
Sepulang berbelanja, Satria masih saja menolong diyah untuk mengangkat belanjaan. "Aduh..nggak usah tuan, biar saya aja, ini kan pekerjaan saya," ucap Diyah menolak dengan halus. Ia merasa tidak enak jika orang lain melihat seorang tuan Satria putra pertama pak Arif Pratama malah mengangkat belanjaan.
"Udah nggak pa pa, lagian masa kamu angkat belanjaan sebanyak ini sendirian," balas Satria yang kekeh ingin membantu Diyah untuk memindahkan semua belanjaan itu.
"Makasih ya tuan, saya udah banyak merepotkan tuan,"
"Santai aja," balas Satria dengan senyuman.
**
Saat Rendra kembali ke rumah, ia langsung menuju kamarnya. Ia melihat suasana kamar yang sudah bersih dan rapih. Ia menatap ke dinding, ada ayat kursi yang baru di pajang.
"HM..pasti ini kerjaan si pembantu cadar," batin Rendra yang sudah bisa menebak.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Rendra pun membuka pintu kamar nya.
"Nak Rendra lapar nggak, biar bibi buatin makanan," sapa bi Maryam yang berdiri di depan kamar Rendra.
"Iya bi, tapi suruh Mardiyah yang antar ya, ada yang mau saya tanyakan sama dia," pinta Rendra.
"Iya, baik nak Rendra, sebentar ya," bi Maryam pun bergegas ke bawah untuk menyuruh diyah membawakan makanan tuan Rendra.
Bi Maryam menemui Diyah yang sedang membereskan belanjaan. "Diyah..kamu siapkan makanan untuk tuan Rendra ya, biar ibu yang ngerjain ini," suruh bi Maryam
"Kenapa bu, kan nanggung Bu, biar diyah selesaikan ini dulu," ujar Diyah.
Tiba-tiba si Sari datang dari arah belakang, "Biar saya aja bi Maryam, lagian Diyah kan lagi sibuk," ucap Sari seraya menawarkan diri untuk mengantarkan makanan tuan muda.
"Jangan, ini perintah tuan Rendra," tegas Bu Maryam.
"Hah? kok gitu Bu?" tanya Diyah yang kebingungan.
"Nggak usah sok polos, kamu pasti senang kan..eh bentar bentar..kok belanjaan kamu sebanyak ini? dapat uang dari mana?" tanya Sari ketika ia menatap belanjaan yang begitu banyak.
__ADS_1
"Oh ini..tadi aku belanja di temani sama Tuan Satria," jawab Diyah dengan jujur. Mendengar itu membuat amarah Sari semakin tak terkontrol. Untung saja Asap tak keluar dari hidung atau telinganya. Ia begitu emosi hingga menendang Galon sebelum ia pergi.
Sari memilih pergi karena ia tak akan bisa memaki Diyah sementara Bu Maryam ada di sana.
"Udah sana buruan, nanti tuan Rendra nungguin loh," suruh Bu Maryam pada Diyah. Mardiyah pun buru-buru menyiapkan makanan untuk tuan Rendra.
Ia memang agak malas untuk berhadapan dengan tuan muda yang satu ini. Karena sangat sulit untuk di tebak. Apalagi tingkahnya kadang mempertipis kesabaran Diyah.
Tak lama kemudian Diyah pun sampai di depan pintu kamar Rendra, ia mengetuk pintu kamar itu. "Permisi..tuan Rendra..ini makanannya, saya taro di sini ya," ucap Diyah, tadinya ia berniat ingin menaruh makanan itu di luar.
"Buka aja pintunya, itu nggak di kunci, bawa makanannya ke dalam," Sahut Rendra dari dalam kamar.
Diyah menarik nafas dalam-dalam sebelum ia masuk.
"Saya taro di meja ya tuan, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Diyah yang berniat pergi setelah ia meletakkan makanan Rendra di meja kamarnya.
"Tunggu dulu.. buru-buru bangat sih, saya mau bicara!" tegas Rendra.
Diyah sebenarnya sedikit takut menghadapi tuan muda yang ia anggap gila ini. Namun karena tuntutan pekerjaan ia terpaksa harus sabar.
"Kamu yang nempel ayat kursi di dinding?" tanya Rendra yang sedang duduk di sofa kamarnya.
Diyah menganggukkan kepalanya seraya membenarkan perkataan Rendra itu.
"Kenapa?" tanya Rendra lagi
"Itu biar kamar tuan lebih aman aja dari gangguan syaiton, kan tuan suka emosi dan marah marah, makanya saya tempelkan ini di dinding, siapa tau setan di kamar tuan ini berkurang," ujar Diyah dengan pelan. Sungguh jawaban yang sangat tak terduga.
Sampai sampai Rendra tak berkutik mendengarnya.
"Kenapa? tuan nggak suka ya? kalau memang tuan nggak suka biar saya cabut aja ya ayat kursi nya,"
"Nggak..nggak usah..biarin aja, kan kamu yang bilang kalau di sini banyak setan," ujar Rendra sedikit kesal.
__ADS_1
"Hehe..maaf tuan, nggak ada lagi yang mau di tanyain kan, kalau gitu saya permisi," ucap Diyah yang melangkah pergi.
"Tunggu dulu.. buru-buru bangat sih," Rendra lagi-lagi menahan diyah agar tidak pergi.
Diyah dengan berat hati menghentikan langkahnya. Terpaksa ia harus menunggu sebentar lagi.
"Iya ada apa lagi tuan?" tanya Diyah
"Ayam penyet saya mana? kan saya suruh kamu buat beli ayam penyet setiap hari sebagai hukuman buat kamu,"
"Aduh..saya lupa tuan, kalau gitu sekarang juga saya akan pergi membelinya," tutur Diyah
"Nggak usah, tapi sebagai gantinya nanti malam kamu harus ke sini sebentar," perintah Rendra.
Mendengar itu membuat Diyah berpikiran negatif pada Rendra. "Maksud tuan apa ya? maaf ya tuan Rendra, saya ini memang perempuan kampung, tapi saya tidak serendah itu," tegas Diyah melototi Rendra.
"Maksud kamu apaan sih, kamu pikir saya mau ngapa-ngapain kamu? jangan kepedean deh, ya udah kalau gitu saya yang akan ke bawah, biar pikiran kamu nggak negatif mulu," tegas Rendra.
**
Sementara itu, Bu Maryam dengan Nyonya Sinta tengah mengobrol serius di ruang belakang.
"Terimakasih Bu Maryam sudah berhasil membawa Mardiyah ke rumah ini, sebagai imbalannya bibi akan saya kasih hadiah," ucap nyonya Sinta dengan ekspresi bahagia.
"Sama-sama nyonya, lagian saya juga ingin menjaga diyah di sini, jika diyah bersama saya, saya bisa memantau keadaan nya, Mardiyah gadis yang baik nyonya, dia pantas mendapat kasih sayang nyonya," tutur Bu Maryam yang amat menyayangi Diyah.
"Tidak ada yang tau bahwa Mardiyah adalah anak dari Abang kandungku, bahkan Mardiyah pun tak tau itu, jadi saya minta tolong supaya bi Maryam merahasiakan ini," pinta nyonya Sinta pada Bi Maryam.
"Iya nyonya, saya pasti akan menjaga rahasia ini, tapi saya penasaran ayah Mardiyah kemana?" tanya Bi Maryam
"Dia sudah meninggal 15 tahun lalu setelah dia meninggalkan anak dan istrinya, itulah kenapa aku selalu ingin menebus dosa Abang kandung ku itu, dia menelantarkan anak dan istrinya begitu saja hanya demi menikah dengan perempuan lain," jelas nyonya Sinta dengan serius.
Setelah banyak bercerita, barulah bi Maryam paham mengapa nyonya Sinta memerintahkan dia untuk membawa Mardiyah ke rumah ini.
__ADS_1
Ditambah dengan kepribadian Mardiyah yang baik membuat nyonya Sinta semakin ingin menjaga Mardiyah. Namun tak ada cara lain selain menjadikannya pembantu di rumah ini.
"Mardiyah..maafkan ayahmu yang tidak bertanggung jawab itu, biarlah aku yang akan menebusnya," batin nyonya Sinta sembari mengingat ke masa lalu.