
Setelah dua hari di rawat Mandy akhirnya di perbolehkan pulang, namun ia lebih sering melamun sekarang.
Kecewa, terluka merasakan dirinya sudah tak berharga lagi, sudah pun matanya yang tak bisa melihat, dan sekarang Mahkota yang selama ini ia jaga untuk sang pangeran kecil Telah ternoda, namun Mandy sudah memutuskan untuk memaafkan si pelaku maka ia juga berusaha memaafkan dirinya sendiri.
"Mandy, Aaaaaaaaaaa.. !!!!"Mella berteriak sambil melompat kegirangan.
"Apa sich..... Mell, gendang telingaku bisa pecah,nich..!!" Mandy memekik sambil menutup kedua telinganya yang terasa berkedut.
"Kamu.. ga akan percaya .. lihat ini lihat..."!! Mella menyodorkan benda pipih dengan bingkai warna pink, Mella menunjuk nunjuk layar benda tersebut.
"Kamu mau mengejek aku atau gimana."
"Maaf .... maaf .. aku seneng banget ..!!!"
"Ya.. kamu seneng kenapa .. tenang dulu dong cerita yang bener.."
"Kita .. dapat order dari Blue EO. untuk peresmian Mall terbesar di kota ini."
"Kau....kau.. yakin....!!!" mata Mandy berbinar,
dia beranjak dari tempat duduknya, Mella membantu sahabatnya berdiri menggenggam kedua tangannya.
"i
__ADS_1
Iya.. mereka .. baru saja menghubungi..."
Mereka berdua melompat lompat membentuk lingkaran dengan kedua lengan mereka, mereka seperti mendapat kan lotre, pasalnya toko bunga mereka hanya toko bunga kecil, biasanya hanya pesanan buket bunga untuk menjenguk orang sakit atau ucapan selamat kadang juga buket yang di bawa pengantin wanita itu sangat jarang pula.
"Kapan acaranya .."Mandy menghentikan tingkahnya.
"Selasa depan "
"Apa .. lima hari lagi.."
"Iya .. semua hiasan bunga kita yang akan menyuplai ke EO dan ada satu syarat lagi...."!!!
"Apa.."
"Kau yang harus menyerahkan Bunga.. setelah pengguntingan pita pada Presdir...."
"Sudahlah .. kau kan tinggal memberikan bunga terus kita pulang... " Mella berusaha membujuk sahabat, dia tau Mandy tida suka berada di antara orang banyak.
"Tapi .. kau akan menemaniku kan Mell.."
"Tentu saja.. aku akan ijin dari tempat kerja karna acaranya .. sore hari.."
"Baiklah .. aku setuju..."
__ADS_1
"Kau memang yang terbaik" dipeluknya tubuh Mandy erat.
"Sudah.. kau mau aku mati karna kehabisan nafas...lepaskan "
"Hehehehe...."
"Aku .. akan melanjutkan pesanan ini.. kau siap siaplah berkerja..." Mandy meraba raba kan tangan untuk meraih kursi di sampingnya, tangannya mulai terampil meraba setiap tangkai bunga dan merangkainya.
"Ok.. honey..." Mella berlari ke atas, segera bersiap untuk pekerjaan yang sebenarnya.
Mella hanya membantu menerima pesanan bunga lewat aplikasi online yang dia buat, sedangkan untuk pengerjaan
nya Mandy yang akan menghadlenya.
Kalau hanya mengandalkan toko bunga mandy Mella takut tidak akan cukup, karena mereka pun harus memberikan sebagian penghasilan mereka untuk panti yang membesarkan mereka.
Meski ibu Panti selalu menolak namun dua gadis itu selalu memaksanya, mereka merasa berhutang budi, jika mereka berdua tidak di temukan ibu panti, entah jadi apa mereka sekarang.
Mandy dan Mella di temukan di tempat yang berbeda, Mandy di temukan meringkuk bersama beberapa kucing di sudut pertokoan rambut yang acak acakan dan baunya yang khas anak kucing.
Mandy sudah tinggal bersama kucing kucing itu selama satu Minggu, makan makanan yang di bawa oleh sang induk kucing entah apapun itu, ada beberapa dermawan yang lewat dan meletakkan sepotong roti atau yang lainnya, Mandy hanya duduk disana tanpa bisa kemana mana, lebih tepatnya dia takut untuk beranjak dari sana, takut akan kegelapan yang menyelimutinya, hingga tangan hangat mengusap rambutnya dan menuntunnya untuk pergi bersamanya.
Beberapa hari kemudian Mella di ajak oleh ibu panti dia di temukan ibu panti, saat mengacak-acak tong sampah, di depan pertokoan saat malam hari.
__ADS_1
Mandy dan Mella jadi teman sekamar dan di situlah persahabatan mereka di mulai,dari kamar sempit berukuran 2x2 meter, di bangunan yang tak begitu besar yang riuh akan tawa dan tangis anak anak.
Panti sosial Kasih