidak berencana untuk membawa putranya ikut serta.


"Mengapa mama membawa Shezan?"


"Maafkan Saya Bu." Shezan memberanikan diri bersuara


"Mama, Kamu harus memanggil mama sayang," Ralat Amelia.


Shezan berpikir sebelum menuruti perintah Amelia, sepertinya Ia tidak boleh membantah, "Maaf kan Saya mama, Saya yang meminta tidak ada pesta pernikahan." Ujar Shezan memberi penjelasan, Ia menundukkan kepalanya, Ia tidak berani melihat bagaimana Amelia akan bereaksi atas jawabannya.

__ADS_1


"Begitu, Kita Akan tetap mengadakan pesta yang meriah," Ujar Amelia tidak peduli dengan penolakan Shezan atas keputusannya, tidak ada yang boleh membantahnya.


"Maafkan Saya, Saya tidak bisa." Ujar Shezan.


"Aku tidak menyukai pesta, mama tahu itu. Jangan merencanakan sesuatu yang ku benci!" Seru Farras. Ia memang mematuhi Ibunya, Tetapi Ia tetaplah orang yang bisa melakukan apapun yang dia suka.


Penolakan Farras membuat Amelia berpikir ulang atas keputusannya. Meskipun putranya terlihat patuh kepadanya, Ia menyadari putranya adalah tetaplah spesial. Putranya akan melakukan apa saja sesuka hatinya.


"Baiklah jika itu keinginan kalian berdua." Ujarnya tersenyum. Ia tidak sabar ingin mengetahui gadis seperti apa yang menikah dengan putranya. Dan sanggup bertahan hidup bersama putranya.


***


Amelia membawa masuk Shezan ke dalam rumahnya. Untuk saat ini Shezan hanya bisa bersikap patuh kepada Amelia. Ia belum mengenal Amelia dengan baik. Ia berpikir akan mengatakan yang sebenarnya kepada Amelia tentang hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan Farras.


Farras mengikuti kedua wanita itu, namun langkah kakinya dihentikan suara panggilan di ponselnya.


Ia menjawab panggilan itu, "hmm.. "


"Mereka adalah pembunuh bayaran dan sekarang dirawat di rumah sakit. Polisi akan melakukan pemeriksaan terhadap perangkat komunikasi mereka." Terdengar suara Jagdish di ponselnya.


"hmm.."


"Tetapi... Sepertinya mereka berencana melaporkan Anda balik." Jagdish tertawa sebentar, "Tidak bisakah Anda tidak menambah pekerjaan Saya? Mengapa Anda mematahkan tangan dan kaki mereka? Jika Anda tidak pernah berbuat kejam sebelumnya, hal ini tidak akan terjadi. Anda tidak akan memiliki seorang pembenci yang... "


Tanpa basa basi Farras mematikan sambungan teleponnya. Ia tidak ingin mendengar ceramah Jagdish lebih banyak lagi. Sebenarnya Ia tidak begitu peduli dengan orang yang membencinya.


Farras menyimpan kembali ponselnya, dan tersenyum kembali melangkah masuk ke dalam rumah Ibunya. Ia sudah mendapatkan hal baru yang lebih menyenangkan.


***


"Malam ini mama ingin kamu tidur di sini sayang," Ujar Amelia hangat setelah Ia membawa Shezan masuk ke dalam rumahnya. Mereka berada di ruang tengah.


Shezan menantap ke sekelilingnya, tidak jauh beda dengan rumah farras, rumah Ibunya Farras juga tertata dengan rapi. Namun rumah ibunya Farras bernuansa Vintage, berbeda dengan rumah Farras yang bernuansa modern.


"Mengapa mama ingin memisahkan pasangan yang baru saja menikah?" Terdengar suara Farras tiba-tiba hadir di antara mereka.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu. kamu pasti lelah" Amelia mengabaikan bualan Farras, Ia membawa Shezan menuju kamar Farras, meninggalkan putranya di ruang tengah.

__ADS_1


***


__ADS_2