Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 41


__ADS_3

rintik-rintik hujan menyambut pagi ini sendu, Randall membelai pipi Mandy yang masih terlelap tidur di sampingnya, mereka sudah di kamar setelah mandy berhasil membujuk Randall dengan syarat dan ketentuan berlaku, Randall mengusap bibirnya yang mungil nampak sangat manis di usapnya beberapa kali hingga membuat Mandy mengeliat dan membuat gerakan seolah mengusir serangga di wajahnya, semakin gemas kini Randall malah memencet hidung mancungnya dengan keras,


" Auh... sakit " Mandy langsung seketika bangun dan memegangi hidungnya, Randall hanya terkekeh melihat hidung Mandy yang memerah karena ulahnya.


" bagaimana kalau hidung ku patah "


" aku akan mencintaimu "


Blussss


" apa ini, saya bicara soal hidung bukan soal cinta " semburat merah muncul di kedua pipi Mandy, merah seperti tomat, Mandy segera memalingkan tubuhnya membelakangi Randall.


" terima kasih aku juga mencintaimu" tangan Randall melingkar di pinggang Mandy.


" apa .... kenapa bicara tidak jelas begini, apa tuan sudah minum obat "


" menikahlah denganku, kita buat bayi lagi Hem " ujar Randall sambil mengendus leher Mandy.


Diam tak ada sahutan sama sekali, Sadar akan perkataan yang membuat Mandy sedih Randall segera membalikkan tubuh Mandy, kini mereka saling berhadapan, mata Mandy sudah berkaca-kaca, sebulir air mata sudah menggenang di sudut matanya Randall mengusapnya dengan lembut lalu mengecup singkat.


" maaf " Randall memeluk Mandy erat, wanita cantik itu pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Randall menghirup kuat aroma maskulin yang entah sejak kapan membuatnya merasa nyaman.

__ADS_1


" bukankah kau berjanji membuatku sesuatu "


" apa, " Mandy mendongakkan wajahnya, mengerjakan matanya beberapa kali.


terlihat sangat imut, Randall mengigit bibir bawahnya menahan diri.


" emh.. jangan menggoda ku seperti itu nona, jangan salahkan aku jika aku memakan mu sekarang "


" kapan aku menggoda mu, ish.. otak mesum " Mandy berusaha melepaskan pelukan Randall, namun nihil tenaganya tak sebanding.


" kau tau bibir mu terlihat sangat manis aku ingin merasakannya " Randall mendekatkan wajahnya hanya sisa beberapa centi dari wajah cantik mandy, hembusan nafas membuat Mandy meremang tanpa sadar dia memejamkan matanya mendapatkan lampu hijau Randall menautkan bibirnya ke bibir ranum Mandy memagut dengan lembut,tangannya menekan tengkuk mandy memperdalam C**mannya, Randall pun memejamkan mata menikmati tiap tautan dari mulutnya, merasakan sesuatu basah Randall membuka matanya mendapati Mandy yang menangis dengan mata tertutup, Randall segera menarik diri melepaskan ciumannya.


" maaf aku lancang mencium mu " jemarinya mengusap air mata mandy, dia tidak ingin membuat Mandy merasa tidak nyaman di sampingnya.


" ayo... kita sarapan dulu , perut ku sudah lapar " Randall mencoba mengalihkan.


Mandy mengangguk kecil dan mengikuti Randall bangkit dari tempat tidur mereka.


" Aaaaaaaaaa . .. darah.. tuan Darah. .. " Melihat darah yang mengalir dari jarum infus yang terpasang di tangan Randall membuat Mandy terkejut dia melompat kembali naik ke atas kasur menutup dirinya dengan selimut, dia memeluk ke dua kakinya tubuhnya sudah di penuhi keringat dingin.


" Mandy ini tidak apa apa, hanya sedikit terlepas, ayo.. lah " Randall berusaha membujuk Mandy untuk membuka selimutnya, namun dia malah mendengar mandy terus bergumam di Balik selimut.

__ADS_1


" darah ... aku harus sembunyi... aku harus sembunyi.. ada darah aku harus sembunyi.." terus berulang ulang.


" Mandy .. kau tidak apa apa, Mandy.. " Randall mulai cemas dia merasa ada sesuatu yang tak beres.


Randall segera mengambil ponsel di nakas nya, menggeser tombol hijau yang menyambungkan pada seseorang.


" cepat kemari sekarang atau ku buat kau impoten " Tut Randall mematikan telfonnya.


" Mateo cepat kemari" ujarnya setelah telfon lain tersambung, dengan seribu langkah Mateo datang secepat kilat mendengar nada bicara tuan yang membunuh.


" tuan "


" bersihkan ini cepat " Randall menyodorkan tangan yang berdarah dengan sigap Mateo segera melepaskan jarum infus dan membersihkan semua bekas darah dari tangan tuannya, setelah membersihkan Mateo segera membereskan semuanya .


Randall membuka selimut yang menutupi tubuh Mandy dengan paksa, Mandy terjingkat, dia ingin menghindar dari Randall namun Randall segera meraihnya dalam pelukannya.


" sudah tidak ada lagi semua sudah bersih " Randall mencium puncak rambut Mandy mengelus punggungnya mencoba menenangkan Mandy.


" ayo .. kita harus sembunyi ada darah di sana, papa bilang aku harus sembunyi ayo ... " Mandy mengguncang tubuh Randall, tatapannya penuh ketakutan.


" iya.. kita sudah sembunyi tenanglah.. minumlah dulu" Randall mengambil air yang di sodorkan Mateo kalau mendekatkan ke bibir Mandy.

__ADS_1


tenanglah... tenanglah.. ada aku, aku akan menjagamu.


__ADS_2