Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 45


__ADS_3

Mandy menatap Randall dengan sendu dia merasa bersalah atas apa yang terjadi, dia tidak bertanya terlebih dahulu dan mengambil keputusan yang bodoh.


"Aa.." Randall menyodorkan sendok mendekat ke mulut Mandy, Mandy pun menurut membuka mulutnya. Dengan penuh kasih Randall menyuapi Mandy.


"aku sudah kenyang"


"benarkah, kalau begitu minum dulu" Randall memberi segelas air putih


"kau belum menjawab pertanyaan ku Ran" lirih Mandy.


Randall memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan kesedihan di matanya.


"kau istirahatlah kita bicarakan nanti, ok" Randall membantu Mandy berbaring dan mengecup kening Mandy dengan hangat.


"tidurlah aku akan menemui Jay di sebentar"


Mandy mengangguk dan mulai memejamkan matanya, dengan belaian lembut dari tangan Randall mengantar Mandy ke alam mimpinya.


******


"jelaskan, apa yang terjadi pada Mandy" Randall menautkan jari jarinya membuat sebuah kepalan menopang dagunya.


kini mereka berempat Randall, Vin, Jay dan seorang wanita berada di ruang kerja Randall.


"biar dia jelaskan" Jay mempersilahkan teman wanitanya yang tak lain adalah seorang psikolog.

__ADS_1


"begitu Tuan sepertinya ingatan Nona Mandy telah kembali namun dia melupakan ingatannya selama dia amnesia, jadi anda harus menjelaskan apa yang terjadi selama Nona amnesia"


Randall menarik nafas panjang dan menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Randall tidak tega jika harus menjelaskan tentang bayi yang di kandung Mandy.


"bagaimana dengan trauma pada darah yang ia alami, waktu masih tidak bisa melihat dia tidak seperti itu"


"mungkin karena Nona sekarang bisa melihat, maka saat melihat hal yang membuatnya meningkat kejadian di masa lalunya membuat dia bereaksi seperti yang Tuan bicarakan, saya akan berusaha menyembuhkan Nona Tuan" dokter wanita itu berusaha meyakinkan Randall, melihat wajah Randall yang begitu menyiratkan kesedihan.


"aku percaya padamu" Randall memejamkan matanya mencoba menata ulang hatinya yang kusut.


"jika boleh saya memberikan saran sebaiknya anda jujur dan menceritakan semuanya, meskipun Nona akan merasa kecewa namun percayalah itu lebih baik daripada anda harus membohonginya"


Randall hanya diam mencoba mencerna semua perkataan dokter yang di benarkan oleh hatinya, demi apapun dia tidak ingin melihat air mata lagi di wajah Mandy, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk saat ini.


"kalau begitu saya permisi dulu besok saya kan kembali" dokter wanita itu bangkit dari duduknya.


"baiklah, tapi lebih cepat lebih baik Tuan" wanita itu mulai melangkah kakinya.


" aku akan mengantarmu" Jay bergegas menyusul langkahnya.


Randall masih duduk termenung dalam keheningan, matanya masih terpejam, mengusap kedua pelipisnya.


"Vin apa semuanya sudah kau siapkan" ujar Randall tanpa membuka matanya.


"sudah Tuan"

__ADS_1


" bagus, kita berangkat besok dan ingat aku tidak mau ada gangguan sama sekali" Randall bangkit meninggalkan ruang kerja. Vin membungkuk hormat tanpa menjawab apapun.


*****


Langit pekat berhiaskan berlian malam, seorang wanita kembali ke kebiasaan lamanya duduk di sofa kamarnya menikmati semilir angin malam dari jendela yang ia biarkan terbuka, membiarkan rambutnya yang hitam di belai oleh sang angin.


"hey.. kau apa kau tidak merasa dingin" Randall membelai dan mencium pucuk rambutnya, Randall pun duduk di hadapan Mandy meletakkan kepalanya di pangkuan Mandy.


"kenapa, tiba tiba manja seperti ini" Mandy mengusap rambut Randall perlahan.


"aku ingin mengatakan sesuatu" Randall mendongakkan kepalanya memandang Mandy lekat, meletakkan sesuatu tangan Mandy, mata Mandy membulat sempurna melihat apa yang ada di tangannya.


"dimana kau temukan ini, aku kira aku telah menghilangkannya" mata Mandy mulai berkaca-kaca, sesuatu yang sangat berharga baginya, yang tersisa satu satunya.


"tak penting dimana aku mendapatkannya, tapi dengarkan aku dulu" Randall mengusap air mata yang mulai menetes dengan ujung jarinya. " Mandy apa kau mengenalku Mandy?"


"kau Randall wick bukan?" Mandy merasa bingung dengan pertanyaan Randall.


"coba kau tatap mata ku dengan baik"


Mandy menatap lekat manik mata milik Randall, walau sedikit bingung dia menuruti permintaan pria yang mungkin mulai dia cintai, warna mata yang indah yang tak bisa dia lihat sebelumnya. yang tidak dia perhatikan sebelumnya.


Deg...


Deg...

__ADS_1


"bukan... bukan... tidak.. kau tidak mungkin" jantung Mandy berpacu cepat, dia berusaha menepis apa yang ada di pikirannya, Mandy tidak ingin berharap terlalu tinggi. Randall hanya mengangguk mengiyakan apa yang Mandy maksud adalah benar.


__ADS_2