
Sesuai janji Randall membelikan Mandy seekor kucing Persia berwarna putih. namun dengan beberapa syarat tentunya. kucing harus tetap berada di satu ruangan yang khusus untuknya tidak boleh di bawa ke kamar dan saat Randall bersamanya kucing dilarang ikut. karena Randall sendiri tidak menyukai binatang. Mandy menyetujui semua syarat asal bisa memilikinya.
Mandy sangat senang dengan hewan peliharaannya. hampir setiap saat dia ada di ruangan Arnold. terlebih Arnold memiliki sifat yang tenang dia suka sekali bermanja-manja di pangkuan Mandy. Mandy memang tak bisa bermain dengan Arnold dengan semua mainannya karna keterbatasan pengelihatannya.
****
Sudah beberapa hari seorang wanita terbaring lemah di kamarnya. wajahnya pucat pasi jarum infus terpasang di punggung tangannya. di menolak di rawat di rumah sakit dia tidak menyukai aroma di sana.
Tak satupun makanan yang bisa di terima perut Mandy bahkan cake cokelat yang paling dia sukai sejak awal kehamilannya.semuanya akan langsung kembali keluar bahkan lebih parah dia akan muntah berkali kali sampai ia pingsan.
Mandy tak mengizinkan siapa pun mengabarkan keadaannya saat ini pada Randall.dua takut akan menganggu pekerjaannya. dia sudah mengancam para pekerja di rumah hingga membuat mereka tak berkutik. keadaan Mandy memang seperti ini saat Randall pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnisnya.
" huh . ..sampai kapan kau tidak mau memberitahu tuan " Mella duduk di samping sahabatnya yang terkulai lemah.
Mandy hanya diam tak bersuara.
" baik ... baik . semua terserah anda nyonya wick.. asalkan aku masih menemani mu tidur disini " Mella sangat khawatir pada sahabatnya ini bagaimana kali malam dia membutuhkan sesuatu dan tak ada yang membantunya .
Malam ini sungguh berbeda. Mandy tak bisa memejamkan matanya. dia sangat sangat sangat ingin mendengar suara Randall. dia tak bisa menahannya lagi. dia pun menggoyangkan tubuh Mella yang mendengkur di sampingnya.
" ada apa kau butuh sesuatu.. " dengan suara parau khas orang bangun tidur. Mella memaksa matanya terbuka. di lihatnya jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari.
__ADS_1
" ponsel." jawab Mandy sangat lirih
" apa.. "merasa hanya mendengar gumaman yang tak jelas membuat Mella menggaruk kepalanya.
" PONSEL MU " tolong ."
" oh . baik baik.. ini.." Mella mengambil ponselnya di nakas dan memberikannya pada Mandy.
" apa kau mengejekku . apa yang aku lakukan dengan ini " Mandy mulai kesal dengan sahabatnya ini.
" katanya mau ponsel .. ya itu.."
" RAN .. siapa... oh.. Tuan.. " kini Mella mengerti apa yang di inginkan sahabatnya ini." apa kau merindukannya.. hemm hemm " goda Mella
" tolong cepat lah.." Mandy sebenarnya sangat malu tapi Rasanya ingin sekali mendengar suaranya.
drtt....drt...
sudah ke sepuluh kalinya panggilan masuk yang membuat benda pipih di sakunya bergetar. sengaja ia membiarkannya karna situasi yang tidak memungkinkan. Randall berada dalam rapat penting bersama klien klien pentingnya. dia tak tau jika calon istrinya sudah menahan tangis karena ingin mendengar suaranya.
Rapat akhirnya selesai dengan hasil yang memuaskan. segera dia membuka ponsel dan sedikit membelalakkan matanya 70 riwayat panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. segera dia menggeser tombol hijau untuk menelfon balik
__ADS_1
" Haloo.. "
" haloo.. Tuan kenapa lama sekali." Mella yang kesal karena terus di desak Mandy.
" CK .. ada apa langsung saja aku tidak punya waktu.. " Randall sedikit meninggikan suaranya.
" kau.. kau membentakku. Huuuaaaa.. " tangis Mandy pecah seketika.
Mella yang sedari awal memang mengunakan loud speaker agar Mandy bisa mendengar telfon mereka dengan jelas kini malah menangis.
Randall seketika membulatkan matanya mendengar suara tangis Mandy.
" Tidak.. tidak.. aku tidak membentakmu. aku hanya bicara pada temanmu itu saja .." Randall mencoba menenangkan Mandy.
" kau membentakmu .. kau marah padaku iyakan.. " Mandy terus menangis sambil terus menendang selimut yang semula menutup tubuhnya.
" Tidak.. mana mungkin aku marah padamu." kini suara Randall terdengar sangat lembut.
Mella mengalihkan telfonnya menjadi video call. agar Tuannya melihat keadaan Mandy yang sesungguhnya.
Tatapan Randall terpatri pada layar ponselnya. yang memperlihatkan Mandy duduk di atas ranjangnya sedang menangis seperti anak kecil yang minta permen pada orang tuanya. membuatnya geli.namun wajahnya yang begitu pucat dan sayu. juga selang infus yang terhubung dengan tangan kecilnya. membuat hatinya sakit.Randall ingin segera pulang. apa gerangan yang terjadi pada kucing kecilnya itu.
__ADS_1