Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Episode 53 Halo menantuku


__ADS_3

Kepala Mandy terasa begitu berat, matanya terbuka namun gelap dia tidak bisa melihat apa-apa tangan dan kakinya terkekang seperti terikat kencang, bau anyir darah begitu menyengat. Darah itu berasal dari tubuh Mandy sendiri luka robek di lengan cukup dalam terus mengeluarkan darah, dia tergeletak di lantai, tangan dan kakinya di ikat, tubuhnya penuh luka, kepalanya di bungkus dengan kain hitam pekat.


tap..tap..tap..


terdengar suara langkah kaki mengema, langkah itu terdengar semakin dekat, bukan satu tapi ada beberapa langkah yang terdengar.


"lihat lukanya masih mengeluarkan darah, bagaimana kalua dia mati kehabisan darah" terdengar suara seorang pria.


darah.. aku berdarah ada apa denganku, dimana aku? siapa mereka? sakit..,Tuhan siapa mereka kenapa aku disini batin Mandy.


"beri saja Alkohol biar tidak infeksi, setidaknya Sampai pria itu sampai ke sini dia masih bernafas" sahut seorang lagi.


"kau benar lagi pula ujung ujungnya kita juga akan menghabisi nya"


"hahaha" suara tawa mengema di ruangan itu.


siapa mereka, siapa pria yang mereka maksud?apakah Randall?, RAN tolong aku... aku takut..aku takut mereka akan membunuhku.


Chessss..


Cairan bening itu mulai menguyur luka menganga di lengan Mandy, mengalir bersama darah yang keluar dari robekan daging segar wanita itu. membasahi seluruh bagian tubuhnya yang di penuhi goresan.


"Hemmmp.. hemmmp" Mandy berteriak kesakitan, namun suaranya tercekat oleh sapu tangan yang menyumpal mulutnya. badannya terus mengeliat merasa perih yang teramat sangat, Mandy menggelepar seperti ikan yang diangkat dari air.


sakit...sakit... ini sangat perih.. tolong.. hiks.. siapapun tolong.. Ran.. tolong aku hiks...., Mandy terus berteriak dalam diam. tubuhnya gemetaran, gelap semuanya gelap lagi.


"dia tidak mati kan" ujar seorang wanita yang baru saja masuk, mengguncang tubuh Mandy dengan ujung high heels nya.


"belum Nona, dia masih bernafas" jawab seorang pria di sampingnya.


"bagus, dia tidak boleh mati semudah itu, hihihi " tawa yang menyeramkan keluar dari bibirnya.


****


Kantor .


Ruangan Randall sudah tak berbentuk, hancur, Randall memukul membanting semua benda yang ada melampiaskan Amarahnya.


Buukkk...

__ADS_1


Bogem mentah mendarat untuk ke sekian kalinya di tubuh Vin, membuatnya terhuyung rubuh. Randall menarik kerah baju Vin, tangannya sudah mengepal di udara, Vin sudah siap menerima murka Tuannya, namun tubuh Vin di hempasannya begitu saja.


"sial... haaaah" Randall berteriak.


Braaak


kursi itu melesat ke tembok dengan sekali tendangan dari kaki Randall. mendengar kegaduhan yang ada di dalam ruangannya presdirnya membuat sekertaris merinding, dia tak berani masuk meskipun ada hal hal penting yang harus di sampaikan.


drt...drt....


ponsel Randall bergetar, nomer itu tak bernama.


"halo.. anak tiri ku tersayang" suara yang paling di benci Randall terdengar dari ujung telepon.


"B*ngs*t, cepat katakan dimana dia" tangan Randall mengepal, matanya memerah.


"tenang, aku mau kau datang sendiri ke distrik F, aku akan menghubungi mu lagi, ingat sendiri, kau tidak ingin membuat menantu ku menangis bukan "


Tut..Tut


wajah Randall mengeras, dengan langkah lebar Randall keluar dari ruangannya, aura dingin dan membunuh terpancar dari matanya, semua orang di kantor tertunduk tak berani melihat ataupun mengeluarkan suara.


"Haloo... menantuku" seorang pria membuka kain yang menutupi kepala Mandy, perlahan Mandy membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk, pria berjongkok di depannya nampak tersenyum pada mandy.


"oh.. benar aku belum memperkenalkan diriku, aku ayah Randall wick, Jun .. Jun Matsumo ingat itu dan kau.. adalah calon istri Randall bukan" senyum di wajah Jun lenyap, dia menyeringai menakutkan.


Plaakk.. Plaakk


Jun menampar Pipi Mandy Beberapa kali.


air mata Mandy mulai mengalir.


"dan itu , hadiah perkenalan dariku,oh... jangan menangis, sebentar lagi suamimu akan datang" ujar Jun, dia bangkit dan pergi meninggalkan Mandy di ruangan itu sendiri.


Dengan kecepatan tinggi mobil Roll Royce itu melaju, beberapa kali pria di dalamnya memukul setir dengan keras, mobil itu kini berhenti di depan sebuah bangunan kosong dengan penuh dengan penjaga yang berpakaian serba hitam, seorang pria turun dari dalam mobil dengan penuh amarah.


"anakku kau sudah datang" seorang pria menyambutnya dengan kedua tangan di rentangkan.


Randall menyambar kerah baju pria itu, menatap pria tua itu dengan penuh amarah.

__ADS_1


"dimana dia?"


"kau menempati janjimu ternyata"


"jangan banyak bicara br*ngs*k"


Jun menghempaskan tangan Randall dari kerahnya, dia mengisyaratkan seseorang untuk mendekat , orang itu pun mengerti dan mendekati Randall dia mengikat tangan Randall ke belakang, setelah terikat kencang orang itu mengangguk pada Jun.


"ikuti aku"


tanpa banyak bicara Randall mengikuti tiap langkah Jun, sampai di sebuah pintu Jun membukanya, mata Randall membulat melihat Mandy meringkuk di Lantai, dia segera melangkah masuk ke namun sebelum dia mendekati Mandy.


Brruugh..


lututnya di pukul dari belakang membuatnya jatuh bersimpuh.


Mandy membuka matanya yang semula terpejam, melihat Randall yang bersimpuh di depannya membuat Mandy berusaha mengerakkan tubuhnya agar bisa mendekati Randall.


"berhenti kalau kau ingin dia hidup" suara pria itu membuat Mandy membeku, Randall menatap Mandy dan mengangguk pelan. seorang pria masuk dan menarik rambut Mandy dengan paksa membuat Mandy kesakitan, mau tak mau dia Mandy mendongakkan kepalanya mengikuti tangan yang menarik rambutnya, sebilah pisau dihadapan di lehernya


"hey apa yang kau lakukan" teriak Randall.


BRAAAK


sebuah kursi kayu di hantam kan ke punggung Randall, membuatnya tersungkur, Randall berusaha bangkit kembali.


Brrruuuggghhh... Brrruuuggghhh


Jun menghajar Randall dengan sekuat tenaganya, namun Randall tak bergeming beberapa lebam tak membuatnya mengerang.


"hemp...hemmp" Mandy berteriak, menggelengkan kepalanya, air matanya tak henti mengalir


Nafas Jun naik turun sepertinya dia sudah kehabisan tenaga, merasa jengkel karena Randall masih terlihat kuat, dia memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menghajar Randall.


Brrugghhh.... brrruuuggghhh..


mereka memukuli Randall membabi buta. darah segar keluar dari mulut dah hidup Randall.


Randall menatap Mandy begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


tolong hentikan.... tolong Ran cukup.... gumam Mandy dalam hati, dia menangis merasa sesak melihat Randall yang berdarah di hadapannya.


__ADS_2