
seorang pria dengan kemeja hitam dengan jasa navy dan celana senada berjalan cepat menuju kamar VVIP sementara seorang lelaki mengekor di belakangnya dengan menenteng banyak paperbag dengan simbol restoran ternama.
Meninggalkan ruang rapatnya Randall segera menuju rumah sakit setelah mendapat telfon dari Mella.
" braak.. "
" Mandy.. " Randall segera menghampiri seorang wanita yang duduk di ranjang rawatnya dengan baju pasien rumah sakit, nampak pucat namun tak mengurangi kecantikannya.
" Tuan..." senyum Mandy sumringah , entah apa yang membuatnya hari ini begitu ingin bertemu dengan Randall.
" apa kau sudah makan.."
" belum tuan .. aku hanya ingin bertemu dengan Anda " Malu sangat malu tapi kata itu terucap begitu saja dari bibirnya.
" begitu kah.. Kalau begitu aku akan menyuapi mu makan. kau ingin makan apa. aku membawa beberapa makanan untuk mu "
" apa ada cake cokelat "
" hmmm aku rasa ada. bukan coklat tapi black forest.. ok!!??" Randall pun mulai menyuapi Mandy dengan telaten.
__ADS_1
" ehem.. maaf Tuan hari ini apa boleh saya pulang. saya ingin membersihkan diri."
Mella memberanikan diri bicara.dia sedari tadi merasa jadi obat nyamuk. jiwa jomblonya sudah sesegukan ga tahan dengan kemanisan ini.
" hmm.. pulang dan kemasi barangmu dan Mandy mulai hari ini kalian akan tinggal bersamaku."
" tapi Tuan.."
" jangan membantah.vin antarkan dia pulang "
" baik Tuan "
setelah duo jomblo pergi.hanya tersisa dua insan yang canggung.dengan suara dentingan garpu kecil beradu.
Randall memperhatikan lekat wajah Mandy. rambutnya yang panjang hitam tergerai kontras dengan kulitnya yang seputih salju. mata yang indah.hidung kecil yang mancung, bibir tipis berwarna pink alami.sempurna.
" kau ingin makan yang lain.."
" tidak tuan sudah cukup "
__ADS_1
Randall meraih tangan Mandy, mengambil pemotongan gunting kuku di nakas dan mulai memotong keratin yang tumbuh berlebihan. jangan tanya wajah sendiri.rasanya sangat panas bahkan kau bisa memasak telur di pipinya.
" kenapa tanganmu seperti ini ??"
" kedua tangan ini adalah penganti mataku Tuan.aku memaksa mengajari mereka dengan keras.mungkin karena itu mereka tak selembut tangan orang lain.." Mata Mandy sudah berkaca-kaca. dia membuang mukanya tak ingin netra pria ini menatapnya.rasanya ngilu pertanyaan itu memaksanya mengingat masa lalunya.
Mandy yang tak buta sedari kecil membuatnya mempelajari segalanya dari Nol. dia sadar dia harus hidup dengan ini selama sisa hidupnya. tak ingin jadi beban orang lain.dia terus belajar mengurus dirinya sendiri.dan memutuskan untuk belajar merangkai bunga bukanlah hal yang mudah untuk seorang yang tak bisa mengunakan indra pengelihatannya. dia harus menghafal tiap bentuk bunga dengan meraba dan mengenal tiap aroma dari bunga tersebut.
sadar akan pertanyaannya yang membuat Mandy sedih. Randall segera merengkuh tubuh Mandy dengan lembut,mendekapnya erat. buliran air mata mulai bergulir membasahi pakaian Randall.
" mulai hari ini.. jangan menangis tanpa izinku"
" tidak bisa Tuan "
" hmmm.. kenapa " Randall mengerutkan dahinya.
" rumah Tuan jauh.. saya juga tidak bisa menelepon Tuan. saya tidak bisa menahan air mata saya kalau menunggu izin dari Tuan " dengan polosnya Mandy menjawab dengan masih terisak dalam pelukan Randall. air mata dan ingusnya sudah belepotan di jas milik Randall.
Randall terkekeh mendengar ucapan polos yang keluar dari mulut kecil Mandy.
__ADS_1
" kalau begitu menikahlah dengan ku dan kau juga sudah dengarkan hari ini kau dan temanmu akan tinggal bersamaku. "
" emmh.. " Mandy mengangguk kecil sambil terus mengusap matanya.