
Sekitar 45 menit akhir nya sampai lah mobil yang dinaiki Kanaya dan Farezky sampai dirumah Farezky. Rumah nya cukup besar. Terdapat halaman yang dipenuhi bunga bunga yang indah dan warna warni. Seperti pekerja disini rajin menyiram nya jadi tumbuh dengan sempurna.
Rumah nya hanya terdiri dari 2 lantai, rumah yang besar dan cukup luas. Rumah ini bernuansa modren dan minimalis. Warna coklat dan putih mendominasi warna nya. Ketika pintu utama dirumah tersebut terlihat ruang tamu yang cukup luas dan besar. Sofa yang tampak empuk menyambut mata dan berbagai guci yang indah dan menarik pun memanjakan mata.
Rumah yang tertata rapi dan bersih, menandakan betapa rajin nya pelayan rumah itu membersihkan rumah yang besar dengan teliti. Kanaya sempat tercengang, ia tidak menduga bagaimana mungkin kakak sepupu nya yang terkesan kaku dan dingin ternyata bisa merawat rumah. Walau pun bukan secara langsung, namun tetap saja, kakak sepupu nya ini pasti nya yang membuat para pelayan bekerja keras.
Saat mata indah nya sedang berkeliling melihat bagian ruang tamu itu, tiba tiba mata nya bertemu dengan mata yang sudah lama ia tidak lihat. Seketika muncul rasa bersalah, haru, dan senang. Entah lah ia tidak bisa mendeskripsi kan nya.
Kanaya langsung berlari menyambut pria paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ayah nya itu. Seketika air mata yang tadi nya ingin ia bendung, tiba tiba langsung menetes tanpa disuruh. Ia merasa kan hangat nya peluk seorang ayah sekarang. Menjadi kan air mata yang sudah lama mengering menjadi berlinang kembali.
__ADS_1
" hiks... hiks.. maaf.. " hanya itu yang bisa Kanaya katakan.
Kata kata yang biasa nya muncul dengan sendiri nya kini tiba tiba menghilang entah kemana. Kanaya hanya menangis tersedu sedu. Mengingat betapa sayang nya pria paruh baya ini melebihi sayang nya ayah kandung nya sendiri bahkan, pria paruh baya ini lebih mengutamakan Kanaya dari pada anak kandung nya sendiri.
" ini bukan salah mu Aya... ini salah ku karna aku tidak bisa melindungi kalian, ini salah paman.. " ucap Glen sambil menepuk pelan punggung gadis manis yang sudah ia anggap putri nya sendiri itu.
" paman... hiks.. hiks.. " ucap Kanaya sambil terus mengerat kan pelukan nya.
" sudah belum ? " tanya Farezky dengan senyuman tulus yang terus terukir diwajah tampan nya.
__ADS_1
" ah! Ehehehe.. " ucap Kanaya dengan masih sesegukan dan menghapus air mata yang masih menetes itu.
" eh! hahaha.. " ucap Glen dengan menepuk pelan bahu Kanaya.
Sudah lama ia tidak melihat gadis kecil yang sangat ia sayangi itu menangis. Ia kini sudah bisa bernafas lega. Ia tidak akan menyesal jika sekarang ia meninggal. Karna ia tidak akan malu, jika ia berhadapan dengan istri nya atau kakak ipar nya nanti. Karna ia sudah tau kabar gadis kecil mereka dan bagaimana rupa nya.
' cantik, sangat cantik, ' -gumam Glen dalam hati.
Ia bahagia, bahagia sekali. Sekarang tugas nya sudah selesai. Ia bisa pergi dengan tenang.
__ADS_1
' sekarang, jika aku menemui kalian, aku tidak akan malu atau menundukan kepala, karna aku sudah mengetaui bahwa gadis kecil kita, sudah tumbuh dengan baik dan bahagia. Ia bahkan sangat cantik, seperti mu kakak ipar. Ia juga sudah lebih dewasa dan terlihat lebih kuat. Aku yakin, ia punya banyak orang yang mendukung nya, aku lega sekali sayang, lega sekali, ' -ucap Glen dalam hati nya.