
Elia dan Rendra duduk di kursi sederhana ruang tamu Diyah. Meski tak tau apa apa, tapi diyah tetap memperlakukan tamu dengan baik. Ia menuangkan teh untuk Elia dan Rendra.
"Jadi begini Diyah, mungkin kamu akan terkejut, aku minta tolong sama kamu agar Elia tinggal di sini untuk sementara waktu," pinta Rendra
Diyah semakin tak mengerti. Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini. Bahkan sebelumnya Elia yang mengusirnya pergi.
"Boleh kok mas Ren, tapi mba Elia emangnya bisa tinggal di rumah sederhana ini, di sini sangat jauh berbeda dengan di kota mba," balas Diyah
"Ya nggak pa pa, bilang aja kalau kamu nggak menerima aku di sini," kata Elia, ia terlalu gengsi untuk berbicara banyak.
"Sebenarnya begini diyah.." Rendra menceritakan panjang lebar tentang Elia yang di usir dari rumah karena ia hamil.
Diyah mengerti seperti apa keadaan yang menimpa Rendra. Hingga ia pun dengan lapang dada menerima Elia tinggal di rumah ini.
__ADS_1
"Ya udah, nggak pa pa kalau mba Elia mau tinggal di sini, jangan khawatir mba, di sini aman, aku akan jaga mba Elia beserta kandungannya di sini," ucap Diyah dengan ramah, ia bahkan tak bertanya banyak tentang kehamilan Elia karena takut akan menyinggungnya. Diyah bersikap seolah semuanya baik baik saja baginya.
"Makasih ya Diyah, sebenarnya aku udah tau kalau kamu akan sebaik ini menerima Elia, tapi lagi lagi aku harus kagum sama kamu, sikap kamu seperti bidadari," ucap Rendra yang masih menyempatkan diri untuk memuji di tengah suasana yang canggung ini.
"Udah mas Rendra, ini bukan saat yang tepat untuk mengucapkan kata kata keramat mu itu," balas diyah sedikit tersenyum agar suasana tidak begitu canggung.
Elia bahkan malu untuk berbicara sepatah pun di hadapan Diyah.
"Apaan sih diyah, aku kan cuma ngomong apa adanya, oh ya, maaf ya udah ngerepotin kamu, aku yakin cuma kamu yang bisa menjaga Elia untuk saat ini, dengan kondisinya yang seperti ini, aku takut dia direndahkan orang orang yang kenal sama dia, tapi di sisi lain aku juga nggak mau kalau Elia menggugurkan kandungannya," kata Rendra yang amat memikirkan adiknya.
"Makasih Diyah, aku nggak tau lagi harus berkata apa sama kamu," ucap Rendra yang lagi lagi bertambah cintanya pada Diyah karena diyah begitu ikhlas menerima Elia di rumah itu.
"Iya sama-sama, tapi mas Rendra nggak akan di sini sampe malam kan? ini udah mulai sore loh, mendingan mas Rendra pulang aja, bukan ngusir, tapi nggak baik kalau aku punya tamu laki-laki di malam hari,"
__ADS_1
"Iya..tau kok, aku faham soal itu, aku emang mau pergi kok, kalau gitu aku pamit ya,"
Diyah mengantar Rendra hingga ke depan rumah. Rasanya berat bagi Rendra untuk pergi. Namun ia tak bisa ber lama lama karena diyah pasti akan mengusirnya lagi.
"Sampai ketemu nanti ya, nanti kita ketemu di hadapan penghulu," ucap Rendra yang berjalan mundur sembari melambaikan tangannya.
"Minimal hafal dulu surah Ar Rahman mas, jangan mimpi ketinggian," ucap Diyah sedikit bercanda.
"Tenang aja, aku akan belajar agama lebih dalam, aku pergi ya.. assalamualaikum," ucap Rendra dan kali ini ia benar benar pergi.
"Waalaikumussalam.." balas Diyah melambaikan tangannya menatap langkah kaki Rendra yang semakin jauh.
Diyah kemudian masuk ke dalam rumah. Ia menemui Elia yang duduk malu di sana.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih baik sama aku? Kamu pasti jijik kan sama aku, udah deh ngaku aja, tadi kamu cuma pencitraan di hadapan kak Rendra kan?" tanya Elia dengan sinis, ia tak tau lagi harus berkata apa karena malu di hadapan Diyah.
Diyah tersenyum, dengan wajah ramah ia menjawab, "Mba Lia, aku nggak pernah benci sama kamu, aku tau kok..kemarin kamu ngusir aku karena kamu terlalu sayang sama kakak kamu, dan aku nggak jijik sama sekali, kita sama sama pendosa kok, sangat tidak tau diri kalau aku merendahkan kamu, apa pun masa lalu kamu aku nggak perduli kok," ucap Diyah dengan lembutnya.