Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
Nostalgia


__ADS_3

Randall dan Mandy duduk di singgasana mereka, sehari menjadi raja dan ratu, hari ini resepsi pernikahan mereka di adakan secara megah di hotel yang didirikan Randall untuk permaisurinya, inilah acara pernikahan pertama yang di gelar sejak hotel ini berdiri.


"Selamat atas pernikahan Anda Tuan" ucap sepasang suami istri.


"Terima kasih"


Lalu lalang tamu mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Ran, kakiku sakit" lirih mandy berbisik di telinga Randall, berdiri lama mengenakan high heels, membuat kaki Mandy terasa nyeri.


"Duduklah, sebentar lagi kita akan beristirahat" Mandy tersenyum, lalu duduk di atas kursi singgasana mereka. Randall tak melepaskan genggaman tangannya, sesekali dia mencium punggung tangan Mandy.


Sebuah meja tamu di ujung ruangan, tampak tiga lelaki yang sedang menikmati minuman mereka.


"Akhirnya mereka menikah" Ucap Jay sambil mengusap sudut matanya dengan tissue.


"Sudahlah, kau menjijikkan" ucap Vin sambil memandang jijik pada Dokter muda yang mengelap ingusan, sedangkan Mateo hanya menggelengkan kepalanya sambil menikmati wine di gelasnya.


"Dasar Pengawal kurang ajar, aku hanya terharu sahabatku akhirnya bisa bahagia, Dia dan Mandy akhirnya bisa bersatu"


"Tentu mereka akan bersatu, mereka sudah berjodoh sejak remaja"


"Apa" ucap Jay terkejut.


"Mereka bertemu saat Tuan di bawa untuk tinggal di mansion Tuan Besar, yang tak lain adalah Kakek Tuan Randall Kau tidak tahu itu kan" Vin tersenyum miring.


"Huhuhu.. kenapa Randall tidak pernah cerita, awas Kau Ran" tangan Jay mengepal kuat.


"Jangan perduli kan itu, pikiran saja nasibmu yang masih sendiri"


"Kau juga sama, sampai kapan kau ada di samping Tuan mu itu"


"Kau juga sama, terus mengikuti Tuan Randall," ucap Vin tak mau kalah.


"Kau benar, karena hanya Dia yang menganggap aku manusia" ucap Jay sendu.


Ingatan Jay menerawang saat masa kuliahnya. Jay hanya di anggap alat oleh kedua orangtuanya, semua di atur, tanpa ada yang bertanya tentang apa yang dia inginkan, sekali dia bicara Ayahnya akan menghajarnya, tak ada yang perduli dengan kehidupannya, Jay, sejak kecil di bawa saat orang tuanya bertemu dengan klien mereka, memanfaatkan wajah tampan dan lugu Jay, untuk menyenangkan anak dari klien mereka, tujuannya tak lain untuk mempermudah urusan bisnis. Jay hanya robot mainan yang di kendalikan.

__ADS_1


Sampai di satu saat, di saat Jay kuliah di sebuah universitas ternama di Jerman, dia bertemu sosok pria yang arogan dan dingin.


"Apa yang ingin kau pesan" ucap Pria dingin itu dengan datar, saat mereka berdua berada di kantin.


"Terserah" ucap Jay.


"Tidak ada kata lain, selain terserah"


Bruaak


Pria itu mengebrak meja dengan keras.


"Sampai kapan Kau akan seperti ini, menjadi Patung mainan yang hanya bisa menjawab terserah," pria itu menatap tajam pada manik mata Jay.


"Kalau kau masih ingin hidup, hiduplah dengan keinginanmu, tak ada seorangpun yang berhak atas hidupmu,"Ujar pria dingin itu lagi, lalu beranjak meninggalkan Jay yang duduk termenung di meja kantin sendiri. Pria itu seakan jenuh dengan sikap Jay yang terlalu penurut dan menyerahkan segalanya tanpa punya inisiatif untuk mengambil keputusan, meskipun untuk dirinya sendiri.


Seakan mendapatkan tamparan, Jay mulai bangkit dan berani bicara tentang keinginannya pada orang tuanya, hasilnya Jay di usir karena di anggap membangkang, Jay keluar dari universitas di Jerman, lalu dia kembali kuliah di Taiwan dengan hasil jeri payahnya sendiri, mengejar impiannya sebagai Dokter, dan semua tak lepas dari pria dingin yang selalu mendukungnya.


"Kenapa kau malah melamun" ucap Vin, seketika Jay tersadar.


"Aku tidak melamun, aku hanya memikirkan sampai kapan kau menempel pada Tuan mu"elak Jay.


"Kau gila"


"Aku tidak gila, Kau tau aku sejak kecil selalu bersama dengan Tuan, Aku tahu bagaimana kerasnya kehidupan yang dia jalani,"


Vin adalah seorang yatim piatu yang diadopsi Kakek Randall dari jalanan, dia sudah di ajarkan untuk menjadi pendamping Randall sejak ia masuk kedalam keluarga Wick, Vin bersekolah bersama dengan Randall, di mana ada Randall di situ ada Vin , dia seperti bayangan yang akan selalu ada untuk raganya.


"Lalu bagaimana dengan tuan bisu kita ini" Jay melirik pada Mateo yang sedari tadi diam tanpa suara, hanya terus meminum cairan merah yang memabukkan itu.


"Dia, kau tak usah bertanya tentang dia" Seloroh Vin.


"Dia sudah di kontrak seumur hidupnya, oleh Tuan"


"kau benar, aku hampir lupa"


Tak ada jawaban dari Mateo, dia hanya mengangkat bahunya.

__ADS_1


Tak ada yang tahu asal usul Mateo, Randall menemukan Mateo di sebuah tempat sampah di lorong gelap di sebelah Club malam.


Malam yang pekat, erangan lirih terdengar dari sebuah tempat sampah besar, Randall dan Vin yang baru saja keluar dari Club memutuskan untuk memeriksa, sebuah tubuh penuh luka, wajah yang berlumuran darah dan luka, entah angin apa yang membuat Randall membawanya tubuh yang hampir tak bernyawa ke rumah sakit, Jay yang bertanggung jawab sepenuhnya atas pria penuh luka itu, koma selama tiga bulan penuh, sebelum akhirnya dia membuka matanya.


Pagi ini pertama kali pria itu membuka matanya.


"Apa keahlian mu" tanya Randall pada Pria yang masih terbaring lemah di atas brankar.


"Apa yang Tuan butuhkan" ucapnya tegas, walau suaranya masih terdengar lemah.


"Aku butuh seorang dengan keahlian khusus"


"Saya hanya ahli menguliti musuh Tuan" ucap pria itu.


"Bagus"


Randall langsung menyuruh pria itu menanda tangani kontak seumur hidupnya, Randall tahu pria ini bukan seorang yang mudah menerima bantuan orang lain, tatapan matanya yang dingin dan tajam, sama seperti dirinya. Randall tau dia bisa mengandalkan kemampuannya.


"Sayang.... " seorang wanita berperawakan tinggi berlari sambil membawa sebuket bunga. ketiga pria itu menoleh ke arah wanita itu.


"Sayang aku mendapatkannya, buket bunga pengantin " ucap wanita itu sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Mateo tersenyum, dia bangkit dari duduknya dan mengecup singkat bibir wanita itu, Mella tersipu, pipinya merona seketika. Jay dan Vin hanya bisa terdiam membeku dengan pemandangan di hadapan mereka.


"Kau, sejak kapan kalian bersama" ucap Jay tak terima, jiwa jomblonya meronta.


Mateo merengkuh tubuh Mella, mengikis jarak diantara mereka.


"Sayang aku malu" lirih Mella.


"Tak apa sayang, tak usah malu dengan dua jomblo karatan ini" ujar Mateo sambil mengecup pipi kekasihnya.


"Jomblo karatan, dasar koki kurang ajar" Vin melempar kacang pada Mateo, Mateo hanya terkekeh melihat wajah kedua pria di hadapannya.


"Ayo Sayang, kita akan bicara pada Tuan tentang pernikahan kita"


Mateo menarik lembut tangan Mella, berjalan meninggalkan kedua pria, dengan derita kesendirian mereka.

__ADS_1


Setiap orang memiliki masa lalu, Mateo mempunyai masa lalu yang tak seorangpun tau, bagaimana dia bisa berakhir di tempat sampah itu, dan Mella punya masa lalunya, setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kehidupan mereka.


__ADS_2