
Setelah mereka memesan makanan dan minuman, pelayan itu langsung pergi karna sedari tadi Kanaya sudah menatap nya tajam. Salsa mengerti akan situasi ini, ia hanya bisa mengulum senyum nya agar tidak ditatap tajam juga oleh atasan nya itu. Setelah pelayan pergi, Kanaya mulai topik nya, mengapa ia mengajak dua orang itu ke sini.
"Baik, jadi, saya ingin membahas kerja sama antara perusahaan Rich, dan perusahaan Qiztya. Saya ingin, perusahaan kami berkerja sama dengan perusahaan anda tuan Rendy." Ucap Kanaya serius.
"Benar kah boss?? Bukan kah anda sempat menolak nya?" Salsa penasaran kenapa boss nya ini tiba tiba ingin berkerja sama dengan perusahaan yang sempat ia tolak. Apa tebakan nya tadi itu benar? Jika Rendy dan Kanaya memiliki hubungan?.
"Yah, saya rasa itu cukup menguntungkan bagi kita juga, apa lagi perusahaan Rich itu sudah sangat dikenal dunia. Dan terlebih lagi perusahaan itu sudah memasuki pasar eropa dan amerika. Dan mereka berhasil. Mungkin tidak salah nya juga kita berkerja sama dengan mereka. Toh nanti kita yang akan untung juga." Kanaya benar, perusahaan Rich sudah sangat dikenal dunia, sejak Rendy mengambil alih perusahaan itu 3 tahun lalu sampai sekarang perusahaan itu menjadi semakin besar dan maju.
"Sayang,, jangan bahas masalah kantor dulu.. aku kan mengajak mu kesini kan untuk sarapan bersama. Tadi nya aku ingin mengajak mu sarapan dirumah mama, tapi ternyata sekertaris mu itu lebih cepat sari pada aku," ucapan Rendy seolah olah mengatakan bahwa ia lah orang paling menderita diseluruh kota, hanya karna kalah cepat dari Salsa.
__ADS_1
Salsa hanya bisa menunduk malu, karna jujur ia bukan bermaksud ingin membuat rencana Rendy gagal, namun ia ada hal yang harus disampai kepada Kanaya. Karna dari semalam kan handphone nya Kanaya tidak aktif. Jadi mau tidak mau harus langsung ketemu deh.
Kanaya bahkan tercengenang dengan apa yang diucap kan pria itu. Bagaimana mungkin seorang pria yang sangat diidamkan oleh seluruh wanita dinegara ini bahkan hampir diseluruh asia ini, bisa mengatakan hal hal yang sangat tidak tau malu itu. Tidak kah dia memiliki sedikit rasa malu?
"Kenapa kau mengatakan itu! Tidak kah kau memiliki rasa malu? Seharus nya kau itu bisa lebih berwibawa, kau itu pemimpin sebuah perusahaan yang terkenal diseluruh dunia, kenapa kau bersikap seolah olah kau adalah orang termiskin yang mengemis dipinggir jalan, dan tidak tau malu,"
Sekarang meja yang paling pojok dari cafe itu menjadi pusat perhatian. Mereka kagum dengan sosok Rendy yang menjadi laki laki idaman bagi kebanyakan wanita diluar sana.
"Aishhh! Sudah lah! Kalau kau tidak mau juga tidak apa apa!" Kanaya hendak berdiri dari duduk nya namun langsung dicegah oleh Rendy.
__ADS_1
"Baiklah! Kalau kau masih bersikeras untuk membahas nya, tapi nanti, tunggu asisten ku datang, baru kita bahas." Ucap Rendy mengalah.
"baik, kapan asisten mu datang,"
"Mungkin, 1 jam lagi,"
"Ha?, baiklah.." Kanaya hanya bisa pasrah karna jika ia melawan maka kejadian tadi akan terulang lagi dan pipi nya akan merah lagi.
'huh! dasar pembuat onar! bisa saja memancing emosi ku!'
__ADS_1