Finding Miss Right

Finding Miss Right
Hari Terakhir


__ADS_3

"Apa yang kau coba bicarakan?! Katakan saja cepat apa sandinya?!" Teriak penyusup satu, Ia mulai mengancam Farras dengan meletakkan mata pisaunya di leher Farras. Ia sangat marah dan tidak sabar. Mengingat mereka tidak memiliki banyak waktu.


"Bukankah kalian datang ke sini untuk membunuhku? Pisau itu tidak tajam, akan menghabiskan banyak waktu untuk memotong sampai ke pembuluh darah." Ujar Farras tenang.


Penyusup satu menjauhkan pisaunya dari leher Farras, "Apa?"


"Sudah kita habisi saja dia!" Seru penyusup dua


"Tidakkah ini merepotkan? memberikan isi brankasku kepada orang itu, membunuhku dengan pisau yang tidak tajam, apa kalian yakin akan mendapatkan bayaran?" Ujar Farras mulai mencoba mempengaruhi.


"Apa?"


Farras kembali tersenyum, "Bukankah lebih mudah jika Aku memberikan kalian uang sebanyak yang kalian mau sekarang? Lalu kalian bisa membunuhku dengan pisau yang lebih tajam," Farras menoleh ke arah kabinet dapurnya, "Aku punya banyak pisau yang sangat tajam di sana."


Penyusup itu tersenyum menyeringai mendengar usulan Farras, "Apa kau benar akan memberikan uang dengan Ikhlas?"


"Tentu, Aku punya banyak uang. Berikan ponselku, Akan Aku transfer sekarang,"


Pria asing bertubuh besar itu tampak memikirkan tawaran Farras, mereka juga tidak yakin dengan klien yang belum mereka temui, "Charge ponselnya!" perintah salah satu dari mereka kepada salah satu dari mereka.


Dan mereka pun menunggu baterai ponsel Farras sedikit terisi.


"Ini ponselnya," salah satu dari mereka menyerahkan ponsel Farras.


"Kalian harus melepaskan tanganku." Ucap Farras dengan tenang.


"Kau mencoba membohongi kami?"


"Apa kalian takut kepadaku?" Ujar Farras tersenyum mengejek dua orang asing bertubuh besar itu


Dua orang asing bertubuh besar itu merasa terhina, Mereka adalah sekelompok penyamun, begal berdarah dingin yang sudah terbiasa melakukan tindakan kekerasan, mereka tidak segan-segan membunuh korbannya. Bagi mereka orang yang seperti Farras, sekali pukul saja langsung knockout. Kedua orang itu pun memutuskan untuk membuka ikatan Farras dan menyerahkan ponselnya.


Setelah Farras mengirim uangnya, mereka berencana langsung membunuh Farras.


Farras membuka layar ponselnya, "Nomor rekening?" Tanya Farras masih dengan sikap tenangnya.


Keduanya pun kompak mengambil ponselnya dan mencari tahu nomor rekening mereka. Farras menyeringai melihat keduanya, dengan cepat Ia mengalihkan pisau dari tangan salah satu perampok itu. Tubuhnya sangat lihai menghindar serangan lawannya, begitu juga dengan tangannya dan kakinya sangat cepat dan tanpa keraguan menghantam bagian tubuh lawannya. Ia adalah mesin pembunuh yang sudah terlatih. Kedua orang tidak dikenal itu tidak mati, hanya terkapar tidak berdaya. Meski Ia sangat ingin membunuh malam ini. Ia tidak ingin mengotori rumahnya dengan darah.

__ADS_1


"Tenanglah, jangan khawatir, Aku akan tetap memberikan kalian uang kompensasi," Ujar Farras tersenyum kepada kedua penyusup yang menatap ke arahnya tidak berdaya. Mereka hanya bisa meringis menahan sakit, berberapa bagian tubuh mereka remuk.


Dengan tenang Ia menekan layar ponselnya sembari mengoreskan pisau yang tidak tajam itu di tubuh kedua penyusup. Siapa lagi kalau bukan Jagdish yang dihubunginya. lagi-lagi acara kencan Jagdish dengan kekasihnya nomor 4 terganggu oleh Farras.


"Lihatlah pisau ini tidak tajam," Ujarnya kepada kedua penyusup, goresannya tidak menghasilkan luka.


***


Sementara itu, di sisi lain.


Akhirnya Shezan mengajak Nina untuk menginap di apartment yang harus dijaganya. Ia tidak ingin mati beku di dalam lemari karena ketakutan harus melewati satu malam lagi.


"Pemandangan di sini bagus!" Seru Nina berdecak kagum.


"Pemandangan diluar bagus, di dalam suram kalau malam." Ujar Shezan menimpali.


"Hahaha. Kau masih saja penakut." ledek Nina.


Keduanya duduk menghadap jendela besar di salah satu kamar apartment itu. Mereka memakan kripik yang ditemukan dikabinet dapur.


"Jadian?"


"Kau tahu, Aditya. Ku kira kalian langsung jadian begitu dipertemukan kembali, clbk."


"Tidak, Sebenarnya Aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Kami hanya kebetulan satu kampus. Kebetulan dia kenal denganku waktu kuliah. Kebetulan ingatannya saja yang bagus." Bantah Shezan.


"Ha.. ha.. tidak ada yang kebetulan di dunia ini, Aku curiga jangan jangan dia suka sama dirimu?"


Shezan mengkerutkan keningnya, menggaruk dagunya. "Maksudnya?"


"Sudahlah, Kau harus menikah dengan orang yang mencintaimu Shezan." Ujar Nina. Ia memandang lurus ke depan. Memandang bangunan bangunan yang tampak kecil ditaburi cahaya.


Nina menghela nafas, "Kau tahu, seperti apa rasanya merindukan seseorang yang tidak pernah Kau temui? Saat terluka tiba-tiba Aku sangat merindukan kedua orang tuaku."


Shezan memandang saudarinya, tidak, Sahabatnya. Tentu Ia tahu perasaan seperti itu, Ia selalu merasakannya. Dadanya terasa sesak seperti kekurangan oksigen saat Ia merindukan seseorang yang Ia tidak tahu, siapa orang itu.


"Apa yang terjadi? Waktu itu Kau mengatakan akan segera bertemu dengan calon mertua, Apa tidak berjalan dengan baik?" Tanya Shezan hati-hati.

__ADS_1


Nina menggeleng, "Kau tahu, Ibunya sengaja berbicara kuat kepada anaknya, agar Aku bisa mendengarnya." Nina tertawa meratapi nasib. Orang-orang selalu mengatakan dirinya anak haram, sementara dirinya tidak tahu, dia anak siapa. Bukan kah itu sangat menyakitkan?


Shezan memeluk sahabatnya, "Suatu saat Kau akan menemukan orang yang lebih dan sangat baik dan bisa menerimamu."


Nina menggeleng, Ia mencoba memaklumi keadaan. "Semua Ibu sama, Mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk putranya." Terang Nina bernada bijak.


"Mertuaku tidak pernah bertanya tentang asal usulku. Apa dia tidak peduli anaknya nikah dengan perempuan mana saja? " Ujar Shezan, tanpa Ia sadar dirinya berkata apa.


Nina memandang Shezan heran, "Mertua mu? Kau sedang bermimpi?"


"Hah? Oh iya, bukan mertuaku, Mertua temanku. Teman."


"Jangan berbohong, semakin Kau berbohong, Kau semakin terlihat berbohong." Ujar Nina, Jika Shezan tidak mencoba berbohong, Nina akan berpikir Shezan hanya sedang mengigau.


Akhirnya, Shezan terpaksa berkata jujur kepada Nina, Ia menceritakan semua tentang pernikahan abstraknya, dari awal hingga akhir.


"Shezan..., Apa Kau percaya orang itu memberimu tugas menjaga apartment nya?"


"Iya," Shezan menganggukan dagunya. "Asistennya yang mengatakannya. " Ujar Shezan mengingatkan Nina. Ia sudah memasukan keterangan ini di dalam ceritanya.


Nina berdecak, Ia mencurigai sesuatu, "Mengapa Aku merasa, sepertinya orang itu mencoba untuk mencampakkanmu dari hidupnya."


"Tidak, dia bisa saja menceraikanku dan mengusirku. Mengapa harus repot repot menugaskanku untuk menjaga apartment nya?." Shezan menimpali.


Nina kembali berdecak, dalam menilai orang. Ia lebih pandai dari Shezan, "Apa dia ada menghubungimu? Apa dia menjawab teleponmu?"


Shezan menggeleng, Farras tidak menjawab telepon darinya. Entah mengapa hal itu membuatnya sedih dan khawatir, Apa dia baik-baik saja?


Nina mengangguk-angguk memahami sesuatu, "Saat ini dia sudah membawa wanita lain ke rumahnya."


"Apa?!" Entah mengapa Shezan merasa tidak merasa senang dan tidak terima jika Farras yang membawa wanita lain ke rumahnya.


"Dia hanya menyimpanmu dulu disini, mungkin dia berpikir akan memakaimu lagi nanti, bukan kah orang-orang seperti mereka begitu? mereka meletakkan simpanannya di apartmen." Nina mencoba mempengaruhi kepolosan otaknya Shezan yang terlalu malas berpikir.


"Simpanan?!" Ujar Shezan panik, Ia juga tidak mengerti mengapa Ia harus panik, tetapi entah mengapa Ia ingin panik.


Nina kembali mengangguk-angguk memahami sesuatu, "Hmm..Shezan, dirimu adalah ratu yang di gulingkan, dan diasingkan dari istana. Seperti dalam drama kolosal." Ujar Nina mencoba mencari garis lurus persamaan alur kehidupan Shezan dengan drama yang telah ditontonnya.

__ADS_1


__ADS_2