Gadis Buta Tuan R

Gadis Buta Tuan R
episode 56


__ADS_3

Randall benar benar memenuhi ucapannya, sebuah kamar di dalam Mansion sudah lengkap berisikan peralatan medis, bedanya pasien tetap berbaring di ranjang king size, dua orang perawat yang bertugas 24 jam dan seorang dokter kece, jangan di tanya siapa reader sudah tau dokter langganannya hehehe. Meski Jay tak bisa selalu ada di Mansion namun jika si butuhkan dia akan segera datang.


Mandy menghela nafas panjang, merasa Randall yang sekarang over protektif padanya, seorang perawat dan dua orang bodyguard harus siaga di sampingnya, mereka akan menempel seperti anak ayam, ikut kemanapun Mandy pergi kecuali kamar mandi, sebenarnya dia sangat tak nyaman dengan hal itu ,namun dia tak bisa menolaknya, dia menghargai semua yang Randall lalukan untuknya.


Mandy menoleh pada dua orang berbaju hitam, menatap jengah pada mereka.


"bisakah kalian berdiri lebih jauh, aku seperti tahanan yang selalu di awasi, bahkan untuk sekedar berjalan di sini saja kalian selalu menempel" ujar Mandy kesal, Mandy ingin menikmati sorenya di pinggir kolam seperti sebelumnya, sambil menanti Randall pulang.


Mereka sudah di rawat di rumah sejak tiga hari yang lalu, Randall sudah mulai ke kantor seperti biasanya.


"maaf Nona kami di di perintahkan berjarak satu meter dari anda tidak kurang atau lebih kecuali pada saat tertentu" jawab salah satu penjaga dengan muka datar.


Sekali lagi mandi menghela nafasnya, lalu ia mengalihkan pandangannya ke perawat yang berjalan sampingnya, perawat itu hanya tersenyum padanya, Mandy membalasnya dengan senyum yang terpaksa. mata Mandy berbinar tak kala melihat seorang wanita berjalan mendekatinya.


"bagaimana khabar mu?, aku sangat khawatir saat mendengar kau terluka" ucap Mella, sembari memeluk sahabatnya. Mandy pun membalas pelukannya sahabatnya, saat mereka mengurai pelukannya Mella melihat jelas bekas luka di pipi Mandy, perlahan dia menyentuhnya.


"apa masih sakit" Mella meringis membayangkan rasa sakit saat kulit itu di gores.


"tidak hanya bekasnya saja belum hilang, atau mungkin tak akan bisa hilang" ujar Mandy dengan nada sendu.

__ADS_1


"kau tetap cantik Mandy" Mella mencoba menghibur temannya.


mereka pun bercengkrama melepas kerinduan mereka, menghabiskan sore dengan angin semilir nya, Mandy mengabaikan kulkas dua pintu yang selalu berdiri tegak di belakangnya, dan perawatan yang duduk di sampingnya tanpa bicara apapun.


Suara deru Mobil memasuki Mansion, Mandy mulai melangkah pergi ke depan hendak menyambut pujaan hatinya.


"Man aku pergi ke kamar ku dulu ya" Mella berpamitan pada sahabatnya, meskipun dia bolehkan keluar dari kamarnya, namun dia tidak di perbolehkan menampakkan wajahnya di hadapan Randall.


"baiklah"


Mella tersenyum dan melangkah menjauh, Mandy melihat punggung sahabat mulai berlalu di balik sebuah pintu sebuah bangunan yang terpisah dari Mansion, sebenarnya Mandy merasa iba Randall masih mengurungnya, entah kapan Randall akan berdamai dengan sahabatnya, semuanya memang butuh waktu, butuh proses, ucapan maaf memang mudah namun sangat sulit menghilangkan rasa sakit yabg sudah membekas.


"sudahlah Vin aku bisa sendiri" Randall menepis tangan Vin yang hendak memapahnya.


"tapi Tuan, luka Tuan berdarah lagi" muka Vin terlihat sangat cemas, melihat rembesan cairan merah yang mulai nampak membasahi kemeja yang Randall kenakan.


"kau jangan berlebih-lebihan" Randall menatap tajam pada Vin, Vin hanya bisa menghela nafasnya, dan mengekor di belakang Tuannya.


Mandy mempercepat langkahnya nama kala melihat dua orang yang baru keluar dari mobil itu berdebat, ia yakin pasti ada sesuatu yang tak beres.

__ADS_1


"ada apa ini" Mata Mandy mulai menyelidiki tiap inci tubuh Randall dari atas kebawah. Randall hanya tersenyum dan berjalan mendekati Mandy.


"tidak ada apa apa sayang, hanya masalah pekerjaan di kantor" Mandy tak langsung percaya di menatap Vin yang tertunduk.


"Sudahlah ayo masuk" Randall merangkul bahu Mandy, mengajaknya masuk, untungnya dia segera memakai jasa menutupi rembesan darah di punggungnya.


Sampai di kamarnya , Randall tak langsung merebahkan dirinya seperti biasanya, dia mendudukkan dirinya di sofa, Mandy masih menatapnya penuh selidik.


"kenapa?, bisakah kau menyiapkan air mandi untukku"


Mandy diam tak menjawab, di berdiri di hadapan Randall melepaskan jasa yang Randall pakai perlahan,dia tahu pasti ada yang pria ini sembunyikan darinya.


"Mandy tidak usah, aku akan melepaskan sendiri, tolong siap air untuk ku saja" Mandy tak mendengarkan di masih tetap memaksa membuka jasa pria itu, mau tak mau akhirnya Randall membiarkan Mandy melepaskannya.


Air mata mandy mulai menetes saat mendapati kemeja yang memerah, dia tak berkata tangannya mulai membuka kancing kemeja Randall satu persatu, tanpa menghiraukan Randall yang terus mengoceh bahwa ia baik baik saja. Mandy keluar kamar sejenak meninggalkan Randall yang telanjang dada, tak lama ia kembali dengan seorang perawat yang membawa nampan yang berisikan obat dan peralatan medis.


Mandy duduk di hadapan Randall dengan wajah datar dan sesekali mengusap matanya dengan kasar, membiarkan perawat menangani luka Randall.


"maaf Tuan Randall, jahitan pada luka anda terbuka ini akan sedikit sakit" perawat itu mulai membersihkan luka dan merapikan jahitan pada luka setelah memberikan bius lokal. Randall tam memperdulikan apa yang perawat itu lakukan, ia hanya menatap wajah Mandy yang terlihat sedih, dengan buliran bening yang tak henti berderai walau ia terus mengusapnya.

__ADS_1


"luka anda belum sepenuhnya kering jadi mohon ke depannya anda lebih berhati hati, kalau begitu saya permisi," setelah membereskan peralatannya perawat itu pergi keluar kamar, menyisakan dua orang yang membisu di dalamnya.


__ADS_2