
Sirene mobil polisi terdengar di sepanjang jalan. Mobil tersebut mengangkut Farras menuju rumah sakit terdekat.
Shezan terus menangis, Ia sangat takut melihat Farras yang terlihat sudah pucat dengan pakaian sudah penuh berlumuran darah. Tangannya juga ikut berlumuran darah. Ia menyesali dirinya yang dengan mudah bisa diculik.
"Mengapa Kamu menangis? Apa kamu terluka?" Tanya Farras heran ditengah perjalanan mereka. Ia mengamati Shezan, mencari tahu apakah penculik itu telah melukainya. Ia tidak ingin gadis itu terluka.
Shezan menggeleng, "Kamu yang terluka hiks..darahnya sangat banyak." Jawab Shezan sesengukan.
"Tenanglah, Aku tidak akan mati." Ujar Farras tenang. Sesaat kemudian Ia kehilangan kesadaran.
Melihat hal itu membuat Shezan semakin menangis kuat dan memeluk Farras. Ia tidak mengira Orang itu akan mati demi menyelamatkannya.
"Dia akan baik-baik saja," Ujar Jagdish yang duduk di kursi penumpang bagian depan, Ia menenangkan Shezan.
***
Setibanya di rumah sakit, Farras segera dilarikan ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang tertanam di bahunya.
Jagdish melihat ke arah Shezan yang masih belum berhenti menangis setelah diintrogasi polisi yang membawa mereka ke rumah sakit, "Mbak baik-baik saja? Apa ada yang terluka?"
Mereka menunggu Farras di luar ruang operasi.
"Apa dia akan baik-baik saja? Dia terluka karena menyelamatkan saya." Shezan dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan.
Jagdish tahu betul, orang yang menculik Shezan adalah orang yang membenci Farras. Orang yang tengah mereka cari tahu. Jadi Farras terluka bukan karena Shezan. Jika ada yang harus meminta maaf, merekalah yang harus meminta maaf kepada Shezan karena telah membawanya masuk ke dalam situasi ini.
"Tidak, penculik itu.. " Jagdish ingin menjelaskan kepada Shezan, bahwa target penculik itu adalah Farras.
Namun kalimatnya terhenti karena Shezan memotongnya. "Tidak, penculik itu ingin menembak Saya, dan.. dan Farras. hiks.. hiks.. " Shezan tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Ia takut Farras akan mati.
"Apa?" Tanya Jagdish ragu, Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia sudah bertahun-tahun mengenal Farras. Orang itu bukanlah orang yang berhati lembut, Ia tidak memiliki empati dan emosional. Jagdish bisa memastikan Farras tidak mungkin mengorbankan dirinya untuk orang lain.
Jagdish menghela nafas panjang, "Mbak tenanglah, sebaiknya mbak membersihkan diri dulu." Jagdish menyerahkan kantong kertas berisikan pakaian baru untuk Shezan.
__ADS_1
Shezan melihat dirinya, darah Farras menempel di pakaian nya, Ia memandangnya ngeri. Orang ini benar,
Setelah Shezan pergi membersihkan diri, Jagdish mengambil ponselnya dan menghubungi Ibunya Farras.
Shezan tidak membutuhkan waktu lama untuk mencuci tangan dan wajahnya, serta mengganti pakaiannya.
Pintu ruang operasi dibuka, Shezan dan Jagdish segera menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu. Mereka tidak memiliki kesabaran untuk mendengar kondisi Farras.
Shezan akhirnya bernafas lega setelah mengetahui kondisi Farras yang baik-baik saja. Ia lega Farras tidak jadi meninggal dunia.
***
Farras tampak tertidur pulas di kamar rawat rumah sakit. Shezan duduk di sebelah Farras, Ia benar-benar mencemaskan manusia yang sejak tadi tertidur. Shezan berpikir Farras mengalami koma atau apa.
Sementara Jagdish duduk santai di sofa kamar itu, Ia tengah asyik bermain game dengan ponselnya. Tak tampak kekhawatiran di wajahnya. Penjahat yang menculik Shezan kondisinya lebih mengenaskan daripada Farras, mereka mengalami patah lengan dan kaki. Ia yakin Farras baik-baik saja. Sebutir peluru adalah hal yang kecil baginya. Orang kejam dan sadis sepertinya, biasanya matinya susah. Aktivitas main game nya terhenti saat ponselnya berbunyi, seseorang menghubunginya. Ia segera keluar meninggalkan Shezan dan Farras.
Berbeda dengan Jagdish, Shezan tidak mengenal Farras dengan baik. Ia berpikir Farras adalah anak kolongmerat yang tubuhnya sangat rapuh, serapuh guci kaca yang tersenggol sedikit, jatuh, pecah.
"Mengapa Dia masih belum sadar juga?" Bisiknya dalam hati.
Ia menghela nafas panjang, Apa yang harus aku lakukan? Tanyanya dalam hati, kemudian diliriknya lengan Farras yang sedari tadi tidak bergerak. Terlintas di pikirannya untuk menggengam tangan itu, seperti adegan drama yang Ia tonton.
Diambilnya tangan Farras, lalu digenggamnya tangan tak berdaya itu. Masih belum bangun juga.
Ia menatap wajah Farras yang seperti bayi tidak berdosa. Apa dicium saja?
Shezan menggeleng kepalanya mengeluarkan setan yang membisikan pikiran mesum di kepalanya.
Tidak ada yang salah, Kalian sudah menikah. Sepertinya setan mesum bersikeras tidak ingin keluar dari pikiran Shezan.
Shezan perlahan mendekatkan wajahnya ke kening Farras, Ini bukan kali pertama Ia mencium Farras. Namun sedetik kemudian Ia mengurungkan niatnya. Tidak, ini adalah perbuatan asusila yang memalukan.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara seseorang membuka pintu,
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Terdengar suara seorang wanita dari depan pintu.
Shezan menoleh ke arah pintu, tampak seorang wanita yang usianya tidak lagi muda dan Jagdish berdiri di depan pintu menatap ke arahnya.
Ia seperti maling yang kepergok hansip.
"Siapa kamu? Apa kamu baru saja mencium putra Saya?" Tanya wanita itu sekali lagi. Ia berjalan masuk.
Shezan bingung, mengapa mereka masuk di saat yang tidak tepat? dirinya belum melakukan apapun. "Tidak, belum, eh bukan, bukan seperti itu" Ujar nya.
"Mengapa kamu mencium Putra Saya?" Wanita itu tidak mempercayai Shezan.
"Benar mengapa kamu ingin menciumku?" Terdengar suara Farras juga ikutan bertanya.
Semua menoleh ke arah sumber suara. Farras sudah sadar dan tengah duduk di tempat tidurnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Shezan kaget.
"hmmm, iya setelah selesai di operasi Aku sudah sadar." Jawabnya tenang, mengabaikan pandangan heran orang di kamar itu.
Shezan benar-benar malu, ingin rasanya Ia menghilang saja. Ia benar benar mengutuk dirinya yang sudah terkontaminasi adegan drama. Sedetik ini Ia benar-benar menyesal sudah nonton drama.
"Sepertinya dia sudah beberapa kali mencoba menggodaku." Pikir Farras.
Sedetik kemudian Farras menarik lengan Shezan. Ia tersentak dan terdorong mendekat ke arah Farras. Tanpa basa basi Farras mencium bibirnya. Shezan melotot kaget, Ia ingin melepaskan diri. Namun Farras menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya.
"Aduh!"
Shezan terlepas dari cengkraman Farras, setelah sebuah tas wanita mendarat di kepala Farras. Farras memegang kepalanya yang sebenernya tidak begitu sakit, "Ma! kenapa memukulku?" Tanya Farras meringis kesakitan.
"Kelihatannya putra mama tersayang sehat-sehat saja." Ujar Ibunya Farras tersenyum. Nadanya terdengar lembut, namun menyiratkan kemarahan.
"hmm.. " Farras segera kembali berbaring dan mendadak menjadi orang yang tengah sekarat. Lebih baik dirinya berpura-pura sakit.
__ADS_1
Di sisi lain Jagdish mengangguk mengerti setelah melihat pemandangan yang baru saja Ia lihat. Mengapa Farras mau mengorbankan dirinya untuk orang lain, "Ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu," Pikirnya memahami.
***