
Randall terbangun dari tidurnya, dia memegangi kepalanya masih berdenyut, meraih pinggir sofa berusaha bangkit dari tempatnya.
Pukk
sesuatu yang basah jatuh dari keningnya.
" handuk?? siapa yang menaruhnya" gumam Randall lirih.
Randall mengedarkan pandangannya mendapati seorang wanita yang tengah tertidur di kursi kerjanya dengan kepala yang bertumpu pada meja.
" cantik " gumam nya lirih.
kruuuukk....
" ah sepertinya dokter bodoh itu benar aku harus makan sesuatu" tak ingin menganggu tidur Mandy, Randall mencoba bangkit hendak meraih ponsel di nakas, namun apa daya tubuhnya masih terlalu lemah.
Buuuk ..
Mandy Sontak terbangun, dengan gelagapan Mandy mencari keberadaan Randall di sofa, namun ia menemukan Tuannya di lantai dengan posisi yang sedikit memalukan,
" astaga bisa bisanya aku nungging seperti ini tidak adakah posisi jatuh yang lebih,epik. huh!! Randall mendengus kesal sambil menggerutu dalam hati.
" Astaga Tuan apa yang anda Lakukan " Mandy segera bangkit dari duduknya, meraih tangan Randall berusaha membantunya kembali duduk di sofa.
muka Randall memerah menahan Malu, meski dia sedang sakit tapi posisi saat dia jatuh tadi sungguh mengelikan.
" kenapa wajah Tuan merah, apa suhu badan Tuan naik lagi " Mandy menempelkan telapak tangannya di kening Randall, " Hem.. tidak panas," ujar Mandy membandingkan suhu di keningnya.
Randall pun memalingkan wajahnya, wajahnya semakin memerah saat Mandy mendekatkan wajahnya, ternyata tuan muda kita bisa juga tersipu.
" kruuuukk..."
__ADS_1
mendengar bunyi cacing yang sedang berdemo di usus besar Randall, Mandy tersenyum .
" tuan tunggu sebentar aku akan segera kembali " ujarnya sambil berlari kecil berlalu dari Balik pintu.
selang beberapa menit Mandy kembali dengan semangkok bubur nasi hangat, dia pun duduk tepat di samping Randall, menyendok bubur lalu meniupnya agar tidak terlalu panas.
" tuan makanlah " Mandy mengarah sendok tepat di depan mulut Randall, pria itu pun menurut membuka mulutnya.
seperti de Javu semangkok bubur hangat di tengah malam sama seperti saat itu, terasa begitu hangat seperti saat wanita ini mengenalnya dulu, terasa sedikit sakit menerima kenyataan bahwa tak satupun memory kebersamaan mereka di benaknya, dalam keheningan Randall menikmati setiap sendok bubur yang ia makan.
" tuan bolehkah saya menanyakan sesuatu" sebenarnya Mandy tak begitu yakin untuk bertanya namun di Ingin tahu kebenaran tentang dirinya, Randall mengangguk sambil terus mengunyah makanannya.
" apakah kita pernah melakukan itu " Mandy menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti udang rebus.
" uhuk....uhhhuk...."
" tuan kenapa... pelan pelan " Mandy menepuk punggung Randall, lalu menyodorkan segelas air kepadanya.
" emh... kenapa kau bertanya seperti itu"
" apakah sering "
Brussttt
belum sempat air itu membasahi tenggorokannya sudah dia keluarkan lagi, untungnya semburan air mancur dadakan itu tidak mengenai wajah Mandy.
"apa lagi ini, apa yang kedua dokter itu lakukan, apa mereka mencuci otak Mandy,apa selain matanya otaknya juga di operasi " lirih Randall hampir tak terdengar, dia benar benar di buat terkejut dengan Mandy yang sekarang
" Tuan bicara apa,? kenapa tidak jelas begitu mendengung seperti tawon, Mateo bilang aku pernah hamil " Mandy kembali tertunduk sambil memainkan ujung bajunya.
Randall menghela nafas panjang, ternyata itu yang membuat Mandy bertanya seperti itu, Randall memang sengaja melarang siapapun untuk tidak mengatakan tentang kehamilan Mandy,dia takut mandy bersedih dengan kenyataan bahwa bayi mereka kini telah tiada, Randall menggenggam erat tangan Mandy.
__ADS_1
" aku akan menjawab semua pertanyaanmu, "
Randall kembali menarik nafas sebelum memulai kisahnya, Randall menepuk pahanya mengisyaratkan Mandy untuk duduk di pangkuannya.
" tapi Tuan masih sakit" Mandy berusaha mengelak,entah kenapa dia menjadi merasa gugup.
" semua tidak gratis nona " Randall menatap tajam pada Mandy dengan senyum smirk.
Mandy menelan ludah dengan kasar mau tak mau dia menurut juga,dia ingin mendengar seluruh kisahnya, tangan Randall segera membelit di pinggang ramping Mandy menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mandy menghirup kuat Aroma yang selama ini dia rindukan walaupun merasa risih namun ada perasaan hangat yang ia rasakan.
" kita pernah melakukannya sekali, itupun dengan sedikit terpaksa, hari itu yang pertama untuk kita berdua dan.... "
" dan.... "
"lalu....."
" lalu .. apa, kenapa bertele-tele " Mandy menggembungkan pipinya.
Randall tergelak, mencubit gemas pipi Mandy dengan tangan lain yang tak memakai selang infus.
" lalu kau hamil, dan kita tidak melakukannya lagi, karena kau bilang tidak mau melakukannya sebelum menikah, dan aku berjanji untuk berpuasa "
" benarkah.. kita tidak melakukannya lagi " mata Mandy mencoba mencari kebohongan di netra bermanik Abu abu milik Randall namun nihil dia melihat ketulusan disana dan malah merasa sangat mengenal mata itu.
" lalu apa yang terjadi dengan bayi kita?"
" saat kau kecelakaan, kita kehilangan dia " Randall memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan guratan kesedihan di wajahnya.
" Maaf... maafkan aku " mata mandy mulai mengembun, dadanya terasa sesak, rasa kehilangan itu menyeruak begitu saja memenuhi rongga dadanya.
" hey.. hey . tidak apa apa mungkin belum waktunya kita memilikinya " Randall memeluk Mandy erat.
__ADS_1
Mandy makin terisak, air mata sudah tak terbendung, walau dia tak bisa mengingat apapun namun dia merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya.