Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 50


__ADS_3

Seminggu berlalu kini hari hari Mandy penuh dengan bunga meskipun sekarang belum masuk musim semi namun kehangatan sudah terasa di dalam hidupnya. Mobil melaju dengan kencang membawa sang kekasih bertemu dengan pujaannya, Mandy duduk sambil tersenyum senyum, memangku paperbag yang berisikan makan siang, hari ini dia sengaja ingin memberikan kejutan pada Randall.


"apa masih jauh"tanya Mandy pada dua orang bodyguard yang duduk di depannya.


satu dari mereka memegang kemudi, meskipun Mandy tidak di perbolehkan keluar dari Mansion namun hari ini Mandy terus merengek pada Mateo untuk bisa ke kantor, dengan berat hati akhirnya Mateo memberikan izin dengan syarat dan ketentuan yaitu di temani beberapa bodyguard tidak tanggung tanggung dua dua mobil penjaga berada di depan dan dua lagi mengekor di mobil yang Mandy tumpangi. Mandy merasa ada bunga mawar sedang bermekaran di hatinya.


"Sebentar lagi Nona" sahut seorang yang sedang mengemudi.


15 menit kemudian rombongan itu sampai di gedung kantor Wick Corp. Mandy pun turun dari mobil tanpa menunggu bodyguard membuka pintu untuknya, dia berlari kecil menuju resepsionis, ini pertama kalinya dia pergi ke kantor Randall.


"Hallo selamat siang, bisa saya bantu" seorang wanita yang duduk di bangku resepsionis menyapanya.


"itu emh...." kalimat Mandy tidak berlanjut dia merasa begitu gugup, ini pertama kalinya dia masuk gedung perkantoran seperti ini.


seorang bodyguard yang menemani Mandy berbisik pada resepsionis, dan mulut wanita itu perlahan membentuk huruf o.


"Nona Anda bisa langsung naik lift yabg di khususkan untuk Presdir, dan ruangan beliau ada di lantai 33" jelas wanita itu.


"emh.. Terima kasih" Mandy menunduk kepalanya dan tersenyum.


"apa Nona mau saya Antar"


"tidak terima kasih" Mandy berlari kecil menuju lift, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk melihat wajah terkejut Randall.


"Nona yang manis" ujar resepsionis itu.


Ting


pintu lift akhirnya terbuka, Mandy berjalan keluar melangkah kakinya menuju pintu besar di depannya, sampai di depan meja sekertaris Randall Mandy tersenyum dan hendak mengeluarkan suara namun wanita itu sudah mendahuluinya.


"silahkan masuk Anda, Tuan ada di dalam " tentu sekertaris itu mengerti setelah resepsionis menelfonnya.


"Terima kasih" senyum Mandy ramah.


Brakkk..


pintu ruang Randall di buka dengan kasar dari arah dalam seorang wanita dengan baju yang koyak dan rambutnya yabg acak acakan keluar dari sana. Mandy dan sekertaris itu terkejut melihat keadaan wanita itu.

__ADS_1


"Tolong.. Nona tolong aku, hiks..hiks.." Gadis menangis di berlutut di hadapan Mandy.


"hey... kenapa...yang terjadi dengan mu" Mandy meraih bahu gadis itu membantunya berdiri.


"dia....dia...dia ingin aku.. huaaaa" tangisnya semakin keras.


"tidak apa apa, aku akan membantumu, ayo Kita temui dia sekarang" Mandy menarik lengan gadis itu dan melangkah ke pintu di hadapannya.


"tapi aku takut" gadis itu masih menangis.


"tenanglah ada aku, aku akan meminta keadilan untuk mu tenang saja ok" Mandy berusaha meyakinkan gadis itu, gadis itu pun mengangguk dan mengikuti langkah Mandy.


"tapi Nona Anda...." sekertaris itu berusaha menahan Mandy, namun Mandy meletakkan satu telunjuknya di mulutnya sendiri. sekertaris itu pun mengangguk mengerti.


brakk


pintu itu terbuka dengan kasar kali ini tangan Mandy yang mendorongnya.


"Ran.... aku minta penjelasan mu" Mandy berkacak pinggang dan melotot ke arah pria yang sedang tengelam si antara tumpukan map di nakas.


"Mandy kapan kau datang" mata Randall berbinar melihat wajah Mandy, ia pun bangkit dari tempat duduknya tapi tidak jadi karena Mandy mengisyaratkan ia untuk tetap duduk dengan tangannya.


"Ran..kenapa kau diam, aku meminta mu untuk menjelaskan tentang wanita itu" jari Mandy menunjuk pada gadis yang berdiri di depan mereka.


"kenapa kau biarkan di keluarkan dari ruangan mu begitu saja hemm" tangan Mandy bergelayut manja di leher Randall.


"apa maksud.. An...da Nona" gadis itu mulai gugup, pupil matanya melebar saat mendengar apa yang Mandy katakan.


"kau seharusnya menyeret dia keluar, bukan malah membiarkannya dia berteriak di sini memalukan" Mandy menatap tajam pada gadis itu.


"Nona.. bukankah Anda ingin memberikan ke adilan pada saya .. "


"hemm tentu", Mandy meraih gagang telepon di meja kerja Randall, dan menekan beberapa tombol.


"halo polisi bisa tolong ke kantor saya sekarang"


"Nona.... tolong jangan hubungi polisi, tolong saya tidak akan memperpanjang semua ini saya berjanji tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Tuan" keringat dingin mulai membasahi tubuh gadis itu saat mandy menyebutkan polisi.

__ADS_1


"pertanggung jawaban katamu" Mandy bangkit dari pangkuan Randall, melangkah lebar mendekati gadis itu, " kau pikir aku ini bodoh dan percaya dengan akting murahan mu ini "


Gadis itu menelan ludah dengan kasar saat mandy menatap dengan tajam. lidahnya kelu untuk berkata.


"kau yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu sendiri"


PLAAKKK..


sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu, sangat keras hingga membuat sudut bibirnya robek.


"apa kau tidak malu dengan berbuat seperti ini, setidaknya hargailah dirimu sendiri sebagai seorang wanita" Mandy sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


"No...na..aku" gadis itu kini tak bisa berkata apa-apa lagi.


"apa Anda memanggil kami Tuan" dua orang pengawal masuk ke dalam ruangan Randall.


"tepat waktu, kalian bawa wanita menjijikkan ini keluar" bentak Mandy.


"baik nona" Kedua pria berbadan besar itu mengapit kedua lengan gadis itu dan menyeretnya keluar.


"Nona tolong saya Nona.... maafkan saya tolong" gadis itu terus berteriak dan meronta.


"huuuuffff" Mandy menghembuskan nafasnya , sebenarnya Mandy menahan dirinya, dia sangat gugup berlaku di luar dari dirinya sendiri.


"eeeeh..." Mandy terkejut saat tangan kekar itu melingkar di pinggangnya.


"aku tidak tahu kau bisa marah seperti itu" ucap Randall sambil mengecup bahu Mandy yang terbuka, Mandy pun mengeliat geli.


"emmhh...." Mandy memalingkan wajahnya. Randall membalikkan tubuh Mandy membuat mereka saling berhadapan Randall masih mengunci tubuh Mandy dalam pelukannya.


"kenapa sayang"


"sebenarnya aku gugup sekali tadi, aku takut dia juga akan membalas membentak ku" ujar Mandy lirih sambil menunduk.


Randall mengangkat dagu Mandy perlahan, "kenapa kau melakukannya jika kau takut Hem"


"aku.... aku...karena aku.. ah sudahlah" wajah Mandy memerah di melepaskan dagunya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Randall. haruskah aku katakan karena aku wanitamu dan aku tidak ingin orang lain merebut atau menyentuh milikku apapun itu meskipun kau benar menyentuhnya aku tidak akan mengizinkan orang lain memilikimu dan aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan mereka, gumam Mandy dalam hati.

__ADS_1


"kenapa kau percaya kalau aku tidak melakukan apapun pada gadis itu"


"karena kau milikku dan aku tau kau tak akan melakukan hal yang membuatku kecewa, dan aku tidak akan mengulangi kebodohan ku"


__ADS_2