
" sayang.. aku tidak akan pernah marah padamu ok. jangan menangis lagi. " entah insi dari dewa nama Randall memanggil sayang.yang ia tau dua hanya ingin membuat Mandy tenang.
Air mata Mandy pun seketika terhenti dengan kata ajaib itu.walaupun masih terisak setidaknya kini dia sudah lebih tenang.
" katakan apa kau merindukanku.."
" ehm... " Mandy hanya mengangguk sambil menghapus sisa air mata di pipinya.
" emh.. apa aku tidak mendengar apa apa " Randall sengaja mengoda Mandy karena mungkin dia tidak sadar mereka sedang melakukan video call.
" i..i..ya aku rindu.aku rindu wangi mu." Mandy tersipu malu pipinya sudah merah seperti tomat.
sangat menggemaskan meski di wajah yang pucat.rona pipi itu sangat menggemaskan.
" hmmm. .. kau bisa mengambil parfumku di kamar "
" Hey .. Tuan kami sudah melakukan semuanya. membawa parfummu bahkan semua baju mu yang ada tapi tetap saja bumil ini bilang itu bukan wangi mu . entah seperti apa wangi yang di maksud bumil ini." Mella yang sudah tidak tahan jadi kambing congek akhirnya buka mulut. dia hanya ingin Randall tau . dengan susah payah dia juga harus membujuk bumil ini sementara Tuan muda tak kunjung mengangkat telfonnya.
Randall segera menjauhkan layar ponsel dari hadapannya saat suara soang mengema di ponselnya.
" trus.. mau bagaimana?!" Dia mulai sedikit bingung karena dia belum bisa meninggalkan pekerjaannya. dia harus memperbaiki hubungan bisnisnya dengan relasi yang sempat memburuk saat perusahaan di urus oleh ayah tiri yang tamak.
" a..aku .. mau baju yang kau pakai sekarang.." jawab Mandy lirih.
__ADS_1
" sekarang.."
" i.ya."
" seperti biasa .. semua tidak gratis nona "
Mandy mengigit bibir bawahnya.dia tahu apa yang di maksud calon suaminya ini.
" emuach.." Mandy mencium layar ponsel Mella.
sebuah senyum mengembang di wajah tampannya.ada rasa mengelitik di hatinya yang membuatnya geli namun juga ada rasa lain yang tidak bisa dia tafsirkan.
" istirahatlah bajuku akan segera sampai " Randall pun mengakhiri video call mereka.sl sementara wajah Mandy Masih memerah. memalukan sangat memalukan.mau taruh dimana mukanya saat Randall pulang nanti.
" Vin..kau urus ini " Randall melempar Hem yang dia pakai. menyisakan kaus dalam warna putih yang tak bisa menutupi dadanya yang bidang.
" di cuci tuan.. " Vin yang baru saja dari kedai kopi bingung dengan tingkah Tuannya. yang tiba-tiba melepas baju.
" kirim kan itu ke rumah.. gunakan pengiriman yang paling cepat. malam ini juga harus sampai " Randall tak ingin Mandy menunggu terlalu lama.
" baik Tuan." Vin seperti biasa selalu cekatan melaksanakan titah dari Tuannya.
*******
__ADS_1
matahari mulai menyapa embun yang masih merata. angin berhembus dingin menusuk tulang. seorang gadis berambut pendek masih tergulung selimut kepalanya yang sedikit menyembul keluar. suara dengkuran sesekali terdengar. namun tidak dengan orang di sampingnya yang masih tak bisa memejamkan matanya. lingkar hitam sudah nampak jelas di matanya.raganya sudah amat lelah hanya matanya tak mau di ajak kompromi.
tok . tok... tok..
" nona boleh saya masuk "
" silahkan.. "
Mateo segera memasuki kamar dengan kotak persegi warna coklat.
" nona paket dari tuan sudah sampai "
" benarkah.. bisa tolong kau membukakannya. "
mata Mandy langsung berbinar.
" baik nona." Mateo segera membuka kotak tersebut dan mengeluarkan Hem lengan panjang warna navy milik Tuannya.
" ini nona.. " meletakkan baju tersebut di pangkuan Mandy.
segera mandi memeluk baju itu erat. mengendusnya.menghirup aroma yang sangat ia rindukan.
" Mateo. bisakah kau buatkan sarapan untukku. aku sangat lapar " seakan tersihir dengan bau keringat yang menempel di baju tersebut. nafsu makan mandy kini kembali.
__ADS_1
" dengan senang hati nona " Mateo segera berlalu pergi menuju dapur. dalam hati merasa heran dengan nona mudanya. yang bisa terlihat sehat hanya dengan bau keringat.