
Mandy terlelap setelah Jay datang dan memberikan suntikan padanya.
"Apa yang terjadi Jay kenapa dia tiba-tiba seperti ini " ujar Randall yang masih setia duduk di tepi ranjang sambil mengenggam tangan Mandy.
"Sepertinya dia memiliki trauma dari masa lalunya, apa yang terjadi di masa lalu yang masih tersimpan di alam bawah sadarnya, dan dia akan bereaksi saat melihat sesuatu , apa kau tahu sesuatu tentang masa lalunya."
"Orang tuanya meninggal karena kebakaran, hanya itu yang aku tahu, bahkan menurut yang aku tahu Mandy juga termasuk korban di meninggal dalam kebakaran, tapi seperti yang kau lihat dia hidup, aku yakin ada sesuatu di balik kejadian itu "
"Apa kau sudah menyelidiki tentang kebakaran itu"
"Tentu saja, bahkan sebelum aku bertemu Mandy aku sudah mencari informasi tentang keluarganya, tapi nihil, semua bukti sudah hilang" Randall mengusap wajahnya kasar.
"Sepertinya kau harus membawa Mandy ke psikiater, dia perlu penanganan khusus"
"Kenapa tidak kau saja, saat ini aku tidak bisa percaya pada orang lain"
"Kau gila yang kau butuhkan seorang psikolog bukan Ahli bedah, ya meskipun aku memang pintar dan tidak sombong " Jay membenahinya jas.
"Ciiih... Dokter gila , kau urus saja Carikan aku psikologi wanita ingat wanita, kalau tidak kau buat kau impoten" ancaman Randall dengan muka dinginnya.
__ADS_1
"Jangan terus mengancam ku, memang apa yang akan kau lakukan padaku heh" Ucap Jay tak mau kalah.
"Hhemm... akan ku suruh Mateo memotong junior mu, mencincangnya dan memberikan pada ikan, aku yakin Mateo dengan senang hati akan melakukan nya" ucap Randall dengan smirk di bibirnya.
Jay ngilu di bagian anunya mendengar perkataan Randall.
"Dasar psikopat," ujar jay sambil membanting pintu kamar dengan keras.
"Hey.. Dokter gila kau benar benar mau mati ya"
Randall menutup kedua telinga Mandy dengan tangannya.
"Apa yang terjadi dengan dirimu, masa lalu mu masih menjadi misteri bagi ku, tapi aku berjanji aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti mu" ucap Randall sambil mengecup lembut kening Mandy.
Ceklek
Seorang wanita duduk di samping tongkat yang menjadi kaki ke tiganya, seorang pria dengan membawa nampan yang berisikan makanan muncul dari balik pintu.
"Cepat makan jangan sampai kau mati kelaparan" ucap pria itu datar.
__ADS_1
wanita itu hanya diam Tampak tak mengindahkan keberadaan pria itu, sepertinya dia memang ingin mati, dia bahkan telah mencoba memotong urat nadinya beberapa kali namun selalu gagal, karena pria yang datang memberi dia makan selalu datang di waktu yang tepat.
"Jadi kau berencana mati kelaparan heh, terserah itu lebih baik karena kau akan mati secara perlahan-lahan bagus juga, kau akan menikmati setiap rasa sakit dalam tubuhmu mungkin itu akan meringankan dosa mu" ujar Mateo dengan senyum mengejek.
"Tuan apa yang ku lihat benar" tanya wanita itu dengan bibir gemetar.
"Apa maksudmu"
"Apakah Mandy masih hidup, apakah yang aku lihat benar benar dia," kali ini Mella tidak bisa menahan diri untuk bertanya, beberapa hari lalu dia melihat Mandy sedang bermain di tepi kolam renang, dia ingin memastikannya.
"Kalau benar kenapa? apa yang akan kau lakukan" Mateo menaruh nampan di nakas lalu mendekati wanita berambut pendek itu.
"Bisakah aku menemuinya tuan tolong Tuan... tolong saya ingin bertemu dengan Mandy" Mella mengiba, dia ingin mendapatkan ampunan dari sahabatnya, dia pun merosot menjatuhkan diri di kaki Mateo.
" Apa yang kau lakukan dasar wanita menjijikkan" Mateo berjongkok , mencengkeram dagu Mella.
"karena perbuatan mu Nona Mandy kehilangan bayinya, dan sekarang dia lupa ingatan, aku harap dia akan terus melupakan penghianat seperti mu" ujar Mateo, menatap tajam pada manik mata Mella.
Rahang Mella terasa sakit namun hatinya lebih sakit mendengar kalimat yang dia dengar, air mata sudah membanjir pipinya, semua karena dia karena keserakahannya menyesal namun semua sudah terlambat, dia ingin meminta maaf selanjutnya terserah dia mau dihukum seperti apa dia pasrah.
__ADS_1
"Kau tau kenapa Tuan Randall melarang ku untuk membunuh mu, karna dia ingin kau tersiksa dengan hidup mu" Mateo menghempaskan kasar dagu yang di cengkeramannya, melangkah meninggalkan Mella yang menangis, meraung keras menyesal dosa yang telah ia perbuat, Mella memukul mukul dadanya berharap sesak di dadanya sedikit menghilang.
penyesalan memang selalu datang belakangan, maka kendalikan dirimu sebelum semuanya terlambat.