
Kini Diyah sedang sibuk mengepel di lantai dua. Ia tampak kelelahan hari ini. Pekerjaan Sari ia kerjakan semuanya karena hari ini Sari tidak enak badan.
Tiba-tiba Rendra datang dengan raut wajah yang panik tidak karuan. "Diyah..diyah...Mardiyah..." panggil Rendra saat ia masih jauh.
"Apa sih..manggilnya biasa aja dong mas," gerutu Diyah melihat Rendra yang berjalan ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Diyah ketika ia berhadapan dengan Rendra.
"Kenapa kamu nggak bilang sama saya kalau kak Satria melamar kamu? kamu anggap saya ini apa? harusnya kamu kasih tau saya," tegas Rendra menatap Diyah dengan serius.
"Lah emang tuan muda siapanya saya? bukan siapa-siapa kan...kenapa harus kasih tau?"
Rendra berpikir sejenak. "Iya juga sih...tapi saya ini teman kamu, kita kan berteman, jadi saran saya jangan terima lamaran itu, kamu belum kenal lama dengan kak Satria, jangan jadi wanita yang mudah menerima seseorang!" tegas Rendra lagi. Ia berbicara seolah dirinya adalah keluarga Diyah.
"Apa urusannya sama mas Rendra? terserah saya dong mau terima atau nggak? kan mas Ren tidak akan di rugikan dengan apa pun keputusan saya," balas diyah, ia tak mengerti mengapa Rendra sebegitu sibuknya mengurusi dirinya.
"Kamu tuh ya..susah bangat dibilanginnya, pokoknya jangan terima! titik!"
"Apa sih..nggak jelas!" cetus Diyah dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara itu Rendra masih saja membuntutinya di belakang.
"Kamu lihat kak Satria, bentuk hidungnya tidak simetris, wajahnya kurang menarik, sekilas di tatap dia itu terlihat tua, saya lebih tinggi, lebih tampan, lebih muda, coba pikirkan baik baik, Satria itu tidak cocok sama kamu, selisih usia kalian hampir 8 tahun, nanti bisa bisa orang ngatain kamu nikah sama om om," Rendra mengikuti Mardiyah sambil mulutnya komat-kamit.
"Mas Rendra ngapain sih, tolong jangan ganggu saya! saya lagi fokus kerja,"
"Nggak bisa diyah, kamu itu bodoh, saya takut kamu mau mau aja menerima lamaran itu,"
"Hah? bodoh? mas Rendra yang bodoh! ngapain coba ngikut ngikutin saya, nggak ada kesibukan lain apa?"
"Nggak ada! pokoknya saya mau kamu tolak dia sekarang juga!"
"Astaghfirullah mas...kalian ada masalah apa sih, kenapa mas Rendra segitunya sama tuan Satria, mas Rendra suka ya kalau tuan Satria nggak nikah nikah?"
"Kan dia bisa nikah sama perempuan lain, perempuan di dunia ini banyak!"
"Mas Rendra aneh bangat deh, emangnya berapa kerugian yang akan mas Rendra tanggung kalau saya terima lamaran itu? sikap mas Rendra ini seolah menunjukkan seseorang yang akan dirugikan,"
"Ini ada apa sih ribut ribut," tegur Bu Maryam yang kebetulan lewat membawa kain cucian.
__ADS_1
"Nggak tau tuh Bu, kayaknya tuan muda kurang kerjaan," ucap Diyah yang kemudian pergi meninggalkan Rendra dan Bu Maryam di sana.
"Nak Rendra kenapa? bertengkar lagi sama diyah?" tanya Bu Maryam dengan pelan.
"Bi..diyah mau nikah sama kak Satria," jawab Rendra dengan wajahnya yang tampak panik.
"Bibi udah tau kok, emangnya kenapa?"
"Ya nggak bisa dong Bi, mereka kan belum kenal dekat,"
"Kamu cemburu?" tanya bi Maryam tersenyum menatap Rendra.
"Nggak..tapi kan.."
"HM..masih bohong,"
"Saya nggak rela kalau diyah nikah Bi, bibi ngerti kan....saya baru aja menemukan sosok diyah yang bisa menjadi teman baik buat saya,"
"Iya..bibi faham, terus mau gimana lagi? apa kamu mau melamar diyah juga?" tanya Bu Maryam menawarkan solusi bagi Rendra.
"Apaan sih Bi, Rendra masih muda, belum pantas nikah, lagian sepertinya tipe diyah bukan seperti saya," Rendra tampak putus asa.
"Berarti saya tidak termasuk kriterianya kan bi?"
"Tapi kamu bisa memantaskan diri nak,"
"Maksud bibi?" tanya Rendra yang amat penasaran.
"Cobalah untuk mengubah diri mu, belajar ilmu agama, perbaiki akhlak mu, perbaiki hubungan antar keluarga, mungkin itu akan meluluhkan diyah," usul Bu Maryam
"HM.. sepertinya sulit, tapi saya akan coba Bi,"
*
Malam hari,
Rendra tampak turun dari lantai atas. Penampilannya menunjukkan kalau ia akan keluar malam ini.
__ADS_1
Kebetulan mama Sinta berpapasan dengan Rendra. "Rendra..mau kemana nak?" sapa Sinta menghentikan langkah Rendra.
"Mau keluar!" jawab Rendra singkat.
"HM..hati hati ya nak, jangan pulang terlalu larut,"
"Emangnya anda perduli?"
"Mama selalu peduli sama kamu nak, setiap hari mama berpikir bagaimana caranya supaya kamu bisa menerima mama," balas Bu Sinta sembari matanya berkaca-kaca.
"Tidak usah pedulikan saya,"
"Mana mungkin mama tidak memperdulikan kamu, kamu anak mama meski sekeras apa pun kamu membenci mama," ucap Bu Sinta pada Rendra yang berdiri membelakanginya.
"Pencitraan!" cetus Rendra tersenyum sinis.
"Nak..Jika memang kalian beranggapan kalau mama akan merebut harta papa mu, kalian salah nak, kamu lihat kan mama tidak pernah ikut campur masalah harta di keluarga ini, bahkan jika di bolehkan mama ingin kembali bekerja agar mama bisa membiayai hidup mama sendiri," ujar Bu Sinta mengklarifikasi.
"Iya sih..dia nggak pernah mengungkit atau ikut campur masalah harta," Batin Rendra yang masih terlihat dingin pada mama nya.
Rendra kemudian pergi tanpa menatap Bu Sinta di sana. Ia masih saja dingin kepada ibu tirinya itu.
Saat Rendra keluar dari pintu depan, ia terkejut melihat diyah tiba-tiba muncul dihadapannya. Ternyata diyah sedari tadi melihat sikap dingin Rendra pada mamanya.
"Diyah.." sapa Rendra melihat diyah tiba-tiba di hadapannya.
"Mas Rendra lihat sendiri kan..Tante Sinta itu nggak ada dendam sama sekali meskipun mas Rendra selalu memperlakukan dia dengan tidak baik, tapi kenapa sih sampai sekarang dendam mas Ren belum berkurang juga," tegur Diyah
"Kamu tau kan kalau dia mencelakai mama kandung saya!" tegas Rendra
"Tapi mas Ren, itu kecelakaan, dia tidak sengaja, bahkan mama kandung mas Rendra tidak dendam dan tidak marah setelah ia sekarat, tapi kenapa malah mas Rendra yang dendam berkarat sama Tante Sinta,"
Mendengar itu membuat Rendra teringat saat saat sebelum mamanya menghembuskan nafas terakhir nya.
Mama kandung Rendra sama sekali tidak menyalahkan Sinta. Justru mewasiatkan agar Sinta menikah dengan suaminya sendiri.
"Itu karena memang mama saya adalah sosok yang ikhlas dan pemaaf," jawab Rendra yang masih bisa menyangkal.
__ADS_1
"Lantas kenapa mas Rendra tidak bisa seperti itu, jika memang mas Ren sayang sama ibu sendiri..kenapa mas Ren tidak meneladani sifat baiknya," ucap Diyah membuat Rendra terdiam.
Rendra tak bisa berkutik mendengarnya. Karena memang ibu kandung Rendra adalah sosok perempuan yang pemaaf. Tak seperti Rendra yang pendendam.