
Sampailah di rumah sakit, Satria buru-buru menemui kedua orangtuanya yang sudah ada di ruang rawat Rendra.
Sementara Mardiyah, ia tak berani masuk dan hanya menunggu di luar saja. Baru saja satria masuk, ia sudah mendengarkan panjang lebarnya Omelan Papa Arif. Bukannya menanyakan luka anaknya namun ia malah mengomel panjang lebar.
"Ini akibatnya kalau kamu selalu melawan orang tua, tidak mendengar apa yang papa katakan, mulut papa udah capek setiap hari ngingetin kamu supaya berhenti balapan sama teman teman kamu, ini nih jadinya, mungkin ini akan lebih parah kalau nanti kamu masih melawan papa," gerutu pak Rendra sembari menunjuk nunjuk ke arah Rendra berbaring.
Padahal anaknya itu sudah kesakitan di tambah kakinya yang cedera parah hingga ia mungkin tak bisa berjalan beberapa waktu ke depan.
"Bilang aja kalau papa senang aku mati," ucap Rendra singkat.
"Tuh kan..tuh kan...bicara aja kamu nggak bisa, kamu mau di azab pake apa lagi sih biar kamu bisa berubah,"
"Udah mas..jangan marah marah lagi.." ucap mama Sinta menenangkan suaminya.
"Nggak bisa, anak ini harus di nasehati, sampai kapan Rendra begini terus, usianya sudah menginjak 25 tahun, anak muda di luar sana banyak yang mati-matian cari kerja, bahkan di perusahan ada yang bersungguh sungguh cari kerja sampai sampai mau di jadikan office boy, tapi anak ini malah berbuat sesuka hatinya tanpa mensyukuri apa yang dia punya," lanjut pak Rendra yang masih dengan amukannya.
"Pa udah pa..ini rumah sakit, malu sama orang orang," kata Satria menegur suara keras papanya.
"Ya udahlah papa mendingan ke kantor, satria..kamu jaga anak ini, kalau lama lama di sini darah tinggi papa bisa kumat," ucap papa Arif dan langsung pergi keluar dari ruangan itu. Ia tak mengerti lagi kata kata seperti apa yang mampu mengubah putranya.
Pak Arif pun keluar dari ruang rawat. Saking kesalnya ia sampai sampai tidak melihat adanya diyah di luar ruangan, ia berjalan terburu-buru.
Sementara itu mama Sinta amat prihatin dengan kondisi putranya. "Lukanya dimana aja nak, mana yang sakit?" tanya Mama Sinta sembari memperhatikan putranya.
"Udah deh..nggak usah sok perhatian, ini kan yang anda mau, tolong anda keluar!" tegas Rendra tanpa menatap wajah ibu tirinya.
"Ren..yang sopan dikit lah.." tegur Satria.
"Nggak pa pa satria, biar mama keluar aja, mungkin Rendra butuh istirahat," ucap mama Sinta. Ia pun melangkah keluar karena khawatir akan mengganggu ketenangan Rendra.
__ADS_1
Begitu ia membuka pintu, ia melihat mardiyah yang duduk di luar. Mama Sinta pun menemui Mardiyah di sana.
"Diyah..kok kamu bisa di sini?" tanya Mama Sinta mengejutkan Diyah.
"Eh..nyonya, maaf nyonya, tadi saya ke sini sama tuan Satria, tapi saya tunggu di luar karena nggak berani masuk,," jawab diyah sedikit gugup.
"Diyah..bisa nggak kamu panggil saya Bu Sinta aja, nggak usah panggil nyonya, lagian kamu kan masih muda, saya akan lebih senang kalau kamu panggil saya ibu," ujar Bu Sinta dengan lembut.
"Tapi bu .."
"Udah..nggak pa pa, panggil ibu aja, dari dulu ibu selalu pengen punya putri yang cantik seperti kamu," ujar Bu Sinta meyakinkan diyah.
"Baik bu, tapi bukannya ibu ada seorang anak perempuan ya, saya dengar-dengar anak kedua pak Arif adalah seorang perempuan," tanya diyah
"Iya sih, tapi dia tidak pernah kembali semenjak ibu menikah dengan pak Arif, sama seperti Rendra, dia juga tidak suka sama ibu," jelas mama Sinta yang jadi sedih mengingat dirinya yang tidak disukai anak anaknya.
"Yang sabar ya Bu, mungkin mereka hanya perlu waktu untuk menyadari bahwa ibu adalah seorang ibu yang baik" tutur Diyah seraya menenangkan mama Sinta.
"Nggak Bu, saya takutnya tuan muda malah marah marah sama saya,"
"Nggak mungkinlah dia marah tanpa alasan, lagi pula kalau saya perhatikan tuan muda itu tidak kasar sama kamu, tidak seperti pembantu lain yang selalu ia perlakukan dengan tidak baik," jelas mama Sinta.
"Ah masa sih Bu, itu cuma perasaan ibu aja kali, tuan muda juga suka marah kok sama saya," Balas Diyah yang masih tak percaya.
"Tenang aja, kali ini dia pasti akan biarin kamu masuk, takutnya dia butuh apa apa, soalnya kalau ibu yang di dalam, dia malah makin nggak tenang, coba kamu yang masuk, siapa tau dia lebih bisa menerima kamu daripada ibu," tutur Bu Sinta. Diyah pun luluh dengan kata-kata itu.
Akhirnya diyah memberanikan diri untuk masuk ke ruang rawat Rendra.
"Assalamualaikum.." ucap diyah sembari melangkahkan kakinya ke dalam.
__ADS_1
Rendra menatap ke arah pintu itu. Ia pun melihat diyah yang berdiri di sana dan tidak berani mendekat.
"Ngapain masih di situ? sini..saya udah sekarat begini kamu malah berdiri di sana, tolong ambilkan hp saya di tas!" perintah Rendra pada Diyah.
Diyah terheran, ia mengira tuan Rendra akan mengusir dirinya dari ruangan itu.
"Baik tuan.." ucap diyah dan buru-buru mencari tas Rendra di sana.
"Ren..jangan terlalu kasar sama diyah," tegur Satria.
"Emang kenapa sih kak? kenapa cuma diyah pembantu yang kamu perhatikan,"
"Nggak..maksud aku bukan cuma diyah, tapi juga seluruh pekerja di rumah kita, kamu harus menghargai mereka," lanjut Satria.
"Udahlah kak..kamu nggak usah ikut campur mulu,"
"Ya udahlah terserah kamu," cetus Satria yang sudah tak bisa melanjutkan debat dengan adiknya. Ia pun mengambil posisi dengan duduk di sofa seraya menemani adiknya.
Akhirnya diyah menemukan hp tuan muda. Diyah pun memberikan hp itu pada Rendra.
"Tuan..ini hp nya," ucap diyah sembari memberikan hp tersebut pada tuan muda.
"Duduk!" perintah Rendra pada pembantu bercadar itu. Di tatapnya diyah yang selalu menundukkan kepalanya.
"Kepalamu nggak sakit menunduk Mulu, apa wajah saya seburuk itu sampai kamu tidak ingin melihatnya?"
"Maaf tuan, kan memang seperti ini yang seharusnya, mana mungkin saya berbicara dengan tuan dengan mengangkat kepala saya," balas diyah yang masih ragu untuk mengangkat kepalanya.
"Kenapa nggak mungkin? udah ..jangan nunduk lagi, ini perintah!" tegas Rendra.
__ADS_1
Diyah pun mengangkat kepalanya demi menuruti perintah tuan muda meski kini hatinya sedikit kesal melihat tingkah tuan muda yang masih saja bersikap seenaknya, padahal tuan muda dalam keadaan seperti ini.
"Udah di tegur sama Allah dengan kecelakaan ini, tapi masih aja tuan muda nggak berubah," batin diyah menatap tuan muda di ranjang.