
" sudah ! Cukup drama nya ! " ucap nenek Rich.
Semua orang pun langsung diam dan menoleh pada nenek Rich. Kanaya menatap semua orang yang kini diam dan menunggu apa yang akan dikata kan oleh nenek Rich. Kanaya ingin angkat bicara namun suara nya kalah cepat dengan suara Martin yang kini menatap semua orang bingung.
" kenapa ramai sekali ? Ouh ! Ibu ! Kapan ibu datang ? Ada Kanaya juga.. kenapa kalian berdiri ? Ayo duduk " ucap Martin lalu mengajak Rendy dan Juno yang sedari tadi berdiri didekat mereka tanpa beranjak sedikit pun.
Martin menjatuh kan diri nya disamping sang istri. Ia memandang semua orang bingung karna sedari tadi tidak ada yang berbicara sedikit pun. Bahkan ia menyapa ibu nya saja ibu nya tidak membalas apa pun.
Padahal biasa nya jika ia menyapa ibu nya, ibu nya itu pasti akan langsung mencibir nya karna tidak pernah mengunjungi nya jika ia tidak menguhubungi nya terlebih dahulu.
" ini kenapa pada diam ? " tanya Martin menatap semua orang secara bergilir.
" e.. sayang.. lebih baik kau ganti baju mu lebih dulu.. bersih bersih setelah itu istirahat.. kau pasti lelah.. aku akan memanggil mu jika makan siang nya sudah siap.. " ucap Wili.
__ADS_1
Martin memang sehabis bermain golf bersama rekan rekan bisnis nya. Ia memang sering melakukan itu. Sebulan sekali ia akan menyempat kan diri untuk pergi bersama rekan rekan bisnis perusahaan Rich yang sudah bekerja sama selama bertahun tahun.
" tapi mereka kenapa.. ? " ucap Martin setengah berbisik pada Wili disamping nya.
" tidak tidak apa apa.. " ucap Wili.
" benar kan ? Ibu tidak meminta Kanaya untuk melakukan tradisi konyol itu ? " tebakan yang tepat sekali dari Martin.
Martin yang melihat raut wajah Wili yang terkejut pun mengerti tanpa perlu wanita yang sudah mendampingi nya selama bertahun tahun itu membuka mulut nya. Martin menghela nafas sejenak. Ibu nya itu benar benar masih memegang tradisi keluarga. Martin bingung sekarang harus bersikap seperti apa.
" bu.. bukan kah Martin sudah pernah bilang pada ibu kalau " Nenek Rich langsung memotong ucapan Martin.
" Martin ! Itu adalah tradisi keluarga ! Itu sudah menjadi suatu keharus an jika ada yang ingin memasuki keluarga ini sebagai seorang menantu ! Terlebih lagi jika itu adalah menantu utama keluarga ini ! Dia yang akan menerus kan keturunan keluarga ini ! Jadi ibu harus memastikan bahwa wanita itu benar benar tulus dan bisa mendampingi Rendy setiap saat dan bisa mengurus perusahaan jika ada masalah ! " ucap nenek Rich.
__ADS_1
" ibu.. bukan kah ibu sudah tau jika Kanaya juga memiliki perusahaan nya sendiri.. tentu dia pasti bisa menangani masalah perusahaan ! " ucap Martin
" tapi dia tidak bisa membawa perusahaan nya keperingkat pertama ! Padahal itu hanya pasar saham asia bukan dunia ! " cibir nenek Rich.
" tapi kan Kanaya membangun perusahaan nya itu dari nol bu.. dia membangun nya sendiri ! Dengan usaha nya sendiri ! Bukan seperti kita yang memang sudah perusahaan Keluarga ! Lagi pula saingan nya tidak semudah ibu dulu ! Jadi wajar dia hanya mendapat peringkat ke tiga ! Lagi pula itu sudah termasuk hebat ! Perusahaan Kanaya bahkan belum genap 5 tahun ! Bagaimana ibu bisa berfikir seperti itu ! " jelas Martin.
" sudah sudah.. lebih baik kita makan siang dulu bagaimana.. ini sudah siang.. biar aku masakan dulu makan siang nya.. " ucap Wili.
" biar Aya bantu.. " tawar Kanaya.
" tidak perlu sayang.. ibu bisa sendiri.. kamu duduk saja.. kamu kan tamu.. " tolak Wili secara halus.
" tidak apa.. biar Aya bantu.. " ucap Kanaya.
__ADS_1
Sejujurnya, Kanaya tidak mau berada disitu. Ia tidak mau kalau harus mendengar kan mereka bertengkar. Ia yakin, setelah ia pergi Rendy dan nenek Rich pasti akan bertengkar. Belum lagi Martin yang ada disitu dan ada Juno lagi. Kanaya sudah bisa menebak kemana arah suasana selanjut nya.
" baiklah.. sayang kau sebaik nya bersih bersih dan ganti baju.. tidak enak kan ada Kanaya dan ibu loh"