
Fajar mulai menyingsing Angin musim dingin menambah dinginnya pagi yang masih berembun, seorang pria mengendong kekasihnya yang masih terlelap membawanya masuk ke dalam mobil.
"jalankan mobilnya" ,titah Randall yang memeluk tubuh Mandy yang masih lelap.
"baik Tuan" Vin segera melaksanakan perintah Tuannya.
Mobil Royce itu pun kini melaju membelah pagi yang masih buta, jalanan yang sepi menemani sepanjang perjalanan mereka hanya beberapa mobil pembersih jalan mulai nampak berkerja, Randall memandang wajah Mandy dan mengecupnya beberapa kali berusaha membangunkan kekasih kecilnya itu, bukannya membuka mata Mandy malah membenamkan kepalanya ke pelukannya Randall, Aroma tubuh Pria itu benar benar membuatnya merasa nyaman dan enggan untuk bangun.
"sayang..."bisik Randall tepat di telinga Mandy.
"emh..." Mandy hanya menggeliat geli saat Randall sedikit mengigit ujung telinganya. Randall meneruskan aksinya, dia mendaratkan ciuman di bibir Mandy yang menggoda.
"emmmmphh.." Mandy mulai membuka kelopak mata, saat merasakan sesuatu yang lembut menempel di bibirnya, matanya membulat saat menyadari Randall ******* bibirnya, tangan Mandy mengayun memukul dada Randall namun di tahan oleh tangan kekar pria itu, akhirnya ia hanya pasrah dan menikmatinya.
"lain kali jangan begitu" ucap Mandy yang masih tersengal setelah Randall melepaskan tautannya, menyadari berada di dalam mobil membuat Mandy membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Randall berharap bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"kenapa?" tangan Randall merapikan rambut Mandy yang sedikit berantakan.
"aku malu, Vin melihat kita, Randall terkekeh mendengar ucapan Mandy
"Vin, apa kau melihat sesuatu"
"tidak Tuan" jawab Vin datar.
tentu saja saya melihat Tuan, mata saya masih berfungsi dengan normal, batin Vin.
"Vin tidak melihatnya, kau dengar sendiri kan" Randall mendongakkan wajah Mandy, hatinya masih terasa sakit saat melihat mata Mandy yang bengkak karena menangis semalam. di mengecup kedua mata itu.
__ADS_1
"jangan menangis lagi, hati ku sakit saat melihatmu seperti ini", Mandy tidak menjawab dia hanya mempererat pelukannya.
setelah beberapa jam perjalanan mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di sebuah hotel di kota C. Randall pun segera turun dan membukakan pintu untuk Mandy, sebenarnya Mandy merasa enggan untuk keluar karena Randall membawanya saat dia terlelap jadi bisa di bayangkan wajahnya yang masih bau bantal saat ini, namun dengan terpaksa dia menuruti kemauan Randall. mereka berdua pun masuk tanpa reservasi atau apapun karena hotel ini adalah milik Randall, jadi mereka langsung menuju kamar yang sudah di siapkan khusus untuknya.
Ceklek..
"cantik" gumam Mandy saat melihat isi kamar yang di tata begitu apik dengan banyak bunga mawar di berbagai sudut kamar.
"tapi tak secantik dirimu" Randall memeluk Mandy dari belakang dan mengecup pundaknya.
"aku mau mandi dulu" Mandy melepaskan pelukan Randall, segera bergegas menuju kamar mandi. Randall tersenyum kecil saat sekilas melihat semburat merah di pipi Mandy.
setelah selesai membersihkan dirinya, Randall mengajak Mandy pergi untuk menikmati keindahan di sekitar danau, mereka berjalan jalan di area kuliner, dan Kios-kios cinderamata setelah lelah menjelajahi semua toko, kedua sejoli itu duduk di bangku kayu sambil menikmati es krim vanilla di tangan masing-masing, Mandy nampak begitu menikmati es krim di tangannya, Randall mengamati lekat wajah Mandy dia sedikit lega sepertinya Mandy sudah lebih baik.
"cepat makan es krim mu sudah meleleh"
"jangan melamun terus, coba lihat es nya meleleh begini, sayangkan"ujar Mandy sambil terus fokus membersihkan tangannya.
Randall tidak menjawab hanya menatap Mandy dengan lekat, kedua tangannya mennakup wajah Mandy lalu mencium bibir Mandy yang dengan lembut, ada yang berbeda ciuman itu terasa menyesakkan ada sesuatu yang lain yang ingin di sampaikan pria itu dengan sentuhannya.
"ayo kembali, sudah mulai senja" suara Randall terdengar serak seperti menahan sesuatu. Mandy pun mengangguk dan meraih tangan Randall, mereka berdua berjalan menyusuri tepi danau kembali ke hotel.
*******
Malam temaram Mandy duduk sendirian di tepi ranjang, Randall menyuruhnya untuk bersiap makan malam dengan gaun warna hitam dengan leher Sabrina yang dia siapkan.
tok .tok..tokk....
__ADS_1
"Nona, Tuan sudah menunggu Anda"
" iya, baiklah" Mandy membuka pintu kamar dan mendapati Vin di depan pintu.
"maaf Nona, Tuan meminta Anda untuk memakai ini" Vin menyodorkan kain panjang hitam.
"humh... baiklah"
"maaf saya akan membantu Anda memakainya" Vin pun membantu Mandy mengikat kain hitam itu menutupi matanya, setelah selesai tangan mandy di genggam oleh seseorang, dan mengarahkan untuk berjalan.
"Vin kita mau kemana sebenarnya"
tak ada jawaban hanya suara derap langkah di depannya.
"hey jawab aku kita mau kemana kenapa jauh sekali."
Langkah Mandy terhenti saat dia menabrak punggung di depannya. kain yang menutupi matanya di buka perlahan sesaat dia merasa silau saat cahaya masuk ke matanya, namun kemudian matanya di buat takjub apa yang ada di hadapannya, seorang pria berlutut sambil menyodorkan cincin di hadapannya. mereka berada di tengah lingkaran berbentuk hati dari bunga mawar.
sangat cantik dengan hiasan lilin dan lampu, hati Mandy berdegup kencang matanya berkaca-kaca, indah ini semua terlalu sempurna.
"Will You Marry Me" sebuah kalimat terucap dari bibir lelaki yang paling ia cintai, orang yang ia tunggu selama bertahun-tahun.
"Maaf.... maafkan aku" Mandy menggelengkan kepalanya, air mata Mandy sudah tidak terbendung lagi, dia jatuh bersimpuh di hadapan lelaki yang paling dia cintai, dia tidak bisa menerima semua ini, nuraninya tak mengizinkannya.
senyum yang semula terukir di wajah Randall hilang seketika, meskipun ia merasa kecewa dan marah namun ia sadar mungkin dia terlalu terburu buru, mungkin belum saatnya. dia pun meraih Mandy dalam pelukannya, tangis Mandy semakin pecah.
__ADS_1