Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 51


__ADS_3

Kruuuukk...


suara cacing yang berdemo dalam perut Mandy terdengar memecah keheningan dua yang insan yang sedang berpelukan itu, malu Mandy mempererat pelukannya agar Randall tidak melihat wajahnya.


"apa kau lapar sayang" ucap Randall sambil tak henti mengecup pucuk rambut Mandy, tidak bersuara Mandy hanya mengangguk.


"ayo kita makan di luar" Randall melepaskan pelukannya dan mengandeng tangan Mandy.


"aku membawa makan siang kita makan di sini saja"


"Benarkah..?"


"eh.. Hem" Mandy mengangguk pelan.


"kalau begitu cepat kita makan kenapa kita masih berdiri di sini"


Randall melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mendudukkan dirinya, sementara Mandy dengan langkah perlahan mengambil paperbag di meja kerja Randall, melangkah sangat pelan mendekati Randall, wajahnya masih tengelam dalam tirai rambutnya, antara malu dan gugup, jantungnya dari tadi berdegup tak karuan, mengingat apa yang baru saja dia lakukan dia takut Randall merasa illfeel padanya, Randall tersenyum melihat tingkah Mandy.


Bukk..


Mandy limbung terjatuh di pangkuan Randall, saat Randall menarik tangannya.


"eeehhh.... makanan bisa jatuh"


"tapi tidak kan, kau terlalu lamban perut ku sudah lapar"


"iya tapi tidak seperti ini" Mandy mengerakkan tubuh hendak turun dari pangkuan Randall.

__ADS_1


"tetap seperti ini, aku merindukanmu"ujar Randall sambil menengelam kan wajahnya di ceruk leher Mandy yang jenjang, mengecup meninggalkan bekas memerah disana.


"tapi kalau seperti ini aku tidak bisa menyiapkan makanannya" Mandy mengeliat geli.


Randall meraih paperbag dari tangan Mandy dan mengeluarkan kotak makanan.


"kenapa ada tiga" Randall menaruh kotak satu persatu di atas meja.


"satu untukmu, satu untukku dan satu lagi untuk Vin"


"Vin...kau juga akan memberikan ini padanya" Randall menatap Mandy kesal.


"tentu dia sudah berkerja dengan keras bukan" Mandy mencoba menjelaskan.


"CK baiklah terserah, sebagai hukumannya kau harus menyuapi ku"


"hukuman... apa aku berbuat sesuatu yang salah?"


"orang lain??" otak Mandy sejenak berputar, ah.. apa mungkin Randall cemburu aku membawa makanan untuk Vin batin Mandy.


"baiklah Tuan besar, ucapan mu adalah titah untuk ku" ucap Mandy dengan tersenyum.


"kau sungguh" Randall sudah mendaratkan ciuman dibibir Mandy, mel*m*tnya dengan lembut, mata Mandy membulat mendapat serangan dadakan seperti ini namun akhirnya dia turut memejamkan mata menikmati sentuhan kekasihnya.


Randall menekan tengkuk Mandy memperdalam pagutannya, satu tangannya sudah mulai traveling setelah berhasil membuka dua kancing baju Mandy meremas gemas gundukan daging yang tersembunyi dalam pengaman itu, ******* yang tertahan di antara tautan bibir mereka membuat Randall semakin menggila, ciuman yang semula lembut kini jadi semakin panas dan menuntut, Randall melepaskan tautannya kini mulai menjelajahi leher jenjang Mandy menciumi dan meninggalkan bekas kepemilikan di sana Mandy lenguhan keluar dari bibir Mandy saat Randall semakin turun mengecup dua gundukan di dadanya, lama dia bermain di sana membuat si empunya mengeliat merasakan permainan.


"Ran.."lirih Mandy, meremas rambut kekasih. sejenak Randall menghentikan aksinya memandang manik Mandy dengan mata yang sudah berkabut dan kembali mendaratkan ciuman di bibir Mandy lebih dalam lagi kali ini dia bermain di dalam mengabsen tiap inci gigi mandy, menarik dengan benda lembut tak bertulang.

__ADS_1


"Tuan.. " Vin yang baru saja masuk langsung menunduk mendapati pemandangan panas itu, rasanya di menyesal sudah masuk sekarang.


Mendengar sua Vin Mandy terkejut, dia memukul mukul dada Randall memintanya untuk berhenti, Randall pun melepaskan pagutannya, Mandy langsung menyusupkan wajah di lengan besar Randall, sungguh memalukan Vin melihatnya seperti ini.


"ada apa" Randall menatap tajam pada Vin.


"maaf tuan ini beberapa berkas yang harus Anda periksa" Vin menelan ludah kasar.


"CK....taruh saja di sana"


"baik Tuan" Vin pun menaruh berkasnya di atas meja kerja Randall, membungkuk hormat dan hendak pergi.


"tunggu bawa makan siang mu, kau senang kan Mandy membawakannya untuk mu" ujar Randall dingin.


"baik Tuan.. terima kasih nona"


"sama sama, Ambi kotak yang berwarna merah" ujar Mandy tanpa memalingkan wajahnya.


Vin pun mengangguk dan mengambil kotak makan merah yang di maksud, lalu dia segera meninggalkan ruangan Tuannya.


"kenapa harus yang merah apa ada yang spesial untuk Vin"


"tidak bukan begitu...itu masakan Mateo, yang dua ini aku sengaja memasaknya sendiri" lirih Mandy.


oh Tuhan kenapa kau sangat menggemaskan, bolehkah aku memakan mu sekarang. batin Randall sambil mengigit gemas telinga Mandy.


"kita lanjutkan lagi" bisik Randall, seketika Mandy mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"tapi aku lapar" Mandy memandang Randall dengan puppy eyes.


"baiklah kita lanjutkan di rumah" Randall membenahi baju Mandy yang sudah di buat berantakan olehnya.


__ADS_2