Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
13. Celaka


__ADS_3

Selama di perjalanan bersama tuan Satria, Mardiyah hanya duduk kalem di mobil. Ia merasa tidak nyaman ketika di ajak jalan oleh putra pertama dari pak Arif Pratama.


"Diyah!" panggil Satria


"Iya tuan.."


"Ngomong-ngomong..kamu itu baru datang dari kampung ya?" tanya Satria


"Iya tuan, Bu Maryam yang mengajak saya ke sini,"


"Kenapa kamu mau jadi pembantu?"


"Ya mau gimana lagi tuan, untuk sementara hanya ini pekerjaan yang saya dapat, saya hanya lulusan pesantren dan tidak sanggup melanjut kuliah, dan saya harus bekerja untuk melanjutkan hidup saya,"


Mendengar ucapan Diyah itu membuat satria semakin penasaran dengan kehidupan diyah.


"Maaf kalau saya lancang, orang tuamu dimana?"


"Ibu saya baru meninggal tuan, dan kalau ayah..saya tidak mengenalinya, kata orang ayah saya pergi entah kemana, tapi saya tidak ingin mencari tau, karena percuma juga berusaha mencari ayah sedang ia sendiri tak ingin melihat putrinya," jelas diyah sedikit sedih.


"Maaf kalau pertanyaan saya menyinggung kamu,"


"Nggak pa pa tuan..saya nggak tersinggung kok,"


Setelah beberapa saat mengobrol, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan. Ternyata satria membawa diyah ke sebuah kafe yang amat indah.


Diyah hanya mengikuti langkah satria dari belakang.


Satria membawa diyah untuk duduk di kafe itu. Tak lama kemudian klien Satria pun tiba, mereka meeting selama kurang lebih setengah jam. Sedangkan diyah hanya diam memperhatikan satria dan kliennya.


*


"Kamu mau kemana nak?" tanya Mama sinta saat ia melihat Rendra keluar sambil memegang helm motor.


"Bukan urusan mu!" cetus Rendra tanpa memperdulikan mama Sinta. Ia berjalan lurus ke depan untuk mengambil motor nya.


Ternyata pak Arif ada di sana dan ia mendengar ucapan kasar putranya itu. Tentu ia tidak tinggal diam.

__ADS_1


"Rendra..bisa nggak sih kamu bersikap seperti manusia!" tegas pak Arif dengan melototi Rendra.


"Jadi papa pikir aku ini bukan manusia? tapi nggak pa pa, aku maklum kok pa, sekarang yang paling penting di hidup papa kan cuma perempuan ini," cetus Rendra tersenyum sinis.


"Cukup Rendra! kamu tidak ada berhentinya berbuat ulah, apa kamu tidak bisa meniru kakak kamu, Satria sampai sekarang selalu menghargai mama sinta, dia juga pintar mengolah bisnis, tapi kamu apa? kerjaan mu setiap hari cuma kelayapan nggak jelas," bentak pak Rendra yang mulai habis kesabaran melihat tingkah lakunya putranya.


"Iya..Satria memang jauh lebih sempurna, terus kenapa pa? aku tau kok kalau aku cuma sampah di mata papa,"


"Cukup Rendra! kamu ini sudah melampaui batas, mulai sekarang kamu tidak boleh keluar rumah sampai kamu menyadari kesalahan mu, dan kamu harus mulai ikut papa ke kantor!" tegas Pak Arif


Namun Rendra tak memperdulikan itu, ia langsung menaiki motornya dan menyalakan mesin motor. "Aku nggak akan dengar apa pun perintah papa selama papa masih memperistri perempuan ini," tegas Rendra kemudian langsung cabut dari sana. Ia tak perduli dengan semua teguran papanya.


Rendra pun kembali kumpul dengan teman geng motor nya. Ia menghabiskan waktu bersama gengnya itu.


Hingga setelah hari hampir sore, Rendra akan mengikuti balapan motor dengan beberapa lawannya.


"Semangat ya Ren, kamu pasti bisa," ucap Wenny menyemangati Rendra. Ia memang tak henti hentinya menyukai Rendra. Hingga ia dengan semangat menjadi supporter Rendra satu-satunya yang paling heboh.


Di tengah ramainya anak muda di balapan itu Rendra merasa sunyi. Ia bagai sendiri di sana. Yang ia ingin saat ini hanyalah membawa motor dengan laju yang tinggi.


Hingga di tengah jalan tiba-tiba kepala Rendra pusing, mungkin ini efek dari begadang tadi malam. Hingga sebuah kejadian yang tak terduga pun terjadi.


Rendra mengalami kecelakaan yang amat parah. Ia menabrak rumah tua di tengah hutan karena motornya telah melewati jalur jalan. Itu semua dikarenakan kepalanya yang tiba-tiba pusing.


*


Mama Sinta tengah memainkan hp nya di kamar. Tiba-tiba ada telpon masuk. Ia pun mengangkat telpon itu meski ia tak mengenal nomor nya.


"Halo.. assalamualaikum..ini dengan siapa ya?"


"Kami dari pihak rumah sakit Bu, anak ibu Kecelakaan dan luka parah, sebaiknya pihak keluarga segera ke rumah sakit ini,"


"Iya baik pak, kami segera ke sana, terimakasih pak," ucap Mama sinta sembari mengakhiri telpon.


Buru buru ia mengabari suaminya yang sudah ada di kantor untuk segera ke rumah sakit. Sementara itu ia akan langsung berangkat ke rumah sakit sendirian.


"Pak..tolong antar saya ke rumah sakit," ucap mama Sinta pada supir di rumah. Ia sudah tak sabar ingin melihat kondisi putranya.

__ADS_1


Di perjalanan ke rumah sakit, ia tak lupa Menghubungi Satria sebagai putra tertua.


*


Satria baru saja selesai meeting dengan klien, ia menatap diyah ternyata sudah tidur di meja kafe itu. Ia ingin membangunkan namun tiba-tiba hp nya berdering.


Suara hp itu telah membangunkan diyah. diyah tersadar ternyata ia telah ketiduran hingga tuan Satria selesai meeting.


Satria pun mengangkat telpon yang ternyata dari mama Sinta.


"Halo Assalamualaikum ma, iya ada apa ma,"


"Satria..adik mu kecelakaan nak, dia jatuh dari motor, kamu segera ke rumah sakit ya, kata dokter lukanya cukup parah,"


"Hah kecelakaan? kok bisa ma"


"Mama juga nggak tau nak, pokoknya kamu segera ke sana ya.."


"Iya ma iya...satria ke rumah sakit sekarang," ucap satria dan mengakhiri telpon itu.


Diyah yang mendengar sekilas ikut panik. Namun ia tak tau siapa yang kecelakaan itu.


"Ada apa tuan?" tanya Diyah yang penasaran.


"Rendra kecelakaan diyah, sekarang juga saya harus ke sana," ucap Satria sembari buru-buru berjalan pergi diikuti dengan langkah kaki diyah.


"Tuan..apa saya boleh ikut ke rumah sakit juga?" tanya Diyah saat ia berjalan mengikuti langkah satria menuju ke mobilnya.


"Ya tentu saja boleh, ayo diyah kita harus secepatnya ke sana, papa dan mama juga sudah dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Satria dengan mempercepat langkahnya.


"Iya tuan..semoga tuan Rendra masih selamat ya,"


"Aamiin ..ayok buruan naik," ucap satria seraya mempersilahkan Mardiyah untuk menaiki mobilnya.


Setelah itu Satria langsung mengemudi dengan kecepatan yang lumayan tinggi agar mereka segera sampai ke rumah sakit tempat Rendra di periksa dan di rawat.


Diyah ikut khawatir dengan keadaan tuan muda itu. Meski tuan Rendra selalu dingin namun diyah tetap saja masih mengkhawatirkan keselamatan Rendra. Bagi diyah tak ada alasan untuk membenci tuan Rendra meski terkadang ia juga bersikap kasar pada tuan muda Rendra. .

__ADS_1


__ADS_2