
Malam yang sama, seorang wanita telah bersimpuh di hadapan ayahnya.
Plaakk
sebuah tamparan mendarat di pipi wanita cantik yang, begitu kuatnya hingga membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan cairan merah.
" Papa " !! wanita itu melototi pria yang sedang duduk di kursi rodanya, sambil terus mengusap pipi yang terasa panas.
" cukup.. Alice... !!! apa yang kau lakukan sudah keterlaluan,kau melenyapkan dua nyawa sekaligus" nafas Max memburu amarahnya sudah di memuncak.
" Aku tidak membunuh wanita itu, dia sendiri yang menabrakkan diri, sebelum orangku menabraknya" ujar Alice sambil mendirikan diri dari posisinya semula yang sejajar dengan sang ayah.
" Alice sudah nak, ayah mohon sudahi semua ini " mata Max sudah berkaca-kaca dia sadar semua ini tak sepenuhnya salah anaknya, Kasih sayangnya lah yang membuat Alice seperti ini.
" Tidak ayah.. Randall hanya milikku... hahahaha .."
tawa yang mengerikan terdengar menggema, Max merasa tak tau lagi cara membuat anaknya mengerti, obsesi nya pada Randall sudah lewat batas,dia terlihat seperti psikopat.
Max mengusap wajahnya kasa,dia memberikan isyarat pada dua penjaga di belakang Alice, keduanya mengangguk tanpa suara dan perlahan mendekati Alice, mengunci kedua lengannya.
" Apa yang kau lakukan ..!!!! lepaskan dasar kurang ajar, papa suruh mereka melepaskan aku papa... !!" Alice yang terus meronta mencoba melepaskan kedua tangan besar yang memegangnya.
" Alice maafkan papa ini semua demi kebaikanmu " Max menatap sendu pada anak gadisnya,air mata mulai bergulir.
" Apa... Apa maksud papa "!!
seorang penjaga lain berjalan mendekati Alice sambil membawa jarum suntik yang berisikan cairan berwarna bening.
" Apa.. itu.. menjauh kau .. pergi... pergi jangan dekati aku. .. pergi" mata Alice terbelalak melihat apa yang ada di tangan penjaga itu, Alice berusaha terus meronta,menendang ke arah penjaga lainnya
" Maafkan saya nona " akhirnya penjaga itu menancapkan jarum suntik ke lengan Alice.
__ADS_1
".. papa.... aku tidak akan memaafkan mu.. papa.. " suara Alice terdengar melemah,matanya mulai terpejam tubuhnya mulai merosot ke bawah namun para penjaga itu menahannya.
" maafkan papa nak ini semua demi kebaikanmu. bawa dia secepatnya " max menutup kedua matanya mengembuskan kasar nafas panjang." Nina maafkan aku yang tak bisa mendidik Alice dengan baik" lirih max dalam batinnya, penyesalan tak lagi berguna lagi, kasih sayangnya sudah menghancurkan anak nya sendiri. Max tau Randall akan segera mengetahui perbuatan Alice,dan itu pasti bukan sesuatu yang baik,dia harus menyembunyikan Alice untuk sementara.
*******
seorang wanita tengah duduk menikmati segelas wine di pagi hari yang masih sangat dingin bahkan mentari masih malu malu untuk menyapa bumi bagian barat.
" kep**at.. papa tega sekali mengurungku disini,. CK..." mukanya tertekuk sambil mengaduk aduk isi gelas itu dengan telunjuknya.
Pyaaaarr
pecahan kaca bening berserakan, cairan yang beraroma khas itu kini telah merata di lantai, seorang perempuan berperawakan kecil lari tergopoh-gopoh mendengar suara dari dalam kamar.
tok... tok.. tok....
" nona... nona.. nona tidak apa apa " gadis kecil itu begitu khawatir terjadi sesuatu majikannya, tangannya tak berhenti mengetuk pintu kamar itu.
" Diam.. pergi dan panggil Antonio ke mari "
" baik nona". pelayan itu segera berlari menuju kamar Tuannya.
" tok..tok ... Tuan.. " perempuan kecil itu mengetuk pintu memanggil lembut sang Tuan yang sedang terlelap.
sayup suara kecil lirih yang terdengar dari seberang pintu mengusik tidur pria berambut pirang, mengerjakan mata berusaha mengumpulkan nyawanya.
" Tuan.."
suara kecil itu terdengar lagi," kalau begitu ini bukan mimpi " ujar pria itu meyakinkan diri. dengan malas dia turun dari ranjangnya berjalan membuka pintu kamar.
ceklek
__ADS_1
" iya ada apa.. " dengan suara parau khas orang bangun tidur, rambut yang acak acakan dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
" anu.. tuan.. " perempuan itu kini gugup menundukkan kepala.
" cepat katakan.." Antonio
" eh.. itu Nona ingin anda menemuinya" terkejut gadis itu sontak mendongakkan kepalanya,
" ya . aku akan kesana"
" baik Tuan "
Wusssh
setelah menjawab tuannya gadis itu segera berlari seperti di kejar hantu.
" ada apa dengannya" Henan Antonio sambil menggaruk kepalanya. dia memandang sendiri ke arah dirinya.
" oh shittt..!!" pantas dia lari karena malu, Antonio hanya memakai boxer dengan bertelanjang dada.
******
setelah membersihkan diri Antonio segera menuju kamar sepupunya.
"apa mau mu " Antonio tanpa basa Bai sambil mendudukkan diri di sofa.
" aku mau pulang, aku sudah bosan di perkebunan mu yang tak berguna ini " ujar Alice dengan muka masam.
" kau pikir aku dengan senang hati menampung mu disini, kau pikirkan saja kali bukan paman max yang meminta tak Sudi aku menerimamu disini, " sahut Antonio berusaha menahan emosi.
" kali begitu pulangkan aku.. ... aku tak mau disini. " Alice mulai berteriak
__ADS_1
" paman max yang akan menjemputmu sendiri, dan jangan berbuat ulah di sini, " Antonio melangkah meninggalkan sepupunya yang mulai membanting setiap benda yang ada di kamarnya.
" kau harus sadari kesalahanmu jika kau ingin pulang Alice, kau tak bisa selamanya seperti ini " gumam Antonio lirih setelah menutup pintu kamar Alice.