
"Apa Kamu ingin jalan jalan?" Tanya Farras kepada Shezan yang masih terlihat frustasi.
"Tidak, Aku ingin di sini saja merenung." Jawab Shezan tidak bersemangat.
"oke." Ujar Farras membiarkan Shezan merenung sesuai dengan keinginannya.
Farras berencana kembali malanjutkan perkerjaannya yang tertunda. Namun melihat Shezan yang tampak mengenaskan dengan pikirannya, membuat perasaan Farras menjadi tidak enak, entah mengapa tiba-tiba Ia memiliki perasaan. Ia kembali mendekati Shezan dan berdiri di sampingnya.
"Aku bukan gay!" Seru Farras mengklarifikasi.
Shezan mendongak melihat Farras, dan kembali melihat jendela di depannya.
"Mengapa Kamu terlihat sedih jika Aku adalah gay?" Tanya Farras heran. "Bukankah Kamu tidak menyukaiku?."
"Aku takut jika bersama denganmu Aku juga akan menjadi gay karena terkena paparan radiasi." Ujar Shezan jujur.
"hmm..."
Farras tidak mengerti bagaimana memberikan penjelasan kepada Shezan, Ia memutuskan untuk Talk less do more.
Ia menarik lengan Shezan agar berdiri di depannya dan mendorongnya dengan pelan ke kaca jendela. Ia mensejajarkan wajahnya dengan Shezan. Farras tersenyum melihat wajah bengong Shezan. Ia menatap wajah Shezan dari sudut 45 derajat dan segera mencium lembut bibir Shezan. Ia menahan Shezan yang mencoba memberontak, dan lanjut melakukan aksinya yang kali ini lebih buas. Ia baru berhenti saat Shezan sudah tidak memberontak lagi.
Farras melepas Shezan.
hik..
Shezan tiba-tiba cegukan, nafasnya terengah-engah, Ia menutup mulutnya. Ia kaget dengan apa yang barusan dilakukan Farras.
"Apa Kamu ingin melakukan hal yang lain lagi?" Tanya Farras dengan nafas memburu
hik..
Shezan menggeleng cepat dan mengeser badannya ke samping kanan beberapa langkah menjauh dari hadapan Farras. Ia tidak ingin melakukan hal yang lain lagi. Meski Ia tidak tahu apa hal lain yang dimaksudkan Farras.
"Cukup bilang saja kamu bukan gay, tidak perlu harus melakukan ini kepadaku." Gerutu Shezan.
__ADS_1
Aku sudah mengatakannya! tetapi kamu masih tetap murung!
"Apa Kamu ingin tetap tinggal di sini Atau kembali pulang ke rumah?" Tanya Farras mengabaikan omelan Shezan, Ia tidak ingin bermain - main lagi dengan Shezan. Sebenarnya kamar Shezan sudah kembali seperti semula sejak semalam.
"Aku ingin di sini sebentar lagi," Ujar Shezan, Ia kembali menatap jendela di besar di depannya.
"Apa yang Kamu lihat dari tadi?"
"Tidak ada, Aku hanya berpikir. Menurut Kamu Aku bisa tidak menjadi perancangan busana yang sukses?" Tanya Shezan. Ia sedang berpikir mengenai nasibnya, menikah dan terjebak dengan pria aneh, karirnya juga tidak mengalami kemajuan.
"Kemungkinan besar tidak." Jawab Farras jujur apa adanya dan menusuk.
Shezan menghela nafas panjang, seharusnya Ia tidak bertanya kepada Farras. Tetapi apa boleh buat dia sudah bertanya. Perkataan yang sudah diucapkan tidak dapat ditarik kembali, sama seperti Ia memutuskan untuk kuliah Fashion design saat sadar tidak memiliki bakat, yang bisa dilakukannya hanyalah melanjutkannya. Meski harus mmenyelesaikan kuliahnya dalam waktu lama.
"Jangan khawatir, Kamu memiliki kemungkinan besar untuk sukses menjadi istriku." Ujar Farras mencoba menghibur.
Shezan tertawa mendengar ocehan Farras, Ia masih menikmati pemandangan di depannya. Menikmati kebahagiaan semu dengan mengandai andai menjadi seseorang yang dapat menggenggam semua yang tampak kecil.
"Aku tidak berpikir untuk berdiri di sampingmu. Aku rasa Aku juga tidak akan sukses menjadi istri mu," Ujar Shezan tertawa lirih. Ia benci menjadi orang yang terlihat, karena hanya hinaan dan cacian yang Ia terima.
"Ke mana?" Tanya Shezan menahan tangannya.
"Ke ranjang!" Seru Farras yang memahami Shezan juga ingin sukses menjadi istrinya.
"Apa Kamu ingin memiliki anak?" Tanya Shezan menebak mengapa sejak membawanya kembali pulang Farras suka mengatakan hal hal yang seperti itu.
"Anak?" Farras berpikir sejenak. "Aku tidak ingin Anak,"
Farras tidak pernah berpikir untuk membangun sebuah keluarga. Ia hanya ingin hidup bersama Shezan.
"Dia tidak ingin anak? Dia memang kompeni yang aneh." Guman Shezan tidak mengerti, mengingat semua orang yang menikah menginginkan anak.
"Tunggu sebentar.., Bukankah Aku juga aneh? Berani diajak menikah tetapi tidak berani diajak begituan. Apa ini yang namanya jodoh adalah cerminan diri? hah, Apa artinya kami benar berjodoh?"
Farras menjentikkan jari nya di depan mata Shezan, "Apa Kamu sedang berpikir? jangan khawatir, Kamu tidak perlu menggunakan pemikiran dan keahlian khusus untuk melakukan hal itu." Ujar Farras dengan santai.
__ADS_1
"Tentu saja harus berpikir tentang baik buruknya terlebih dahulu, " Tegas Shezan.
"Baiklah, Aku tidak memahamimu, tapi Aku menghormatimu." Ujar Farras dengan tenang.
Namun Ia pergi meninggalkan Shezan dengan kesal ke kamarnya. Lagi-lagi Ia harus menjadi orang yang penyabar, arif dan bijaksana. Ia membanting pintu kamarnya. Membuat Shezan terkejut dengan suara pintunya.
Apa dia mau menghancurkan pintunya?
Tak lama kemudian Farras kembali membuka pintu nya dan melihat Shezan yang berdiri di depan kamarnya. "Bereskan barangmu! Kita pulang sekarang!" Seru Farras.
***
Keesokan paginya Farras masih terlihat kesal di ruangannya karena tidak jadi menjalankan rencananya menghilangkan selingkuhan istrinya tanpa jejak.
" Turunkan jabatannya, terus menekannya dan membuatnya mengundurkan diri, membuatnya terlilit hutang hingga tidak mampu untuk berdiri, membuatnya kehilangan akal sehat hingga memilih untuk mengakhiri hidupnya." Ujar Farras kepada Jagdish dengan tenang.
"Seharusnya Anda tidak memberinya kesempatan dari awal. Bagaimana kalau Shezan menyukainya? Jangan membuat Shezan semakin membenci Anda. Bukankah Anda harus membuatnya menyukai Anda? kutukan Anda masih belum hilang." Ujar Jagdish mengingatkan agar Farras jangan terlalu kejam.
"hmmm... " Farras juga tidak tahu mengapa penglihatannya tidak kembali normal setelah bertemu kembali dengan teman kecilnya.
"Anda menggunakan kekuasaan Anda untuk menyelesaikan masalah pribadi?" Sindir Jagdish.
Farras menyeringai, "Apa yang kau coba bicarakan? Kau tahu Aku lebih suka melihat darahnya mengalir di kakiku."
Jagdish tertegun mendengar ucapan Boss nya, "Baiklah akan saya laksanakan rencana Anda, tindakan itu lebih terpuji dari pada harus membunuhnya." Sindir Jagdish. Hal itu juga hampir sama jahatnya. Sebenarnya Ia juga tidak menyukai Aditya saat pertama kali melihatnya bersama Shezan.
Sebuah pemberitahuan masuk ke ponselnya Jagdish. Sekertaris pribadi Farras mengingatkan tentang Menejer marketing yang akan bertemu dengan direktur.
"Apa Anda ingin main panahan dulu sebelum meeting ?" Tanya Jagdish kepada Boss nya yang bisa jadi mengalami fase emosional saat ini.
"Tidak!.Dia akan hanya memakai karung goni, Jika masih memperlihatkan kotoran sapi kepadaku! , &$#&! $&!" Seru Farras marah marah dengan bahasa yang tidak jelas.
Jagdish menghela nafas panjang. "Baik, Saya akan mempersilakannya masuk"
Jagdish hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang berkerja dengan orang yang kejam dan tidak konsisten seperti Farras. "Selama ini jika tidak menyukai sesuatu dia hanya diam tidak berkomentar apa-apa. Sekarang Aku tidak tahu harus memilih Boss yang dingin atau boss yang emosional." Keluh Jagdish dalam hati.
__ADS_1