
Dua Minggu sejak meninggalnya nyonya Anna. namun Mandy masih sama murungnya. dia hanya lebih sering menghabiskan waktu duduk menghadap keluar dengan membiarkan jendela besar di kamarnya terbuka.kini dia tak lagi tinggal di kamar atas tokonya. kamar yang luas dengan sepasang sofa single tempat dia duduk sekarang.
" apa .. kau mau es krim " seorang wanita dengan membawa sekotak es krim tiga rasa menghampiri nya.
" em.. tidak kau saja "
Mella mendudukkan dirinya di sofa berhadapan dengan sahabatnya.sambil tak henti menyendok es krim ke mulutnya. kini Mella pun berlalu profesi menjadi pengasuh ibu hamil. profesi yang cukup santai dengan gaji yang sangat besar.
" aioouyah.. soudikuit souja.. "
" jangan bicara dengan mulut penuh. telan dulu es krim nya nona "
" emh.. apa kau tidak ingin berkeliling. sejak kita pindah kau tak pernah keluar kamar. kau tau calon suamimu Sangat khawatir.."
calon suami.aku telah memutuskan untuk menerima lamarannya.apa aku salah.apa aku pantas untuk menjadi istrinya.seorang seperti aku.mandy bergulat sendiri dalam hatinya.mandy bermonolog sendiri.
" Mandy kenapa... malah melamun "
" aku hanya sedang malas .. " jawab Mandy ala kadarnya.
__ADS_1
" oh ... ayolah!! biarkan kaki sedikit berolahraga " . Mella menarik paksa kedua tangan Mandy. mau tak mau Mandy menuruti kehendak sahabatnya.
Dua gadis ini berjalan mengelilingi mansion bergaya Mediterania ini. layaknya pemandu wisata profesional Mella menjelaskan ruangan ruangan yang mereka lewati meski hanya lewat saja Mella tidak berani membuka beberapa ruangan karena takut dimarahi kepala pelayan.
" dan akhirnya kita tiba di tempat favorit ku.. kolam renang.sini.. duduklah disini.dan nikmati suasana nya.. "
mereka menuruni beberapa anak tangga. Mella membantu Mandy duduk di kursi santai dan merebah diri di kursi sebelah nya.
Angin yang berhembus semilir membuat Mandy yang panjang sedikit berantakan. ia pun dengan lembut merapihkan anak rambutnya ke belakang telinga.menikmati suara gemericik air daun daun yang di belai lembut sang angin. burung yang berkicau riang membuat suasana hati Mandy membaik. akhir sebuah senyuman terukir di wajahnya.
Diam diam Mella mengambil foto Mandy dan mengirimkannya pada Tuannya.
Dua sosok pria tampan di sebuah mobil produksi otomotif kenamaan asal Inggris yang tergolong mobil paling mahal. melaju dengan kecepatan tinggi mengejar jadwal kerja mereka. perjalanan kembali ke kantor setelah menyelesaikan kontrak proyek baru mereka .
sepasang mata memandang dari kaca spion dalam mobil. memperhatikan tingkah Tuannya yang cukup aneh. terus memandangi benda pipih di tangannya sambil sesekali tersenyum. apa gerangan yang dia lihat.
" kosongkan jadwalku kita pulang.."
" tapi Tuan "
__ADS_1
" Vin "
" baik Tuan.." Tuanya ini tak bisa mendengar kata tidak. ah membayangkan Vin yang harus mengatur ulang semua jadwal tuannya. belum lagi klien yang akan protes dan lembur malam ini. membuat nya menghela nafas panjang.
setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di mansion .
" kembali ke kantor "
" baik Tuan.."
hu hu kita tidak akan bertemu lagi malam ini kasur empuk ku gumam Vin dalam hati.
Randall segera melangkah kan kaki dengan tenang memasuki mansion miliknya. beberapa penjaga membungkuk memberi hormat meskipun Tuannya tidak mengindahkannya. tapi mereka sudah terbiasa dengan itu.
" brak.." pintu kamar Mandy di buka dengan kasar.
Randall mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan mencari sosok yang membuatnya bolos kerja hari ini.
Gemericik air terdengar dari dalam ruangan. Randall yakin Mandy sedang berada di dalam. ia pun memutuskan untuk merebahkan diri di tempat tidur Mandy hingga akhirnya dia terlelap.
Aroma bunga menyeruak memenuhi ruang kamar mengusik Indra penciumannya. memaksa kelopak matanya terbuka menampakkan sepasang manik mata berwarna abu-abu.
__ADS_1
rambut yang tergerai basah kulit yang nampak lembab dengan lilitan handuk putih menutupi sebagian tubuhnya. tangannya meraba-raba tembok hendak mengambil baju yang telah di siapkan sahabatnya.di atas meja rias.salah satu tangannya hendak membuka ujung Handuk yang melilitnya.
" STOP.." " pemandangan ini sudah cukup menyiksa Randall. jika di lanjutkan bisa fatal akibatnya.