
Setelah insiden darah infus di kamar Randall memerintahkan Vin untuk menyelidiki kejadian di balik kebakaran yang terjadi, seperti tak terjadi apa-apa Mandy kembali seperti semula namun yang berbeda adalah pipinya bersemu merah jantungnya berdegup kencang tiap kali dia bertatap muka dengan Randall, seperti hari ini saat mereka sedang menyantap sarapan.
Hening hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring, Mandy terus menundukkan kepalanya melahap sarapannya dengan terburu buru, bukan apa apa duduk berdekatan dengan Randall saja sudah membuat jantungnya serasa ingin melompat keluar.
" pelan pelan tidak ada yang akan merebutnya darimu " Randall merasa heran dengan Mandy yang terus-menerus menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
" uhuk... uhuk... " Mandy memukul dadanya dua menelan makanan tanpa mengunyah dengan benar membuat dadanya sesak karena karena gumpalan yang tak mau turun.
" sudah aku bilang pelan pelan " Randall menghampiri Mandy, menyodorkan segelas minuman mendekat ke bibirnya.
Mandy membuka mulutnya dan meneguk air itu dengan kasar, ia merasa lega gumpalan itu akhirnya turun dengan dorongan air dari kerongkongannya, Randall mengusap punggung Mandy mengerakkan tangannya naik turun.
" apa sudah lebih baik "Randall mendekatkan wajahnya.
mendapat perlakuan seperti ini membuat tubuh Mandy menegang, berdekatan dengannya saja sudah membuat Mandy merasa tidak karuan apa lagi ini, wajah Mandy semakin memerah tanpa aba aba Mandy bangkit dari kursi meja makannya mendorong tubuh Randall menjauh dan mengeluarkan jurus seribu langkah, sembunyi pokoknya dia mau menyembunyikan wajahnya.
Randall mengerutkan dahinya melihat punggung Mandy yang berlalu meninggalkannya.
" apa dia juga memiliki trauma padaku, atau.... " sebuah senyuman terukir di wajahnya, ia melangkahkan kakinya Mengikuti jejak Mandy, sampai di pintu sebuah kamar Randall mulai mengetuknya.
Tok.. tok..
" Mandy apa aku boleh masuk "
" Tidak boleh" Mandy berteriak dari balik selimutnya, Mandy duduk bersila di atas ranjang sambil membungkus diri dengan selimut berharap bisa menormalkan detak jantungnya.
Terlambat Randall sudah di dalam kamar, mengendap endap seperti pencuri.
Greep..
Randall memeluk Mandy yang masih berbungkus selimut, wajah Mandy terasa panas suhu dalam selimut meningkatkan drastis, jantungnya berpacu dengan kencang.
" kita lihat berapa lama kau bertahan di dalam sana " bisik Randall.
Mandy merasa semakin pengap, sepertinya kadar oksigen dalam selimut sudah menipis keringat sudah mulai membasahi tubuhnya, nafas Mandy mulai sesak mau tak mau akhirnya dia membuka selimut yang menutupi kepalanya.
cup..
baru saja wajahnya menyembul dari balik selimut, Randall sudah mendarat ciuman singkat di pipinya, wajah Mandy kembali memerah.
__ADS_1
" kenapa tiba tiba, tuan selalu mencuri kesempatan " Mandy memanyunkan bibirnya.
" baiklah kalau begitu aku akan izin padamu, aku akan mencium mu "
" ti..
cup .. cup..
Mandy bahkan belum menyelesaikan satu kata Randall kembali mendaratkan ciuman dibibir ranumnya.
" jangan cium terus..." Mandy merengek di merasa kesal karena tak berhenti membombardir wajahnya, Randall menghentikan aksinya, memandang wajah Mandy sesaat mengangkat kedua alisnya.
" kau mau yang lain " Randall mengerlingkan matanya nakal.
Dukk..
Mandy menghantam keningnya ke kening Randall, hingga membuat Randall meringis dan mengusap keningnya.
" ish... sakit "
Mandy hanya memanyunkan bibirnya, menatap tajam pada Randall.
" baik baik aku tidak akan melakukannya lagi ,aku akan ke kantor, jangan nakal di rumah " Randall melepaskan pelukannya kalau mentoel hidup Mandy.
" hmmm apa kau akan merindukan ku," Randall bangkit dari kasur empuk, mengacak rambut Mandy dengan tangannya " aku baik baik saja, bermainlah dengan Arnold jika kau bosan"
" Arnold?, siapa Arnold? "
" kucing peliharaan mu "
mata Mandy membeliak lebar .
" kucing? aku punya kucing? "
" ehem... " Randall mengangguk kecil sambil merapikan jasnya. " kau bisa bertanya pada Mateo dia akan menunjukkan kamar kucingmu ".
cup
satu kecupan lagi kening Mandy.
__ADS_1
" aku berangkat dulu sayang "
" hati hati " kata sayang yang di dengarnya membuat Mandy tersipu malu.
Randall pun tersenyum dan melangkah keluar kamar mandy.
*******
seorang pria memakai jas abu keluar dari Royce kesayangannya, semua orang menunduk hormat , Pria itu datar tak memperdulikan Sekitar di terus melangkahkan kakinya.
Ting..
Randall memasuki lift dengan Vin mengikuti di belakangnya.
" Vin apa kau sudah menyiapkan semuanya "
" tentu Tuan, semua sesuai dengan keinginan anda "
" kerja bagus "
" Terima kasih, Tuan " Vin membungkuk hormat, mengulum senyum dalam diam.
Ting
pintu lift terbuka Randall dan Vin bergegas menuju ruangan masing masing, tak berapa lama Vin masuk ke dalam ruang Randall dengan membawa setumpuk dokumen yang harus di periksa langsung oleh Tuannya, Vin membacakan semua jadwal Randall hari ini.
" haaah .. tidak bisakah aku pulang lebih awal Vin " Randall menghembuskan nafas panjang, dia tak mau berpisah dengan Mandy terlalu lama.
*****
sepasang manusia duduk berhadapan di teras sebuah cafe, mereka terlihat membicarakan sesuatu yang serius.
" Bagaimana apa kau sudah mendapatkan caranya " seorang wanita berambut pirang nampak tak sabar, menatap pria yang sedang menikmati segelas capuccino miliknya.
" kau tenang saja, serahkan sepenuhnya padaku " pria dengan senyum smirk.
" aku hanya ingin wanita itu pergi, cih... kenapa wanita itu tidak mati saja " wanita ini tampak kesal.
" tenanglah nona kau akan mendapat apa yang kau mau "
__ADS_1
" tentu, kau akan menyesal kalau sampai gagal " wanita itu bangkit dan berlalu meninggalkan cafe.
" bukan hanya kau nona ,tapi aku juga ingin segera menemui anak tiri ku tersayang " ujar pria itu lalu kembali menikmati kopi miliknya.