Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
52. Pantang mundur


__ADS_3

Rendra tak ingin pergi, ia tetap mengikuti Diyah yang sedang sibuk bekerja. Diyah memetik kopi sedang Rendra mengikuti di belakang


"Maaf ya, saya tau kamu marah karena sikap saya dulu pada mama Sinta, tapi saya janji saya akan pastikan bahwa kamu nggak akan merasakan apa yang mama Sinta rasakan," tutur Rendra mencoba meyakinkan Diyah.


"Udahlah mas Ren, mendingan sekarang kamu pergi dari sini sebelum nyonya Elia datang dan mengira kalau aku nyuruh mas Rendra ke sini," tegas Diyah dengan serius.


Diyah tak ingin Rendra akan bermasalah lagi dengan Elia hingga ia harus disalahkan lagi atas kedatangan Rendra ke kampung itu.


"Saya nggak akan pergi kecuali kamu ikut Diyah,"


"Nggak mas! Kamu harus pergi, aku udah nolak lamaran mas Rendra, terus mas Rendra mau ngapain lagi di sini?"


"Saya tau kamu juga mencintai saya, surat kamu udah saya baca, sekarang kamu nggak bisa bohong lagi,"


Diyah terdiam sejenak, ia menyesal mengapa ia menuliskan surat berisi perasaannya. Ini tak sesuai rencana Diyah. Padahal Diyah menulis surat itu karena mengira Rendra tak akan pernah menemukan dirinya. Tapi nyatanya Rendra dengan cepat menemukan Diyah.


"Surat itu...saya tidak serius menulisnya, pasti saya salah tulis," balas Diyah yang masih saja mengelak.


"Saya yakin kamu lebih tau hukumnya berbohong dalam Islam,"


"Udah deh mas, buruan pergi,"


"Nggak, saya akan tetap di sini,"


"Pergi!" tegas Diyah dengan keras.


"Oh..jadi kamu benar-benar ingin saya pergi dari kehidupan kamu?"


"Saya harap kita nggak akan ketemu lagi," ucap Diyah, padahal itu tak sesuai dengan apa yang ada dihatinya.


Rendra tersenyum sinis, hatinya begitu sakit dan kecewa ketika diyah malah mengusirnya. Padahal ia penuh perjuangan untuk sampai ke kampung ini. Mulai dari mencari alamat hingga harus berdebat dengan papanya karena ia meninggalkan pekerjaan kantor.

__ADS_1


"Harusnya saya sadar kalau saya bukan siapa siapa di hidup kamu, tapi makasih ya, makasih udah singgah di kehidupan saya, jaga diri baik baik," ucap Rendra dengan begitu kecewa. Ia lalu pergi meninggalkan Diyah di sana.


Diyah tak kuasa menahan air matanya melihat Rendra pergi dengan wajah kecewa. Sebenarnya ini bukanlah kemauannya.


"Maafin aku mas Rendra, aku tau kamu tulus, tapi tulus saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga, ada banyak perbedaan di antara kita yang membuat kita sulit untuk disatukan," batin Diyah yang berlinang air matanya menatap langkah kaki Rendra yang berjalan tanpa menoleh ke belakang.


...*...


Malam hari,


Usai sholat isya, Diyah menangis sendiri di kamarnya. Ia merasa bersalah karena membuat Rendra sangat kecewa. Tapi ini adalah jalan terbaik.


Tak lama kemudian, Ira pun datang. Ia terkejut melihat Diyah menangis sendiri di kamar. Buru-buru ia menemuinya dan langsung memeluk Diyah meski tak tau apa penyebab diyah menangis.


"Kamu kenapa? Kok nangis? Ada apa? Coba cerita," tanya Ira seraya mencari tau penyebab sahabatnya menangis.


"Aku nggak pa pa kok,"


"Kamu nggak pernah loh nangis nggak jelas kayak gini, jangan bilang kalau kamu putus cinta?"


"Cuma apa? cuma patah hati?"


"Nggak...aku cuma keingat ibu aja,"


"Masa sih, kayaknya ada yang kamu sembunyikan deh," Ira mulai penasaran.


"Udah sana sana, kamu mandi dulu, bau tau," suruh Diyah yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


" Iya..iya..tapi jangan nangis lagi,,"


"Iya, bawel..." Balas Diyah dan mengelap air matanya yang menetes.

__ADS_1


Ira pun pergi mandi. Sedangkan Diyah masih saja melamun di kamar itu. Entah mengapa hatinya begitu sedih karena Rendra pergi meski karena Diyah sendiri yang mengusirnya. Ya, begitulah wanita, mulutnya berkata pergi tapi dalam hatinya ia ingin sekali Rendra tetap di sini dan memperjuangkan cara lain untuk menyatukan mereka.


...**...


Sementara itu, Rendra ternyata tak pulang. Mana mungkin ia pulang setelah perjuangannya untuk sampai di titik ini. Rendra menelpon Satria dan menceritakan semua yang terjadi.


"Kok bisa? kenapa kamu baru cerita sama aku?" tanya Satria di telpon setelah Rendra menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Iya kak, kemarin aku masih syok, ini semua karena Elia, aku juga udah nggak tau lagi gimana caranya merubah sikap elia,"


"Ya udah sekarang kamu nggak usah mikirin Elia, kamu masih di kampungnya diyah?"


"Iya masih kak, aku nggak akan pulang sebelum aku mendapatkan Diyah karena aku tau kalau diyah juga suka sama aku kak,"


"Itu sih kamu nya aja yang terlalu PD, tapi ya udahlah, kamu harus tetap berjuang, aku dukung kok,"


"Tapi kak, papa juga udah marah karena aku ninggalin kerjaan,"


"Udah tenang aja, nanti aku yang akan ngobrol sama papa, kamu urus dulu di sana, aku akan urus orang orang di rumah, kamu tenang aja, besok aku akan pulang ke rumah supaya aku bisa nenangin papa selama kamu ada di sana,"


"Makasih kak, tumben kamu mau kak, kemarin kemarin kayaknya kamu nggak sebaik ini,"


"Haha..kamu aja yang baru sadar, kalau perempuannya diyah, aku akan dukung kamu Ren,"


"Makasih ya kak,"


"Oh ya...Bulan depan rencananya aku mau nikah,"


"Hah? Nikah sama siapa? Diyah kan sama aku kak,"


"Emangnya perempuan itu cuma diyah? Nggak kan, pokoknya tenang aja, nanti aku kenalkan sama kamu calon kakak iparmu, untuk saat ini dia lagi sibuk di luar kota, jadi kami akan bertemu satu bulan lagi,"

__ADS_1


"Oh gitu..yang semangat kak, siapa tau nanti kita bisa barengan nikahnya,"


Panjang lebar kakak beradik itu mengobrol saling menyemangati satu sama lain hingga tak sadar keduanya semakin akrab.


__ADS_2