
malam telah larut, dengan perlahan Randall membuka pintu kamarnya, dia mendekati Mandy yang telah terlelap, ia membungkuk mendekatkan wajahnya, mengamati Mandy lekat , dengan lembut merapikan rambut yang menutupi wajahnya cantiknya, merasa ada yang menyentuhnya membuat Mandy membuka matanya, die terkejut saat mendapati wajah Randall begitu dekat dengannya.
" Tuan apa yang tuan lakukan disini, jangan menyentuh saya tanpa izin, tuan sungguh tidak sopan "
mendengar perkataan Mandy Randall menegakkan tubuhnya , tangannya mengepal kuat, matanya menatap tajam pada Mandy, lalu melangkah meninggalkan kamar itu.
BRAAAK
Randall menutup pintu dengan keras, ada rasa kecewa dan kesedihan yang Mandy lihat saat Randall menatapnya, Mandy merasa bersalah atas ucapannya, dia tidak bermaksud untuk itu, dia hanya belum terbiasa dengan semua ini.
sudah dua hari sejak kejadian itu, kini mansion terasa lebih dingin sedingin tuan muda mereka, yang berkerja seperti robot tanpa lelah, Mandy pun hanya melihatnya saat sarapan dan makan malam seperti pagi ini, hening hanya ada suara dentingan sendok milik Mandy, Randall hanya menikmati secangkir kopi miliknya, setelah mandy menyelesaikan sarapannya Randall pun berangkat ke kantor ,diam tanpa suara.
Mandy duduk di tepi kolam bermain air dengan kakinya, bergelut dengan pikirannya, semua ini begitu tiba tiba dia bahkan belum mengingat apapun sejak tiba di mansion ini.
" haaaahh.... " Mandy menghela nafas panjang, dia mengamati bangunan di seberang kolam renang ini, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar terpisah dari bangunan utama mansion, Mandy merasa seperti ada yang mengamati dirinya dari Balik jendela, ia pun bangkit dan memutuskan untuk memeriksa nya, baru beberapa langkah dia berjalan, Mandy berhenti oleh panggil seseorang.
" nona Mandy.... "
" Mateo ada apa, "?
" Tuan mengirimkan sesuatu untuk anda "
" sesuatu apa ?"
" lebih baik anda melihatnya sendiri" Mateo berusaha membujuk Mandy.
" baiklah " Mandy memutuskan untuk mengikuti Mateo, meski dia masih penasaran dengan bangunan itu.
sebuah kue black forest extra coklat berukuran besar tersaji di atas meja, sangat menggoda , mata mandy berbinar melihat kue yang begitu memanjakan matanya.
" ini yang di kirim tuan muda untuk anda nona "
__ADS_1
ucap Mateo sambil menyiapkan sepotong kue di atas piring kecil .
"wah... kelihatannya enak" Mandy menarik kursinya dan bersiap menikmati kuenya, sepotong kecil kue masuk ke dalam mulutnya, ia tertegun berhenti sejenak, rasa ini begitu ia akrab di rasakan, ia pun mengunyah dengan perlahan menikmati setiap rasa yang lumer di mulutnya, seperti kawan lama yang tak berjumpa dia tak bisa berhenti mengunyah.
" apa aku pernah makan ini sebelumnya " sambil terus memasukan potong kue ke dalam mulutnya.
" pernah .. ?, hampir setiap hari nona memakan nya, saat nona hamil "
" aku hamil??"
" jadi anda belum tau?, maaf saya begitu lancang,"
" bisa kau memberi tahuku Mateo "
" maaf nona sebaik anda tanyakan sendiri kepada tuan muda, saya permisi " Mateo pun membungkuk hormat dan meninggalkan Mandy, dia meruntuki dirinya yang begitu ceroboh.
" tanya gimana , dia saja masih marah begitu " cicit Mandy sambil menikmati kuenya.
*****
" tuan sebaiknya anda beristirahat " Vin berjalan di samping Tuannya takut tuan bisa roboh, Vin mengandeng lengan tuannya.
" CK..aku tidak selemah itu Vin " Randall menepis tangan Vin, mempercepat langkahnya, Vin pun terdiam dan mengekor Tuannya dari belakang.
brakk
pintu ruang kerja di buka dengan keras, membuat Randall membuka matanya, dia memicingkan matanya melihat sosok yang mendekat.
" dokter .. gila , siapa yang menyuruhmu kesini " Randall kembali memejamkan matanya, menikmati kepalanya yang terus berdenyut, dan kembali merebahkan dirinya di sofa.
" dokter gila.. kau yang gila," Jay menggerutu sambil memasang infus pada lengan temannya.
__ADS_1
Randall ingin menepisnya namun dia tak memiliki tenaga untuk itu,dia hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Jay padanya.
" kau terkena thypus, kau pasti sudah beberapa hari merasa tidak enak badan kan tapi kau robot bernyawa tak menghiraukannya sekarang lihat dirimu, lemah !! "
" kau cerewet sekali.." ujar Randall tanpa membuka matanya.
" hemh.... lebih baik kau istirahat di kamar, dan jangan terlalu banyak pikiran dan makanlah sesuatu aku tau kau tidak makan apapun beberapa hari ini " Jay bicara panjang lebar namun ia malah mendengarkan dengkuran halus dari lawan bicaranya.
" haaah... dasar " Jay pun mengemasi peralatan nya dan bangkit dari duduknya.
" Vin kau jaga tuan mu ini, maaf aku tidak bisa menginap,aku harus kembali ke rumah sakit ,"
"baiklah tenang saja "
Jay pun mengangguk dan beranjak meninggalkan ruangan.
" hah kau mengagetkan aku " Jay mengelus dadanya berusaha menetralkan detak jantung nya, ia terkejut saat mendapati Mandy tepat di depan pintu saat dia membukanya.
" maaf .. dokter , apa yang terjadi di dalam " ujar Mandy sambil menjijit berusaha melihat ke dalam.
" hmm... lain kali masuk saja, jangan berdiri di sini , Randall sakit tolong kau jaga dia , aku harus kembali ke rumah sakit " Jay menepuk bahu mandy dan melanjutkan langkahnya.
Mandy hanya mengangguk, sebenarnya dia takut namun sesuatu di hatinya mendorongnya, untuk melihat keadaan di dalam,dengan perlahan dia membuka pintu dengan perlahan melangkah mendekati Randall yang terbaring lemah di sofa, Vin membungkuk memberi hormat pada Mandy, Mandy membalas dengan senyuman kecil.
" Vin bisa tolong ambilkan selimut ,air dingin dan handuk kecil " lirih Mandy
" baik nona " Vin mengambil sebuah selimut di salah satu lemari dam memberikan pada Mandy, lalu pergi mengambil barang yang di butuhkan Mandy.
Mandy menyelimuti tubuh Randall dengan lembut, membelai keningnya yang terasa panas, sedikit merasa heran bahkan robot juga bisa sakit,tak lama Vin kembali dengan membawa se ember kecil air dan handuk.
Mandy menempelkan handuk basah di kening Randall, merasakan sesuatu yang dingin menyentuh keningnya membuat Randall sedikit mengeliat.
__ADS_1
" kau istirahatlah biar aku yang menjaganya "
" baik nona " Randall pun melangkah meninggalkan ruang kerja Tuannya, meninggalkan sejoli yang belum sadar dengan hatinya.