
Bukan untuk kau atau aku tapi untuk kita.
Minggu pagi yang begitu cerah meskipun angin musim dingin berhembus kencang hari ini membuat orang-orang memilih di meringkuk rumah, Mandy masih setia di kamarnya seperti biasa duduk di atas sofa kecilnya sambil memeluk kedua lututnya, pikirannya masih menerawang kejadian semalam disaat dia menemukan sahabatnya dan sekarang Randall melarang dia untuk keluar dari Mansion utama.
Tok....tok...tok...
"Mandy boleh aku masuk"syara lembut seorang wanita cantik berambut cokelat mengetuk pintu kamar Mandy yang tidak sepenuhnya tertutup.
"Emh... dokter viona, pagi sekali, silahkan masuk" ujar Mandy tanpa beranjak dari tempat duduknya, dengan senyum yang dipaksakan.
Viona masuk dan mulai melangkah mendekati Mandy tidak seperti hari biasa saat dia menjalankan terapi pada Mandy hari ini dia melepaskan jas putihnya dia hanya memakai kaos berwarna putih dengan gambar tikus yang paling terkenal sedunia dan celana jeans pendek di tambah dengan flatshoes.
"jangan panggil aku dokter, hari ini aku hanya ingin ngobrol dengan mu" ucap Viona sambil mendaratkan bokongnya di sofa.Mandy hanya tersenyum datar.
"apa kau sudah makan aku sangat lapar, aku tadi membawa black forest mungkin sedang di siapkan Mateo"
"Benarkah" Mandy sedikit bersemangat saat mendengar kue kesukaannya. tak lama seorang pria membawa nampan yang dua potong black forest dan teh hangat.
"Terima kasih Mateo" ujar viona tersenyum.
Mateo hanya membungkuk hormat dan kembali berlalu pergi.
"pria yang dingin"lirih viona, melihat punggung Mateo berlalu.
Mandy menikmati tiap suapan rasa lumer coklat yang masuk di mulutnya, rasa yang tidak pernah gagal membuat moodnya membaik. Viona tersenyum kecil melihat raut wajah Mandy yang mulai ceria. Mandy meletakkan piring kecil di atas nakas.
"Viona apa aku salah" ujar Mandy tiba tiba tanpa menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
"maksudnya?" sebenarnya Viona sedikit lega Mandy mau memulai berbicara dengannya karena beberapa hari dia mencoba mendekati Mandy nihil Mandy hanya tersenyum dan menjawab singkat semua pertanyaannya.
"aku...aku... menolak keinginannya, itu bukan karena aku tidak mau bersamanya, aku sangat ingin bersama dengan Randall sampai aku mati, meskipun aku harus menukar segala yang aku punya aku sanggup, tapi apa aku pantas, apa pembunuh seperti aku pantas untuk dia" Mandy memandang cairan dalam gelas yang ia takup dengan kedua tangannya seakan akan dia berbicara dengan benda itu, dia sama sekali tidak berani Bu untuk menatap lawan bicaranya, dia jijik dan kecewa pada kebodohannya. buliran bening kristal mulai jatuh dari sudut matanya. Viona bangkit dan berjalan mendekati Mandy.
"tidak ada yang di bunuh dan membunuh, kita tidak pernah tau kapan nyawa akan di ambil dari raga kita termasuk bayimu, mungkin sekarang kau kecewa pada dirimu tapi, apa kau pernah berpikir Randall juga merasakan hal yang sama!?"
seketika Mandy mendongakkan kepalanya menatap netra bermanik coklat yang kini di hadapannya, perlahan Mandy menggelengkan kepalanya.
"tapi semua terjadi karena aku vio, aku yang begitu bodoh... aku...aku yang salah, jika saja hari itu aku tidak keluar maka semua akan baik baik saja"
" berdamai lah dengan dirimu maafkan dirimu, Randall juga sama seperti mu, berikan dia maaf mu dan bersama kalian akan bisa berdamai dengan masa lalu, bukan demi kau atau dia tapi demi kalian berdua"
Mandy mulai mencerna maksud dari ucapan Viona, viona pun memeluk Mandy yang masih terisak mencoba memberikan tempat untuk menumpahkan semua yang dia pendam selama ini. setelah lebih tenang Viona memutuskan untuk berpamitan pulang dan membiarkan Mandy mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
******
ceklek..
"Ran...apa kau masih sibuk" Mandy mencoba pergi ke ruangan kerja kekasihnya, dan benar saja Randall masih berkutat dengan laptop di pangkuannya. Karena tak ada jawaban Mandy memutuskan untuk berjalan mendekati Randall dengan perlahan.
Mandy dengan serta merta menutup laptop yang ada di pangkuan Randall dan menyingkirkannya, dia mengantikan laptop itu dengan dirinya, Randall tak bisa menolak saat Mandy bersikap manja seperti ini, ini pun pertama kalinya Mandy seperti saat ini dengan sendirinya duduk di pangkuannya.
"ada apa"
"tidak ada aku hanya rindu" ujar Mandy sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Randall.
"rindu" Randall mengerutkan keningnya, bukankah mereka bertemu setiap hari.
__ADS_1
"iya aku rindu kau yang dulu, yang begitu manis dan lembut, dan Tuan Randall yang gagah yang selalu melindungi ku, dan ada cinta di setiap sentuhan mu"
"apa bedanya aku masi seperti itu" Randall menatap lekat mata Mandy mencoba mencari tahu arah pembicaraannya.
"ada yang berbeda dari mu. RAN boleh aku mengatakan sesuatu"
"tentu"
"maafkan dirimu semua bukan karena mu"
deg
Randall terdiam sejenak.
"aku baru memahami kalau kau sama seperti ku yang menyalahkan diri untuk apa yang terjadi kepada bayi kita, tapi semua itu tidak akan mengubah apa yang terjadi, Ran jangan menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi pada diriku, maafkan lah dirimu seperti halnya diriku yang berusaha memaafkan diriku sendiri"
Randall terdiam mendengar semua ucapan Mandy, beban yanag ada di hatinya seakan mengalami bersama air yang keluar dari matanya, ya lelaki itu kini menangis di hadapan kekasihnya, Randall memeluk Mandy erat.
"maafkan aku", bisik Randall tepat di telinga Mandy.
Mandy mengusap air mata dengan ujung jari, dan menakup Waja pria itu dengan kedua tangannya, memberikan sebuah ciuman di bibir Randall .
"aku mencintaimu" ucap Mandy. Randall meraih tengkuk Mandy dan mulai menautkan bibir mereka tak ada penolakan Mandy pun membalas dengan penuh kasih, mereka meleburkan hati dalam setiap sentuhan bibir mereka, setelah cukup lama Randall melepaskan tautannya.
"aku lebih mencintai mu" Randall menyatukan kening mereka dengan nafas keduanya yang masih terengah engah.
malam ini hanya ada cinta walaupun tanpa penyatuan namun ke duanya tenggelam dalam kasih sayang yang mereka rasakan, meskipun masih ada rasa bersalah dalam hati meskipun penyesalan akan selalu ada dan tak terlupakan namun mereka berusaha berdamai dengan diri mereka sendiri.
__ADS_1