Finding Miss Right

Finding Miss Right
Mi Amor


__ADS_3

Shezan berjalan dengan perasaan bingung menuju ruangan kerjanya, harus menyukai perbuatan Farras barusan kepadanya atau membencinya. Ia mengusap kasar bibirnya menghapus jejak Farras, "Tidak ada yang bisa aku lakukan selain mengumpatnya di belakang." Guman Shezan dalam hati.


"Ini tidak bisa dibiarkan," Shezan masih melanjutkan pemikirannya. "Jika begini terus bisa goyah, digombalin terus sama orang tampan." Bisiknya dalam hati. Cukup melihat Farras tersenyum saja sudah membuatnya terpesona.


Ia sudah membatalkan niatnya untuk membuat suaminya jatuh cinta kepadanya. Ia sadar hal itu tidak akan pernah bisa terjadi, Ia merasa dirinya hanya dianggap mainan. Mengingat Jagdish yang mengatakan Bahwa Farras tidak tertarik pada wanita lain. Lalu dirinya?.


Shezan tidak bisa lagi meminta petunjuk kepada Nina. Mengingat temannya sekarang berada di pihak Farras.


Sementara Farras terlihat bahagia berjalan menuju ke ruang pertemuan. Tidak ada hal lain lagi yang membuatnya bingung. Ia hanya menginginkan satu orang untuk hidup bersamanya. Shezan dan teman kecilnya adalah orang yang sama, tidak ada yang perlu disingkirkan.


"Saya mencium sesuatu yang mencurigakan." Ujar Jagdish yang telah menunggu Farras di depan lift melihat Farras yang tersenyum senang tidak seperti biasanya.


"Hmm." Farras tidak menanggapi Jagdish. Ia kembali bersikap tenang seperti biasanya. Ia akan menghadiri rapat rutin.


***


Shezan mengira masalahnya akan selesai dengan Aditya setelah Ia mengatakan yang sebenarnya. Tetapi bagi Aditya itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Jika pernah mendengar kasus cinta ditolak air keras bertindak, maka hal inilah yang tidak terjadi kepada Shezan.


Di ruangannya, Setelah selesai mengikuti pertemuan rutin. Farras melihat seseorang menghubungi istrinya di layar laptopnya. Ia tersenyum mendengar percakapan Shezan dan Aditya, "Dia serius ingin berselingkuh?" Guman Farras dalam hati.


Apa dia tahu apa artinya berselingkuh?


Ia melirik Jagdish yang tengah bermain mini golf di depannya. Ia ingin mencurigai Jagdish yang telah meracuni pikiran Shezan yang polos nggak punya pemikiran. Tetapi Ia urungkan kecurigaannya.


Farras melacak nomor yang menghubungi istrinya di laptopnya. Ia menemukan pemilik nomor itu adalah salah satu karyawan di tempatnya bekerja. Mereka sesama pekerja hanya saja jabatan Farras lebih tinggi di Myrtle. Ia tidak bisa memecat Aditya karena masalah pribadi. Ia tidak menemukan kesalahan pada pekerjaan Aditya, sehingga akan sulit memecatnya untuk alasan sepele.


"Anda bisa memecat orang tanpa alasan." Ujar Jagdish yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Farras, Ia mengintip layar laptop Farras. Bukankah Dia suka memecat orang sembarangan.


"hmm.. "


Mengetahui arti deheman Farras, Jagdish segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Pak Budiman agar memproses pemecatan Aditya.


"Tunggu!" Seru Farras yang sepertinya berubah pikiran, "Aku punya masalah pribadi dengannya." Ujar Farras kemudian. Mengingat hal itu tidak bisa diabaikan.


Jagdish membatalkan niatnya menghubungi Pak Budiman, "Seperti akan sulit menyingkirkannya." Ujar Jagdish mulai berpikir serius.


"Tidak ada yang sulit, tinggal bunuh saja." Pikir Farras tanpa beban.


Ia mulai menyusun rencana bagaimana melukai Aditya dengan cara yang baik dan benar. Ia tersenyum bahagia membayangkan realisasi mata pisau yang tajam mulai membelah epidermis, kemudian melewati lapisan dermis dan terdengar rintihan korbannya, darah mulai terlihat. Mata pisaunya tidak akan berhenti sampai disitu, masih akan meneruskan perjalanannya menuju jaringan lemak, dan berakhir menyayat jaringan otot. Setelahnya menjahit kembali sobekan sobekan yang Ia buat, ekspresi wajah korbannya akan lebih bagus saat jarum jahit menusuk kulitnya. Lalu mematahkan semua jari-jari kaki tangannya, dan...


"Saya tahu apa yang Anda pikirkan." Ujar Jagdish memotong pemikiran Farras. Ia masih berdiri di sebelah Farras yang saat ini tengah tersenyum jahat.

__ADS_1


"hmm.. "


Farras menurunkan level kesadisannya, Ia kembali lagi menyusun rencana baru menyiksa Aditya. Dan tersenyum bahagia dengan rencananya.


Tiba-tiba senyum licik bahagianya memudar begitu Ia teringat Aditya adalah Karyawan Ibunya. Jika Ibunya mencurigainya...


"Hmmm.. "


Suasana hatinya menjadi buruk karena tidak bisa menyalurkan hobinya. Farras mengambil ponsel nya, Ia ingin mengganggu Shezan yang mungkin saat ini tengah bekerja.


Ia mencurahkan tenaganya untuk mengetik pesan yang sangat panjang.


Mi Amor


Sayang, Aku sangat tersiksa merindukanmu sudah tiga jam tidak melihatmu. Bagaimana kalau nanti siang kita makan bersama?


^^^Audio^^^


Farras tidak tahu apa yang dikirim oleh Shezan, segera memutar audio tersebut. Jagdish yang juga berada di ruangan Farras sontak terkejut mendengar audio yang dikirim Shezan. Jagdish tahu Farras sedari tadi sedang mengetik pesan untuk Shezan. Melihat gelagat Boss nya yang lagi-lagi mencurigakan.


"Anda memang pantas diruqyah." Ujar Jagdish sependapat dengan Shezan.


"hmm... "


"Ah iya, Saya lupa memberitahukan Anda, Shezan berencana ingin berselingkuh agar bisa bercerai dengan Anda."


"Tidak ada."


Tentu saja rencanaku dari awal adalah membuat Anda mencintai gadis itu, dan sepertinya sudah berhasil. Tetapi melihat Anda ingin gadis itu tetap amnesia, membuat Saya mencurigai telah terjadi sesuatu yang buruk 20 tahun lalu. Pikir Jagdish, Ia mencurigai sesuatu.


Jagdish beranjak dari duduknya, Ia ingin segera pergi dari ruangan Farras untuk menyelamatkan diri. "Apa Anda khawatir Shezan akan tidur dengan lelaki lain? Padahal dia belum tidur dengan suaminya." Ujarnya meledek Farras dari balik pintu.


Sebuah pajangan terlempar ke arah Jagdish, beruntung dirinya lekas menutup pintu. Sehingga Ia lolos dari serangan Farras.


Perkataan Jagdish membuat Farras menjadi terusik. Ia tidak bisa tenang seperti biasanya. Jika biasanya Ia tidak peduli dengan Shezan yang pergi kemana saja dan bertemu dengan siapa saja, maka kali ini Ia benar-benar merasa sangat peduli.


Dengan gusar Ia kembali mengetik pesan untuk Shezan,


Mi Amor


😘 Apa artinya nanti siang kita makan bersama?


"Sial." Umpat Farras, Ini pertama kalinya Ia mengumpat. Shezan memblokir nomornya.

__ADS_1


Ia hendak pergi menemui Shezan di ruangannya, namun niatnya terhenti. Mengingat ada banyak pegawai wanita di ruang itu, Jika Ia mencari Shezan di sana. Itu akan menjadi masalah buatnya. Ia tidak bisa melihat kerumunan sosok yang menyeramkan, itu akan membuatnya mual dan pusing. Seperti terakhir kali mencari Shezan di restoran.


"Hmm.. " Kali ini giliran Farras yang bingung, mengapa Ia menjadi emosional. Biasanya Ia selalu tenang dalam menghadapi apapun.


krek..


Jagdish kembali membuka pintu ruangan Farras dan menyembulkan kepalanya, "Jika Anda butuh bantuan katakan saja, jangan malu bertanya." Ujar Jagdish tertawa mencemoohkan Boss nya yang masih amatiran merayu seorang gadis.


***


Sementara itu Shezan yang baru saja memblokir nomor Farras, menatap horor layar ponselnya. "Semoga saja setannya segera keluar." Gumannnya dalam hati.


Ia kemudian lanjut berkerja membawa kardus berisi bahan bahan untuk membuat sampel. Saat ini statusnya masih junior. Jadi selain membuat desainnya sendiri, Ia juga merangkap menjadi kurir.


Saat jam istirahat Shezan bersama Anindya makan siang di cafetaria. Hari ini Shezan benar-benar sangat lapar, Ia harus mengisi banyak energinya. Ia tidak tahu ke mana nasib akan membawanya nanti sore. Mengingat koper dan mesin jahitnya masih ada di kosannya Nina. Apakah suaminya yang sekarang mendadak aneh akan memaksanya untuk ikut pulang bersamanya? masih merupakan misteri bagi Shezan.


Ia seperti terombang ambing di tengah lautan, tidak tahu apakah harus berdamai dan menjalin hubungan baik dengan suaminya atau tidak. Mengingat setiap kali Ia mencoba menjalin hubungan baik dengan suaminya, ujung-ujungnya akan berakhir tidak sesuai rencananya.


Apa memang tidak ditakdirkan untuk bersama?


Shezan menghela nafas panjang memikirkan jalan mana yang harus Ia tempuh. Ia benar-benar bingung, meski Ia sering bingung, lebih jarang tidak bingungnya.


"Bagaimana orang yang Aku kenalin? Dia sudah menghubungimu?" Tanya Anindya merusak lamunan Shezan.


"Sudah." Jawab Shezan ala kadarnya.


"Terus?" Tanya Anindya penasaran.


"Yang angkat suamiku." Jawab Shezan tanpa sadar.


"Apa?!" Teriak Anindya tidak percaya, suaranya mengagetkan karyawan lain yang juga makan siang di cafetaria. Beruntung hanya satu orang yang tergigit nasi akibat mendengar teriakan Anindya.


"Eh." Shezan tersadar dengan apa yang baru saja Ia katakan. "Bapakku yang angkat." Ralat Shezan. Pernikahannya masih tetap menjadi sebuah rahasia.


"Oh, begitu." Ujar Anindya yang percaya saja atas perkataan Shezan. Ia tidak percaya Shezan telah bersuami, memiliki pacar saja sulit untuk dipercaya.


"Iya." Ujar Shezan menambah kebohongannya.


"Lalu bagaimana? Apa bapak kamu merestui?" Tanya Anindya, Ia berpikir Shezan hidup dalam keluarga yang taat, sehingga membatasi setiap pria yang mendekati putrinya.


Shezan menggeleng, "Dia mengancam akan membunuhnya." Bisik Shezan bernada serius, yang kali ini tidak berbohong


"Apa?" Desis Anindya bergidik ngeri dan gemetar.

__ADS_1


Dia hidup di dalam keluarga yang bagaimana?


.


__ADS_2