Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda

Gadis Yang Meluluhkan Hati Tuan Muda
51. Dia yang tiba-tiba muncul


__ADS_3

Malam hari,,


Diyah melamun di jendela kamarnya. Ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap langit yang begitu kelabu malam ini. Mungkin karena cuacanya mendung.


Mardiyah memeluk foto sang ibu seraya merenungkan masa masa indahnya bersama sang ibu. Sebenarnya hatinya sangat lelah berjuang sendiri tanpa siapapun. Hidup serasa sepi.


"Ibu jangan khawatir, diyah bisa melakukan apapun sendiri," batin Diyah sedang air matanya menetes.


Kini ia bebas untuk menangis karena tak ada siapapun di sana. Padahal dulu ia tak pernah bisa menangis meski ia ingin menangis. Semua itu karena ia tak ingin melihat sang ibu ikut sedih.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Sebagai anak gadis yang tinggal sendirian tentu diyah harus serba hati hati.


Perlahan diyah membuka pintu itu. Ternyata yang datang adalah Ira, sahabat Diyah di kampung ini.


"Ira," Diyah amat terharu dengan kedatangan Ira malam itu.


"Kenapa kamu nggak kasih kabar? bahkan kamu nggak ngabarin aku kalau kamu udah pulang," ujar Ira sembari memeluk Diyah.


"Maafin aku Ra, dari awal aku nggak mau merepotkan kamu,"


"Jangan bodoh deh, kita itu udah kayak keluarga, kenapa kamu malah menghadapi semuanya sendirian, kamu anggap aku apa?" balas Ira yang amat khawatir dengan Diyah yang pergi ke kota tanpa memberi kabar setelah sebulan meninggalnya ibu kandung Mardiyah.


Setelah bertemu Ira, barulah Diyah bisa mengungkapkan seluruh rasa sakit yang ia pendam karena semua kenyataan yang menimpanya. Rasanya hidup diyah begitu sulit semenjak kecil. Mulai dari ditinggal pergi ayahnya, sampai ibunya yang baru beberapa bulan meninggal dunia.


Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Diyah menangis di pelukan sahabatnya itu.


"Tuh kan..ini yang kamu pendam selama ini, dulu kamu nggak pernah nangis dalam keadaan sesakit apa pun, sekarang aku tau gimana rasanya jadi kamu, tapi kamu tenang ya, ada aku di sini, kita lebih dekat dari pada hubungan keluarga, kamu jangan merasa sendiri," ucap Ira menyemangati Diyah.


Diyah sebenarnya bukan hanya menangisi dirinya yang sudah tak punya siapa siapa. Tapi juga menangisi seluruh hal yang ia alami selama bekerja di rumah Rendra.


"Udah nangis nangis nya, sekarang kamu harus bahagia dalam keadaan apapun," Ira pun mengelap air mata Diyah.


Barulah keduanya bisa mengobrol leluasa.

__ADS_1


"Selama ini kamu di kota kerja apa?" tanya Ira.


"Aku jadi ART di tempat Bu Maryam kerja,"


"Terus..kenapa kamu berhenti?"


"Aku pengen pulang aja sih, pengen cari kerja yang lain,"


"Masa cuma gara gara itu? apa ada yang jahat sama kamu di sana?"


"Ngga Ra, kamu tau nggak, di sana aku tuh ketemu saudara kandung ayah aku, namanya Tante Sinta,"


"Beneran? terus dia biarin kamu pergi gitu aja? pasti dia juga sama kurang ajarnya dengan papa kamu kan?"


"Nggak...kamu apaan sih, dia tuh baik tau, tapi aku yang nggak mau lama lama di sana, aku takut dikira mau numpang kaya kalau sama dia,"


"Iya sih...nggak usah dekat dekat sama keluarga papa kamu Diyah mending kita hidup apa adanya tapi bahagia, aku sih mau buka usaha tapi belum tau juga usaha apa,"


Panjang lebar keduanya mengobrol hingga tertidur pulas di kamar. Setidaknya diyah tak kesepian lagi setelah sahabatnya datang.


Pagi hari,


Diyah pun kembali bekerja di kebun kopi sedangkan Ira pulang ke rumah orangtuanya untuk meminta izin agar tinggal bersama diyah selama orangtuanya bekerja di kota.


Diyah memetik kopi di pagi hari yang begitu sejuk di perkebunan kopi. Tiba-tiba seorang perempuan desa datang memaki maki Diyah tanpa alasan yang jelas.


"Kenapa sih kamu masih pulang ke sini, kamu sengaja ya mau rebut bang Budi dari aku, ingat ya kamu tu cuma sebatang kara,"


"Apa sih Lisa, aku nggak lakuin apa apa loh,"


"Jangan pura pura polos ya, aku tau kamu rayu bang Budi, dasar perempuan sok suci!" bentak perempuan bernama Desi itu dan lancang menarik cadar Diyah.


Namun hal yang tak terduga terjadi, tiba-tiba seorang laki-laki datang membuka jaketnya dan menutupi wajah Diyah dengan jaketnya itu.

__ADS_1


Lisa gadis desa ternganga melihat wajah tampan laki laki di hadapannya yang jauh melebihi tampannya Budi anak Kades.


Mardiyah menggenggam erat jaket itu untuk menutupi wajahnya karena di sana banyak pekerja laki-laki yang juga memetik kopi. Perlahan Mardiyah mengangkat wajahnya, ia penasaran dengan laki-laki yang datang tiba tiba seolah memihak padanya.


"Mas Rendra?" terkejut, itulah yang dirasakan diyah melihat Rendra tiba-tiba ada di sana. Bagaimana mungkin dia bisa tau tempat tinggal sekaligus tempat bekerja Diyah.


"Hah, kamu kenal sama dia? jangan ngaku ngaku kenal deh, mana mungkin laki-laki seperti ini kenal sama kamu," cetus Lisa gadis desa yang selalu iri pada Diyah sejak dulu.


"Kenalin, saya Rendra, calon suami Mardiyah," ucap Rendra mengejutkan Lisa hingga ia tak bisa berkata apa apa lagi.


"Tolong ya mba, jangan ganggu calon istri saya, bisa tolong pergi sekarang?" lanjut Rendra.


Lisa terpaksa pergi dengan rasa kesal yang tidak karuan. Mengapa diyah selalu memenangkan segala hal bahkan laki laki selalu berpihak pada Diyah hingga Lisa sangat membencinya.


Diyah masih menunduk setelah ia memasang kembali cadarnya. Rendra menatap haru wajah diyah, ingin memeluk tapi sadar diri bukan mahramnya.


"Kenapa kamu pergi tanpa sepatah kata pun diyah? aku cari kamu kemana mana, untungnya aku bisa tau alamat kamu di kampung ini," ucap Rendra dengan serius menatap Diyah.


"Dari mana Mas Rendra tau alamat saya?"


"Aku akan lakuin apa pun untuk dapat alamat kamu, sekarang kamu jujur, siapa yang nyuruh kamu pergi? Elia?"


"Saya pergi karena saya sadar kalau saya sudah banyak menyusahkan keluarga pak Arif," balas Diyah


"Siapa yang kamu susahkan? saya justru sangat butuh kamu diyah, saya udah bilang kalau saya siap menunggu kapan pun kamu akan menjawab lamaran saya, tapi kamu tidak perlu lari,"


"Udahlah mas Rendra, tolong pergi, biarkan saya hidup dengan tenang, saya lebih suka tinggal di sini,"


"Oke..kalau kamu suka tinggal di sini kita bisa tinggal di sini setelah menikah, saya akan buat usaha sendiri di sini,"


"Nggak..nggak gitu maksud saya, maksud saya..kita tidak bisa bersatu mas Ren,"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak ingin bernasib sama seperti Tante Sinta yang hidup di tengah keluarga kaya, tapi hatinya tak bahagia," jelas Diyah sejelas-jelasnya. Rendra terdiam sejenak karena sadar diri ia telah banyak menyakiti hati mama tirinya.


__ADS_2