Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
episode 57


__ADS_3

Mandy memalingkan wajahnya, Randall bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Mandy.


"Mandy, sayang..." Randall bersimpuh di depan Mandy, mengenggam erat tangannya.


"Maaf"


Mandy masih bergeming, namun air matanya masih terus jatuh.


"Maaf aku mohon" Randall mempererat genggaman tangannya.


"Aku takut Ran, aku takut melihat mu seperti itu" Randall merengkuh tubuh Mandy dalam pelukannya.


"Maaf, ini hanya luka kecil kau tidak perlu khawatir"


"Luka kecil" Mandy mendorong tubuh Randall menjauh.


"Ran aku mohon, setidaknya demi aku, aku tidak mau melihat darah di tubuhmu lagi, aku takut Ran, kau tau itu" Mandy semakin terisak, Randall segera memeluknya lagi, tak perduli Mandy yang terus meronta dan memukulnya, Randall mempererat pelukannya sampai Mandy akhirnya tenang.


Sejak hari pertama kepulangannya dari rumah sakit, Randall langsung berkerja ke kantor, meskipun Mandy mencoba melarangnya, namun Randall bersikeras untuk tetap ke kantor.


Randall mempererat pelukannya, menghujani pucuk rambut Mandy dengan kecupan, dia merasa begitu bodoh membiarkan Mandy air mata Mandy jatuh karenanya lagi, dia bisa melihat tangan Mandy gemetar saat melepaskan jas dan kemejanya tadi, bagaimana Mandy menahan dirinya dari rasa takutnya.

__ADS_1


"Maaf.. maafkan aku" lirih Randall.


Randall mengapit dagu Mandy sedikit mendongakkan wajahnya, membenamkan bibirnya dengan lembut di bibir ranum Mandy, menenangkan tiap isakan yang masih tersisa, perlahan ia melepaskan tautannya, mengecup kedua kelopak mata Mandy dengan lembut. Menatap netra coklat yang mampu menengelamkan seluruh dunianya.


Tatapan Mandy terkunci pada dua manik berwarna abu-abu, yang menjadi favoritnya sejak dulu, mata yang ingin dia lihat sejak tragedi malam itu, mata yang tatapannya begitu teduh namun juga misterius, dia tidak ingin kehilangan Randall lagi, Mandy tak sanggup untuk terpisah dengan jiwanya lagi.


Bibir mereka kembali menyatu begitu lembut dan hangat, kedua pasang mata terpejam menikmati penyatuan yang melebur kan hati mereka, tak ada tuntutan hanya penyatuan kasih sayang dan rindu yang mendalam, rasa egois untuk memiliki satu sama lain. Randall mengangkat ujung bibirnya melepaskan tautannya.


"Apa kau memaafkan aku" kening keduanya menyatu, Sepasang mata itu kembali mengunci.


"Kau tau, aku tak akan pernah bisa marah padamu" Mandy memejamkan matanya lagi, merasakan hembusan nafas hangat yang menyapu wajahnya.


"Tapi dengan syarat, jangan tinggalkan Mansion selama seminggu"lirih Mandy.


"Tentu Ratuku," wajah Mandy merona mendengar ucapan Randall.


"Istirahatlah aku akan menyiapkan makan malam" Mandy mendorong tubuh Randall.


"No.. kau akan menemaniku sini, aku ingin memelukmu seperti ini" Randall mengeratkan pelukannya.


"Ran... aku mohon"Mandy berusaha melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


"Aku juga mohon, aku harus bersamamu agar aku bisa relax"


"Kau pintar merayu sekarang"


"Tidak sayang dunia hanya ada dua, kau dan pekerjaan ku, jadi kalau kau ingin aku istirahat maka kau harus selalu ada di sampingku, kau mengerti" Mandy mengangguk dengan kedua tangannya dia membelai halus pipi Randall.


"Aku akan selalu di sisimu sayang" ucap Mandy lirih.


"Damn it, bolehkah aku memakan mu sekarang, aku sudah bertahan selama ini kau tahu."


Randall sungguh tersiksa setiap kali junior bangun, dulu dia bertahan karena Mandy menghilang sedangkan sekarang Mandy selalu menemaninya , mereka tidur seranjang, namun Randall tetap berusaha menepati janjinya.


"Kau akan melanggar janji mu sendiri" Mandy terkekeh melihat raut wajah Randall.


"Akhirnya kau tersenyum"


"Karena kau"


*****


semingguan berlaku Mandy selalu ada disisi Randall, terkecuali ke kamar mandi, Randall masih terus bekerja di rumah, tentu di bawah pengawasan Mandy, tidak boleh terlalu lama, Mandy merawatnya bagaikan baby sitter yang merawat bayi besarnya, dengan senang hati Randall membiarkan Mandy melakukan apapun padanya.

__ADS_1


__ADS_2