
Rendra tak ada lelahnya membujuk Diyah. Ia kembali menemui Diyah meski diyah telah mencari tempat sepi agar tidak ada yang mengikuti dirinya lagi.
Akhirnya Rendra menemukan Diyah yang sedang memetik kopi bersama Ira. Langsung saja Rendra menuju ke sana.
"Sini aku bantuin," ucap Rendra sembari merebut keranjang tempat kopi yang di pegang diyah.
"Nggak usah mas Rendra, kamu ngapain sih mas ngikutin aku terus, mending mas Rendra pulang aja," tegas Diyah yang amat risih dengan kehadiran Rendra yang selalu mengikutinya.
"Kalau kamu suruh aku pergi dari kehidupan kamu, aku mungkin harus ke kelurahan dulu,"
"Ngapain mas Rendra ke sana?"
"Mau urus surat keterangan tidak mampu!" balas Rendra yang mencoba merayu Diyah.
Ira sampai batuk batuk sembari menahan tawanya. Sangat lucu melihat sahabatnya yang tidak pernah pacaran dan tidak pernah dekat dengan laki-laki tiba-tiba sedang di rayu oleh laki-laki tampan.
"Astaghfirullah mas..mas..nggak ada kesibukan lain apa?"
"Aku terlalu sibuk memikirkan kamu dan masa depan kita!"
"Asik..." Ira bersuara sebagai nyamuk di lingkungan dua orang yang saling suka namun terhalang status sosial itu.
"Mas Rendra kok jadi gini ya, sejak kapan mas Rendra gombal gombal aneh kayak gini, kayak bukan mas Rendra yang aku kenal,"
__ADS_1
"Masa sih...coba tatap wajah ku, masa kamu nggak kenal aku," ucap Rendra , ia semakin berusaha menggoda Diyah.
Namun Diyah malah semakin cuek. Bahkan ia tak mau menatap wajah Rendra. Ia berbicara pada Rendra namun matanya tertuju pada biji kopi yang ia petik.
"Apa biji kopi itu lebih menarik dari pada aku?" Bahkan Rendra harus cemburu pada Biji kopi yang mendapatkan perhatian Diyah.
"Bisa diam nggak mas Rendra, aduh aku malu bangat tau...di sini banyak warga desa yang kerja, nanti dikiranya aku ngapa ngapain, makanya jauh jauh sana," tegas Diyah menjauhkan posisi berdirinya dari Rendra.
"Ya nggak pa palah..paling hukuman terberat nya di nikahin, aku akan menjalani hukuman itu dengan sepenuh hati, jangankan di kerumuni warga, aku bahkan rela di penjara asalkan alasannya karena terdakwa sebagai pencuri hati kamu," lanjut Rendra yang semakin berupaya meluluhkan Diyah.
"Uhuk..uhuk..." batuk Ira sepertinya semakin parah mendengarkan kata kata Rendra yang amat berlebihan itu.
Bukannya luluh, Diyah amat malu hingga ia pergi begitu saja meninggalkan Rendra. Diyah tak habis pikir Rendra yang ia kenal bisa berubah sejauh ini.
"Permisi...saya juga pergi dulu ya Mas Rendra..." ucap Ira sembari berjalan meninggalkan Rendra sendiri di sana.
Sore hari, Diyah dan Ira berjalan pulang bersama setelah seharian bekerja di kebon kopi.
"Kayaknya si Mas mas Rendra itu udah bucin stadium akhir deh, nggak akan ada obatnya, mending kamu nikah aja sama dia, biar hidup kamu nggak digangguin lagi," ucap Ira sambil tersenyum. Entah itu ledekan atau pujian, tapi tampaknya ia sedari tadi tak henti tertawa melihat ekspresi wajah diyah dengan perlakuan Rendra.
"Apaan sih Ra...kamu senang ya aku di gangguin, aku tuh malu banget tau," balas Diyah ke telinga Ira.
"Kalau kamu nggak mau sama dia, aku mau kok,"
__ADS_1
"Ambil sana..aku ikhlas," ucap Diyah dengan kesalnya karena Ira sedari tadi seolah meledeknya.
"Mardiyah..." panggil Rendra dari belakang. Ia tak ada hentinya mengikuti diyah.
"Yah..datang lagi dia.." Ira menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak bisa menahan senyuman lucu melihat tingkah laki-laki dari kota itu.
"Ada apa lagi sih mas Ren.." Diyah tampak kesal melihat Rendra selalu membuntutinya.
"Malam ini aku tidur di rumah kamu aja ya, nggak pa pa deh aku tidur di lantai asal nggak sendirian di rumah kontrakan itu, aku takut banyak tikus di sana," kata Rendra tanpa memikirkan apa yang ia katakan.Ia benar benar tak tau jika di pedesaan ada aturan yang sangat ketat untuk di patuhi sebagai norma yang berlaku di masyarakat desa ini.
Diyah menghela nafas panjang. Langsung saja ia pergi tanpa meladeni ucapan Rendra.
Namun Rendra masih saja mengikuti langkahnya.
"Kok kamu nggak jawab sih diyah, aku minta tolong bangat ini,"
"Yang ada nanti kita di hukum warga mas Ren, ini bukan di kota yang kehidupannya terlalu bebas, ada norma yang harus di patuhi masyarakat desa ini,"
"Benar itu mas Rendra, kalau ketahuan warga, meskipun kalian nggak ngapa-ngapain, tetap aja akan di hukum, bisa juga nanti dinikahkan," lanjut Ira mencoba mengingatkan Rendra.
"Ya nggak pa pa...aku malah senang kalau gitu," balas Rendra dengan santainya.
Diyah merasa Rendra sudah kehilangan akal sehatnya hingga tak berpikir jauh sebelum meminta tolong.
__ADS_1
"Udahlah Ra, mending kita nggak usah dengarkan mas Rendra lagi, kayaknya dia udah nggak bisa di ajak bicara lagi," Diyah menarik tangan Ira dan buru-buru berjalan sampai ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, diyah langsung mengunci pintu rapat rapat agar Rendra tak masuk ke sana.