
Cukup lama mereka berkendara, sampai akhir mereka sampai di sebuah gereja berbentuk sepatu kaca, yang sengaja di buat untuk kaum wanita.
Gereja yang terinspirasi dari sepatu kaca Cinderella ini, membuat Mandy terpukau.
Randall membuka pintu mobil untuk Mandy, Mandy menurunkan kakinya perlahan, beberapa orang yang telah mempersiapkan pernikahan mereka pun datang menyambut.
"Nona mari ikut dengan saya" Ucap seorang wanita yang memakai kemeja putih dipadu dengan rok span pendek, Mandy melihat ke arah Randall seakan bertanya melalui matanya, Randall mengangguk kecil, Mandy pun menurut, berjalan mengikuti wanita itu.
Tampak sebuah mobil karavan putih besar, dengan dua orang pria berbadan besar di sisi pintu mobil, salah satu dari pria itu membuka pintu mobil untuk Mandy, dengan kikuk Mandy masuk kedalam karavan, sebuah gaun pengantin simple sedang fi bawa seorang wanita cantik di dalam karavan.
"Nona silahkan duduk," ucap wanita yang tadi mengajaknya, Mandy duduk di sebuah kursi rias yang berhadapan dengan kaca dan peralatan makeup lengkap di atas meja.
Wanita itu kini mulai merias wajah Mandy dengan lembut, dengan perlahan dia sapukan warna warna kalem di kelompok mata Mandy, make up yang natural namun Tampa elegan.
"Nona sangat cantik, Tuan Randall sangat beruntung dapat memperistri wanita secantik Nona" ucap wanita yang sedang meriasnya. Mandy hanya tersenyum dia sendiri tak percaya Randall akan langsung menjawab lamarannya dengan tindakan seperti ini.
Setelah selesai merias wajahnya, Mandy berganti dengan gaun pengantin yang di sediakan, rambut hitamnya di biarkan tergerai, dia hanya memakai sebuah tiara di rambutnya, para dayang membantu Mandy untuk turun dari mobil karavan dan mendampinginya berjalan sampai ke dalam gereja.
Sang pangeran telah menanti, memakai tuxedo hitam membuat dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Tangan Randall terulur untuk menyambut sang permaisuri, kedua mempelai berdiri berhadapan dengan kedua tangan yang saling bertaut, senyum yang tak lepas dari keduanya, saling memandang takjub satu sama lain.
Pendeta mulai menuntun ke dua mempelai untuk mengucap janji sehidup semati, setelah selesai berucap Randall mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku jasnya, kotak yang berisi dua cincin bermata batu safir, Randall meraih jari manis Mandy perlahan memasukan cincin ke jari kecilnya, kini giliran Mandy memasukkan cincin ke jari kokoh milik suaminya, sebuah kecupan hangat nan lembut mendarat di kening Mandy.
Pernikahan yang sederhana, hanya di hadiri oleh para pengawal dan MUA, serta Wo yang di sewa Vin, dan Vin sendiri beberapa kali menyeka air yang menggenang di sudut matanya. Atmosfer pernikahan yang selalu penuh bahagia dan haru, selalu sukses membuat orang lain meneteskan air mata.
"I love you" bisik Randall pada istri tercintanya.
"I love you more" Randall mengecup bibir Mandy singkat, dan langsung mengangkat tubuh kecil Mandy ala bridal, Mandy dengan manja mengalungkan kedua tangannya di leher Randall.
Randall menurunkan Mandy di sisi pintu mobil, Dia membuka pintu mobil untuk Mandy dan mempersilahkan sang ratu untuk masuk, Randall berjalan mengitari mobil untuk kemudian duduk di bangku kemudi.
__ADS_1
"Kita mau kemana, pulang?" tanya Mandy polos.
"No, kita akan bulan madu, sayang, aku sudah tidak sabar untuk memakan mu" Ujar Randall sambil mengerlingkan matanya. Wajah Mandy merona mendengar ucapan Randall.
"Jangan menggodaku, atau aku akan memakan mu disini" pipi Mandy yang merona merah, sungguh terlihat menggemaskan .
"Kapan aku menggoda mu," ujar Mandy sambil mengerucutkan bibirnya, Randall terkekeh melihat Mandy.
Randall mulai memacu mobilnya, dengan satu tangannya yang tak pernah lepas dari tangan Mandy, sungguh hati yang luar biasa baginya, sebelum sang Surya tenggelam dia mendapatkan lamaran dari kekasihnya, dan dapat langsung mengucap janji suci di hadapan Tuhan bersamanya, Randall merasa Tuhan sungguh terlalu baik padanya, sesekali Randall mengecup punggung tangan Mandy, menyalurkan kebahagiaan yang ia rasakan.
Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di depan sebuah hotel, Randall dengan sigap keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Mandy, mereka berdua masuk ke dalam di sambil para pegawai yang berjajar dan membungkuk hormat pada mereka.
"Tuan, dan Nyonya wick, selamat atas pernikahan Anda berdua" ucap seorang pria.
"Terima kasih" jawab Mandy dengan lembut.
Randall dan Mandy melanjutkan langkah mereka, sampai di sebuah pintu Randall segera menekan code akses pada gagang pintu, kamar yang luas dengan hiasan kelompok bunga mawar memenuhi ranjang king size.
"Kau suka," ujar Randall sambil terus menciumi leher jenjang istrinya.
"Aku sangat suka, terima kasih"
"Tidak cukup hanya dengan terima kasih" Randall mengangkat tubuh Mandy, merebahkannya di atas hamparan Kelopak bunga. mengungkung dengan tubuh kekarnya.
"Aku mencintaimu, Rea" ucap Randall dengan suara berat, Randall mulai menyatukan bibirnya.
Melu**tnya dengan lembut, menyesap belahan kental yang selalu terasa manis, tangan Randall tak tinggal diam, mulai menyusup ke dalam gaun pengantin yang istrinya kenakan, kini keduanya polos tanpa sehelai benangpun, nafas keduanya memburu Randall menyatukan kening mereka.
"Emmhhh" Mandy me***uh saat intinya terasa sesak dan penuh, kedua tangannya meremas sprei dengan kuat.
"Aku akan melakukan perlahan" bisik Randall sebelum dia menyesap bibir ranum istrinya, mengerakkan pinggulnya perlahan, sebelum dia menghujamkan junior dengan ritme yang cepat. membuat Mandy merasa kewalahan dengan permainan suaminya.
Puasa selama dua tahun membuat Randall hilang kendali, berkali-kali pelepasan namun dia seakan tak pernah puas, Bulan sudah bertengger di langit, namun dua insan itu masih bergelut di atas ranjang yang panas,
__ADS_1
"Ran..." Mandy menatap Randall dengan matanya yang sayu, kedua tangannya mengelayut di tengkuk Randall.
"Ini yang terakhir sayang"Randall mempercepat ritmenya. menyemburkan lava panas ke sekian kalinya dalan rahim Mandy.
"Rea," bisik Randall yang kini menengelamkan wajahnya di ceruk Mandy.
kini tubuh polos keduanya tertutup dengan selimut, Mandy menjadikan lengan Randall sebagai bantalnya, mereka saling berpelukan.
"Ran, bukankah ini hotel yang sama yang pernah kita singgahi dulu"
"Hmmm.. kau ingat" jawab Randall dengan mata yang enggan terbuka.
"Tentu aku ingat"
"Kau tahu di hotel ini tidak menerima acara pernikahan"
"Kenapa" Mandy mengerutkan keningnya.
"Hotel ini aku bangun untuk mu, dan aku ingin pernikahan yang pertama akan di adakan di hotel ini" ujar Randall sambil mempererat pelukannya.
"Tapi kita sudah menikah di gereja"
"Tidak masalah kita akan mengadakan resepsi Minggu depan"
"oh... Ran, kau sungguh manis" Mandy mengosongkan wajahnya di dada bidang Randall.
"Kalau kau seperti ini, dia akan bangun"
"Aku akan dengan senang hati menidurkannya" Randall membuka matanya, tersenyum menyeringai menatap istrinya.
"Jangan salahkan aku, jika kau tak bisa turun dari atas ranjang " Mandy hanya terkekeh sambil mengalungkan tangannya di leher Randall, dan mencium bibirnya singkat.
Randall menyibakkan selimutnya, bersiap melakukan pertempuran panas mereka.
__ADS_1