Finding Miss Right

Finding Miss Right
Peraturan Tidak Tertulis


__ADS_3

Suara alarm memanggil jiwa Shezan di alam mimpi dan membawanya ke alam nyata. Shezan membuka matanya, diraihnya ponsel yang sejak tadi berbunyi di atas meja sebelah tempat tidurnya.


Ia bangun dan merapikan rambutnya. Ia melihat ke arah meja kerjanya. Kertas sketsa nya masih berserakan di sana. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Namun, langkahnya terhenti. Ia seperti melupakan sesuatu.


"Apa semalam Aku benar-benar pergi tidur?" Ia tidak ingat. Ia ingat semalam bergadang menggambar sketsa nya. lalu tidak ingat lagi. Mungkin saja pergi tidur setelah selesai menggambar.


Setelah selesai membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya. Ia pergi melihat pekerjaannya semalam. Ia sedikit terkejut melihat pekerjaannya semalam. Ia tidak ingat tentang Ia telah membuat beberapa tambahan detail pada sketsa-sketsanya.


Tidak ingin membuang waktu, Shezan segera duduk dan melanjutkan menyelesaikan designnya. Ia seperti sudah mendapatkan Ilham.


***


Hani melihat desain daster yang menurut Shezan memiliki nilai kemewahan yang tinggi. Tidak butuh waktu lama, Ia menyerahkan kembali desain itu kepada Shezan yang masih berdiri di depannya.


"Kau bisa segera membuat sampelnya," Tutur Hani. "Jika ada hal yang ingin Kau tanyakan, tanyakan kepada Annindya." Lanjutnya kemudian.


"Baik bu," Shezan undur diri dengan perasaan tidak menentu.


"Apa Kau siap dengan tur 10 menit kita?" Ucap Annindya kepada juniornya, Shezan.


Sebagai senior, Annindya membawa Shezan mengelilingi tempat yang harus diketahui juniornya.


"Kau bisa mendiskusikan desainmu dengan penjahit sampel disini," Ujar Annindya menunjukkan studio kerja, di dalamnya ada berbagai macan tersusun rapi benang-benang, beberapa meja untuk membuat pola dan memotong kain, dan berbagai macam mesin yang rata-rata tidak diketahui Shezan, Ia hanya tahu mesin jahit biasa untuk menjahit biasa. Terlihat semua karyawan di dalamnya sibuk dengan pekerjaannya. "Tampaknya mereka semua sibuk, kau bisa menjahit sampel mu sendiri, gunakan mesin jahit yang ada sini." Annindya melanjutkan tur nya.


"Di sebelah sini bagian komputer desain, hmm tampaknya mereka semua juga sibuk, hehe. Kau bisa menggunakan mesin manual di sana, Apa kau bisa mengerjakannya sendiri?" Tanya Annindya.


"Di coba saja. hehe." Ujar Shezan, Ia tidak yakin bisa mengerjakan motif yang didesain pada rancangan dasternya.


"Ini adalah gudang bahan, kau bisa menggunakan material yang ada disini. Jika jenis kain yang kau inginkan tidak ada disini, kita bisa pergi ke lab." Ujar Annindya kembali memberi penjelasan. Ia kemudian memperkenalkan kepala gudang kepada Shezan.


Waktu 10 menit mereka telah berakhir.


"Baiklah, selasai sampai disini. Selamat bekerja." Ujar Annindya tersenyum ramah, Ia meninggalkan Shezan. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Baiklah Shezan, semangat! kamu bisa!" Seru Shezan dalam hati.




Farras membuka kamar Shezan tanpa ragu, Ia yakin perkiraannya benar. Penghuni kamar tersebut telah tertidur.


Ia melangkah masuk dengan tenang dan berdiri di sebelah Shezan yang tertidur di meja kerjanya.



Farras memandang Shezan tanpa ekspresi, "Berapa persen kemungkinan Aku menyukaimu?" Gumannya datar.



Ia memindahkan Shezan ke tempat tidur tanpa menimbulkan suara, kemudian menyelimutinya.


Farras beralih ke meja kerja Shezan, melihat apa yang dikerjakan Shezan.



\*\*\*



Jagdish duduk santai di kursi pijat di ruangan Farras, sementara bos nya sibuk bekerja dengan laptop nya.

__ADS_1



"Belum ada petunjuk yang mengarah kepada orang yang membenci Anda." Ujar Jagdish memberi informasi kepada Farras.



"hmm.."



"Anda tidak berpikir kita harus segera menemukan siapa orang yang membenci Anda?"



"Tidak," Jawab Farras tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop nya. Ia tetap duduk santai di kursi kebesarannya.



"Mengapa? Bukan kah orang itu sekarang sudah mulai serius membenci Anda? Dia menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Shezan." Ujar Jagdish memperingati Farras yang menurutnya terlalu santai menghadapi pembencinya.



"hmm.." Farras berhenti mengerjakan apa yang tengah dikerjakannya. Ia mengingat kembali kejadian yang sebenarnya. Posisi pelaku penembakan dan posisi Shezan secara tiga dimensi, jarak antara Shezan dan pelaku, sudut kemiringan senjata, kecepatan yang dihasilkan dari senjata yang digunakan pelaku.



"Dia tidak mencoba membunuh, hanya melukai sedikit saja." Ujar Farras tenang melanjutkan pekerjaan dengan laptop nya.



"Apa?" Seru Jagdish tidak percaya Farras masih bisa begitu tenang.




"Ayolah, tidak bisakah Anda membantu? berpikir sedikit, siapa orang itu?" Bujuk Jagdish. Ia bingung dengan dirinya sendiri, mengapa dirinya sangat bersemangat ingin menangkap siapa orang yang membenci Farras. Sementara orang yang menjadi sasaran tampak tidak peduli. *Lalu kenapa dia yang membujuk Farras, bukannya terbalik*?



"Mengapa Aku harus mengakhiri nya?" Tanya Farras, Ia tertawa. "Aku merasa ini semakin menyenangkan." lanjutnya kemudian.



"Apa?" Jagdish kaget tidak percaya. Ia sadar, Farras tetap lah orang gila, yang suka melihat pertumpahan darah.



Farras tersenyum kepada Jagdish. "Aku melakukannya dengan baik, benarkan?"



Jagdish menegang mendengar ucapan Farras. *Apa yang dipikirkan orang ini*?



"Jangan khawatir. Dia tidak akan mempengaruhiku. Aku tahu tujuannya adalah menginginkanku menjadi seorang psikopat seperti yang kau pikirkan." Ujar Farras kembali serius, dengan sikap tenangnya.



"Aku hanya sedang merenggangkan otot-otot yang kaku," Ujar Farras tersenyum samar.

__ADS_1



"Apa Anda sudah tahu siapa orang itu?" Tanya Jagdish menebak arah pembicaraan Farras.



"Bukan kah dia lebih gila dariku?" Farras balik bertanya, memberikan pendapatnya.



Jagdish membenarkan pendapat Farras. Orang yang membenci Farras lebih psikopat lagi. Dia membayar orang lain untuk dijadikan korban kegilaan Farras.



\*\*\*



Di studio kerja, Shezan mulai menggunting pola daster yang akan Ia buat. Ia sangat bersemangat menunjukkan kemampuannya.



*Kau mencemooh ku*?*huh*?


Shezan melampiaskan emosinya di tempat kerja. Ia menempelkan pola kertas yang Ia buat ke *dress form*. Ia mencucukkan jarum ke *dress form* seolah membayangkan yang dicucuknya adalah Farras.



Shezan berkerja dengan emosi dan semangat. Di rumah Ia tidak bisa melampiaskan emosinya kepada Farras. Ia harus bersikap manis melayani Farras dengan baik dan benar. Pekerjaannya di rumah adalah mengurus pakaian kotornya dan menyusun pakaian bersih di *closet* nya, melayani sarapan dan makan malam, Tidak ada yang lain.



Karyawan yang melihat Shezan bekerja dengan penuh emosional, berpikir Shezan adalah seorang pekerja keras.



\*\*\*



"Apa Kau sudah membaca peraturan tidak tertulis yang Ku kirim?" Tanya Annindya di sela-sela makan siang di cafeteria.



"Ah iya." Shezan lupa membaca peraturan tidak tertulis Myrtle. Segera Ia membuka ponselnya.



"Apa yang terjadi? Ku dengar Kau melanggar peraturan tidak tertulis." Tanya Annindya penasaran, Ia mewakili rasa penasaran karyawan lain.



*Apa ini*? Shezan membaca peraturan yang aneh. *Jangan bertemu dengan direktur selain pada saat meeting*.



"Mungkin Aku akan dipecat. Seminggu lagi." Jawab Shezan lirih.



Karyawan lain yang mendengar cerita Shezan memandangnya iba. Pantas saja Ia sangat bersemangat bekerja di saat-saat terakhirnya.

__ADS_1



\*\*\*


__ADS_2