
Malam semakin pekat tak seperti biasa malam ini begitu hening, tak ada gemerisik angin yang membelai dahan dahan pohon, seorang wanita tenga berjongkok di tepi kolam memperhatikan pantulan dirinya dalam air yang tenang, setiap malam selalu setelah kepulangannya beberapa hari yang lalu, dari perjalanan yang menyisakan kekecewaan yang besar pada dirinya sendiri.
pyok ..pyok...
kepalan tangannya memukul mukul bayangannya dalam air, berharap sesak di dadanya sedikit berkurang, kilatan amarah nampak jelas di matanya, cipratan air membasahi tubuhnya. Dingin tak ia rasakan rasa kesal ia tumpahkan pada air yang tak bernyawa.
Suara deru mobil memasuki Mansion menyadarkan Mandy dari kecamuk di hatinya, ia kenal betul suara mesin itu, dia pun membangkitkan tubuhnya, mulai mengayunkan kakinya namun langkahnya terhenti di dipan sebuah bangunan yang terpisah dari Mansion utama.
prang...prang....
Vas bunga, dan barang barang lain berserakan
"apa yang kau lakukan"
"tolong...tolong!!!, Tuan aku ingin bertemu dengan Mandy," Mella mengiba di kaki Mateo.
"apa yang kau inginkan" Mateo menatap tajam mencengkeram dagu Mella.
"Mella"
sebuah suara membuat keduanya tersentak, Mella yang sudah bersimbah air mata menatap nanar pada seseorang wanita yang berdiri di pintu yang setengah terbuka.
"Mella... Mella.. apa kau benar benar sahabatku Mella" dengan langkah gemetar Mandy mendekatkan diri kepada wanita yang bersimpuh di kaki seorang pria. pria itu melepaskan tangannya dari Mella, dan membungkuk hormat pada Mandy.
"Nona tidak seharusnya ada di sini"
Mandy tak mengindahkan ucapan pria itu, dia turun bersimpuh di samping sahabatnya, tangan Mandy mulai meraba wajah wanita yang ada di depannya memastikan dia adalah seorang yang ia kenal. perlahan tapi pasti air matanya mulai menetes saat jemarinya mengenali wajah itu.
"Mella" Mandy memeluk erat tubuh sahabatnya yang kurus, keduanya kini berderai air mata. hanyut dalam rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata, meluapkan apa yang terpendam dalam batin mereka.
"maaf.... maafkan aku.... maaf...."dengan bibir yang gemetar Mela berusaha mengucapkannya.
Mandy melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah sahabatnya, Mandy mengeleng pelan. mengenggam erat kedua tangan Mella.
"aku juga minta maaf Mell"
__ADS_1
"semua orang pernah melakukan kesalahan ...aku juga minta maaf sudah merepotkan mu selama ini"
"apa yang kau katakan kenapa kau minta maaf, aku... yang membuat mu kehilangan bayimu, aku yang membuatmu berpisah dengan Tuan, aku yang jahat... aku yang jahat" Mella semakin terisak. Mandy kembali memeluk sahabatnya, menepuk punggungnya pelan.
"aku tahu, tapi aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mu, aku juga salah"
"kenapa kau tidak marah, marahi aku Man...pukul aku"
"semua itu tidak akan mengembalikan bayiku Mell, tapi aku akan menghukummu"
"kau harus selalu menjadi sahabatku yang setia selamanya" imbuh Mandy. Mella hanya mengangguk dalam tangisnya, dia sungguh sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Nona Anda tidak seharusnya berada di sini" suara seorang pria yang sedari tadi menjadi penonton setia mereka, Mandy menoleh berusaha mengingat si pemilik suara.
"kau.... emh... Mateo"
"iya nona, tolong Anda kembali ke Mansion utama, saya rasa Tuan tidak akan suka melihat Anda disini" wajah Mateo terlihat sangat cemas.
"kenapa.... aku masih ingin disini bersama Mella"
akhirnya Mandy menuruti perkataan Mateo, Mandy bangkit dari lantai Lalau menarik tangan Mella untuk berdiri bersamanya.
"Aku akan kembali lagi besok" ujar Mandy pada sahabatnya "emh... Mateo maaf, tapi apa aku bisa minta tolong padamu"
"tentu Nona"
"tolong kau bersihkan tempat ini, dan jaga Mella untukku"
"baik Nona"
"Terima kasih" setelah memeluk singkat sahabatnya Mandy pun pergi ke Mansion utama.
******
Kekacauan terjadi di dalam Mansion, Randall yang tidak menemukan Mandy di dalam kamarnya panik seakan Dejavu dia sangat takut semua terulang kembali. beberapa penjaga nampak menjelajahi setiap sudut dalam Mansion sementara Vin sibuk mengecek cctv.
__ADS_1
"RAN.. ada apa" Mandy merasa bingung melihat Randall terduduk lesu tertunduk di tepi ranjang miliknya.
seketika Randall mendongakkan kepalanya di, menatap Mandy yang ada di hadapannya.
"kemana saja kau" Randall menatap tajam dengan matanya yang merah.
"aku...aku" Mandy gugup.
"Jawab"
Mandy terjingkat mendengar nada suara Randall, air matanya Mandy bergulir perlahan membasahi pipinya. Randall bangkit dari duduknya meraih Mandy dalam pelukannya.
"maaf....aku hanya takut kau akan meninggalkan ku lagi" suara Randall mulai merendah.
"emh...tidak apa apa" Mandy berusaha menghentikan tangisnya.
"aku sangat khawatir saat tidak melihatmu di kamar, kemana kau pergi"
"aku pergi ke kolam, dan... aku menemukan Mella"
"kau menemui nya" Randall melonggarkan pelukannya dan menatap Mandy intens, terlihat kemarahan di raut wajahnya.
"iya.. terima kasih, masih menerimanya disini."
"aku tidak membiarkan hidup untuk bertemu denganmu, aku ingin dia menyadari kesalahannya sendiri" Randall membuang mukanya.
"iya...aku mengerti tapi terima kasih atas semua, boleh aku minta sesuatu" tatap Mandy memelas.
"tergantung bagaimana kau memintanya"
Mandy mulai menyentuh leher Randall mengusapnya lembut ke dagu dan menyentuh bibir seksi kekasihnya.
"bolehkah Mella kembali ke Mansion utama"
"akan aku pikirkan" jawab Randall singkat, ia melepaskan pelukannya dan meninggalkan Mandy di kamarnya.
__ADS_1
Mandy hanya terpaku menatap punggung Randall yang berlalu sampai akhirnya tak terlihat sama sekali.