Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 55


__ADS_3

Mandy terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya masih nampak pucat, tangan Randall tak henti mengusap pipi yang tak tertutup kasa, mengecup kening wanita yang tak kunjung bangun dari tidurnya. walaupun keadaan Randall sendiri tidak lebih baik dari Mandy namun dia bersikeras untuk duduk di samping Mandy meskipun dokter telah berkali-kali membujuknya, untuk beristirahat namun Randall sama sekali tak bergeming, matanya tak lepas dari wajah kekasihnya, nampak penyesalan yang mendalam dari sorot matanya.


"Mandy bangunlah kau sudah tidur terlalu lama" gumam Randall lirih, tangannya menggenggam tangan Mandy erat, dia begitu takut kehilangannya lagi. kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya.


"Tuan.. Tuan Max ingin bertemu dengan Anda" ucap Vin setelah membungkuk hormat.


Tak ada jawaban, Randall mengangkat wajahnya, matanya menunjukkan kilat amarah, Randall menarik nafas dalam mencoba menguasai dirinya.


"aku akan menemuinya di luar"


ucap Randall datar.


"baik Tuan" Vin berjalan mendekati Tuannya, tangan Vin terulur hendak membantu Randall berdiri. Namun Randall mengisyaratkan Vin untuk berhenti.


"aku akan segera kembali" Randall mengecup tangan Mandy hangat dan merapikan selimutnya, perlahan dia bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan keluar dari ruangan Mandy.


Seorang pria tua nampak cemas, berjalan mondar mandir di depan sebuah ruangan yang di jaga oleh beberapa penjaga, dia beberapa kali mencoba menerobos masuk namun di cegah oleh pihak keamanan, mata pria tua itu membulat saat dia menangkap sosok yang berjalan mendekat padanya, dia segera tergopoh-gopoh berlari ke arahnya.


"Tuan.. tolong bisakah saya melihat keadaan putri saya" pria tua itu mengiba, menyatukan kedua tangannya di dada dengan mata yang di penuhi air mata.


Randall tak menjawab, ia hanya menatap dingin pada pria di hadapannya, melanjutkan langkahnya begitu saja melewati pria yang memohon di depannya. Max pun berjalan mengikuti Randall, sampai di depan sebuah ruangan, Randall berhenti para penjaga membungkuk hormat dan membukakan pintu untuknya.


Nampak seorang wanita terbaring dengan kedua tangannya di borgol dengan besi pengaman di ranjangnya, Max berhambur memeluk putrinya yang telah terbaring.

__ADS_1


"Ayah.." panggil Alice lirih.


"iya nak... ayah di sini" Max menatap wajah putri semata wayangnya, ia mengusap matanya menghapus air matanya.


"Tuan Max..apa keputusan Anda" ucap Randall di dingin, Max mengerti apa yang di maksud Randall.


Max melepaskan pelukannya, namun tangannya di tahan oleh Alice, Max menatap Alice dengan senyum melepaskan tangan anaknya dan menepuknya beberapa kali, mengisyaratkan kalau semua akan baik-baik saja. Max berjalan gontai mendekati Randall, berat namun inilah keputusan yang terbaik.


"saya minta maaf atas apa yang di perbuat anak saya, sebagai seorang Ayah saya telah gagal mendidiknya" Max membungkuk di hadapan Randall. air mata Alice bergulir mendengar ucapan Ayahnya.


"proses hukum akan tetap berjalan Tuan Max" ucap Randall datar.


"saya mengerti Tuan, bisakah saya menemani anak saya sebentar Tuan"


"Ayah.. maafkan Alice" lirih Alice di tengah isak tangisnya, Max tak menjawab di hanya memeluk tubuh putrinya erat, Max pun merasa menyesal karena cara dia menyayangi putrinya yang terlampau besar, hingga dia tak sadar bahwa semua itu justru berdampak buruk pada Alice.


*****


Randall tertegun saat ia merasa ada yang mengusap rambutnya, ia pun membuka matanya dan mendapati Mandy tengah tersenyum melihatnya. mata Randall berbinar dia bangun dan menghujani wajah Mandy dengan kecupan merengkuh tubuh Mandy dengan erat.


"Tuan punggung Anda" Vin terlihat cemas melihat darah yang merembes dari luka di punggungnya.


"Ran lepaskan, aku.... punggungmu.."lirih berucap lirih dia juga khawatir mengingat kejadian saat itu pasti luka di punggungnya cukup dalam, namun Randall tak bergeming dia tak ingin melepaskan pelukannya. akhirnya Mandy hanya pasrah sampai Vin datang bersama Jay.

__ADS_1


"Tuan bucin, tolong lepaskan pasien saya, luka di lengannya juga bisa berdarah lagi kali kau memeluknya seperti itu" ujar Jay mengejek. Randall berdecak dan mulai melonggarkan pelukannya, Mandy tersenyum geli melihat wajah Randall yang terlihat kesal.


"kau duduklah di sana aku akan Menganti perban mu, tentu setelah aku memeriksa Nona cantik ini" Jay mengedipkan sebelah matanya. setelah selesai Mandy Jay pun Menganti perban Randall.


"bagaimana keadaannya"


"Mandy baik, hanya jangan terlalu banyak bergerak dan kau juga lihat jahitannya masih basah kalau kau bergerak terus kapan keringnya" Randall meringis saat Jay dengan sengaja menekan lukanya.


"cerewet"


"kali bukan aku siapa yang akan merawat mu, manusia beku" Jay mendengus kesal.


Mandy tersenyum melihat interaksi antara keduanya. setelah menyelesaikan tugasnya Jay dan Vin meninggalkan dua pasien VIP tersebut lebih tepatnya mereka di usir keluar oleh Randall.


"Ran... bisakah kita pulang"ucap Mandy di sela Randall yang tengah menyuapkan potongan buah padanya. setelah Jay mengatur ranjang Mandy hingga bisa membuat Mandy duduk tanpa mengerakkan tubuhnya.


"besok kita akan pulang"


"benarkah.."


"tentu setelah Jay memindahkan Rumah sakit ini ke kamarmu" ucap Randall sungguh sungguh.


"apa "Mandy mulut Mandy menganga mendengar ucapan Randall, Randall tersenyum dan langsung memasukkan potong buah ke mulut Mandy yang terbuka.

__ADS_1


__ADS_2