
Terkadang kita tidak menyadari apa yang kita cari ternyata begitu dekat.
Air mata mulai membasahi pipi kedua mata Mandy, merasa haru, bahagia.Sama seperti pria yang ada di hadapannya.
"maaf.. maafkan aku, aku begitu terlambat, aku tidak bisa menjagamu, kau tau aku sangat merindukanmu, sebelum bertemu denganmu hidup ku hanya sampah, aku kembali ke rumah ini hanya sebagai boneka pencitraan untuk lintah darat brengsek itu" Randall mulai berbicara dengan nada tinggi dia mulai tidak bisa menahan emosinya. Mandy membiarkan Randall mengeluarkan isi hatinya sesuatu yang membuatnya tersiksa selama ini.
"maaf... maafkan aku rea" lirih Randall, ia pun memeluk tubuh Mandy erat, Mandy membenamkan wajahnya terisak dalam pelukan hangat pangeran kecilnya, seseorang yang dia tunggu selama ini.
"da..ri... mana kau tahu nama asliku"
"sekarang aku tahu semua tentangmu"
Mandy mendongakkan wajahnya memukul dada Randall dengan kedua tangannya yang mengepal.
__ADS_1
"Kau jahat, kau benar benar jahat, apa kau tahu berapa lama aku menunggumu, bahkan aku harus memakai baju dengan warna yang sama setiap hari, berharap kau bisa mengenaliku, kau tahu itu bukan warna favorit ku", Mandy mencebik dan tak henti memukul dada bidang Randall.
"jadi karena itu kau memakai baju dengan yang sama? aku pikir kau menyukainya" Randall mengusap pipi Mandy yang basah oleh air matanya, dan mengecup kedua kelopak matanya.
"kau jahat Grey," Mandy menunduk dan semakin menenggelamkan wajahnya.
Randall mengangkat tubuh kecil Mandy, membawanya duduk di pangkuannya.
"begini lebih nyaman bukan" Randall menuntun tangan Mandy untuk bertaut di lehernya, Mandy menurut dan menyadarkan kepalanya di dada bidang milik Randall.
"aku akan mengatakannya, kau mengalami kecelakaan saat kau di culik dan mengalami amnesia, aku mencari keberadaan mu namun aku tak menemukanmu, kau di tolong oleh orang yang menabrak mu, mereka merawat dan mengoperasi matamu"
"benarkah?, mereka baik sekali"
__ADS_1
"ya, dan aku juga sudah berterima kasih dengan benar"
"lalu bagaimana dengan bayiku"
" kita kehilangannya, mungkin belum waktunya kita memilikinya" Randall memeluk pinggang Mandy erat, butiran air mata kembali membasahi mata Mandy yang sudah sembab.
"tidak apa apa" meski merasakan luka yang sama Namaun Randall berusaha menguatkan dirinya, dia tidak mau melihat Mandy terpuruk lagi, tangis Mandy semakin pecah dadanya terasa nyeri.
Aku yang membunuhnya, yang membuatnya meninggalkan, aku bodoh, aku.. maafkan aku. Semua kalimat yang hanya terucap dalam batin Mandy yang semakin membuat dadanya sesak, teriakannya tercekat di tenggorokan. Mandy terus terisak dalam pelukan Randall air matanya tak henti mengalir.
Mandy terlelap dalam pangkuan Randall, mungkin dia terlalu lelah karena sedari tadi ia tak henti mengeluarkan air mata, Randall menggendongnya berjalan perlahan mendekati ranjang, dengan perlahan dia membaringkan tubuh mungil kekasihnya.
Rasa bersalah ada dalam hatinya kenapa dia begitu ceroboh hingga membuat Mandy di culik, jika saja dia lebih waspada semua tidak akan terjadi. Randall menatap lekat wajah Mandy yang tampak sayu, kedua matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Tangan Randall membelai pipi halus Mandy, hatinya terasa sakit melihat keadaan Mandy.
__ADS_1
"maafkan aku, aku membuatmu menangis lagi, maafkan aku, ini yang terakhir aku janji" Randall mengecup kening Mandy, dan berbaring di sampingnya.
Kedukaan menyelimuti kedua manusia yang mencoba untuk menerima kenyataan, mencoba melupakan kekosongan yang hadir dalam hati mereka, terkadang takdir tak sesuai dengan keinginan kita, kita hanya bisa berusaha namun Tuhan yang menentukan segalanya.